Pagi hari, aku menyusun ulang draf berdasarkan koreksi ibu Dimas. Beberapa paragraf hilang, beberapa adegan menjadi lebih sederhana. Aku membiarkan nama Dimas tetap ada pada satu bagian, sesuai izin beliau, tetapi aku tidak menambahkan nama lengkap di setiap halaman. Aku menulis di halaman sampul bahwa ini masih draf pribadi dan belum boleh dibagikan.
Aku lalu menemui ibu Dimas untuk memastikan ia ingin aku menyimpan salinan atau menghapusnya setelah dibaca. Ia memilih aku menyimpan satu salinan, tetapi meminta draf lengkap diperlihatkan lagi sebelum dibagikan kepada siapa pun. Ia juga ingin bisa menarik izin bila berubah pikiran.
"Aku setuju," kataku. "Kalau Ibu berubah pikiran, bagian itu tidak akan dipakai."
Beliau bertanya apakah aku akan memasukkan kisah surat. Aku menjawab tidak untuk sekarang. Aku tidak akan menyebut isinya atau menjadikan surat tersebut sebagai jawaban atas kematian Dimas.
"Bagus," katanya. "Aku ingin orang ingat dia pernah hidup. Tapi aku belum siap surat itu dibaca orang lain."
Kami membicarakan hal-hal kecil yang mungkin boleh masuk: Dimas membantu memperbaiki rak, menggoda Pak Ujang, menaruh helm sembarangan, dan menyisakan uang receh di mangkuk dekat pintu. Ibu Dimas tertawa ketika mengingat ia selalu lupa mengambil uang kembalian. Tawa itu singkat, lalu berubah menjadi diam. Aku tidak menyuruhnya meneruskan cerita.
Saat hendak pulang, beliau memberiku sepotong kertas berisi beberapa tanggal kerja Dimas yang masih ia ingat. Ia berkata itu membantu membetulkan urutan di draf, tetapi aku tak perlu mencatat alamat pelanggan atau nama orang yang mengirim paket. Aku menulis tanggalnya dan mengembalikan kertas. Beliau memasukkannya lagi ke map.
Aku mampir ke warung Pak Ujang untuk menunjukkan paragraf baru. Ia membaca dan mengoreksi satu kalimat tentang jumlah gelas kopi. Aku mengubahnya. Ia tidak meminta disebut namanya dan aku tak menuliskan identitasnya. Setelah itu kami membicarakan pesanan papan kecil di depan warung. Ia mungkin ingin mengganti tulisan yang mulai pudar, tetapi belum menentukan anggarannya.
"Kalau nanti jadi, kita hitung dulu," kataku.
"Bagus. Jangan kasih harga teman sampai kamu rugi sendiri."
Aku tertawa. "Saya belajar dari Bapak."
Sore hari, aku menyelesaikan papan kios. Pemiliknya datang memeriksa hasil dan membayar sisa biaya. Ia puas, lalu menyebut seorang kenalannya mungkin membutuhkan mural. Aku meminta nomornya dikirim setelah mendapat izin orang itu. Aku tak ingin mengambil kontak seseorang tanpa persetujuan, meski hanya untuk urusan pekerjaan.
Di rumah, ayah memperlihatkan rak kecil yang dibuatnya dari sisa kayu. Ibu meletakkan beberapa buku di atasnya. Aku bertanya apakah boleh menulis soal rak itu. Ayah menjawab kalau aku tidak menyebut nama tetangga atau jumlah upah. Aku mencatat batas itu dan menunjukkan kembali sebelum menyimpan buku.
Nara menelepon menjelang malam. Ia bertanya apakah aku berhasil menulis sesuatu. Aku menjelaskan bahwa ibu Dimas membaca dan mengoreksi draf, dan beberapa bagian harus kuhapus. Nara bertanya apakah aku kecewa.
"Sedikit. Tapi lebih baik begitu daripada aku mengarang."
"Apakah kamu akan menerbitkan?"
"Belum tahu. Draf ini mungkin hanya untukku dan orang-orang yang setuju membacanya."
Nara berkata ia senang aku tidak mengejar penerbitan hanya demi merasa berhasil. Ia belum memberi kabar tentang keputusan keluarga. Ia dan ayahnya sedang menyusun berkas yang belum cocok, dan ia menunggu omnya selesai membandingkan catatan. Ia tidak meminta pendapatku. Aku tidak memberi nasihat.
"Kita sudah lama bicara hari ini," katanya. "Aku mau berhenti dulu."
"Tentu. Selamat istirahat."
Setelah telepon, aku menulis catatan tentang izin: ibu Dimas membolehkan satu bagian kenangan, tetapi bukan surat atau rincian akhir. Aku tak menganggap izin itu berlaku untuk semua bentuk penerbitan. Jika nanti ada rencana membagikan naskah, aku harus kembali bertanya.
Aku meletakkan draf dalam map terpisah dari surat asli. Di sampulnya kutulis "untuk dibaca lagi", bukan "novel". Aku belum tahu bentuk akhirnya. Tapi aku tahu apa yang tidak boleh kulakukan: memakai duka orang lain sebagai jalan pintas menuju cerita yang terasa kuat.
Di luar, Majalaya kembali dipenuhi suara motor dan pedagang malam. Aku menutup jendela dan menyiapkan pakaian kerja untuk besok. Dimas tetap meninggalkan ruang kosong. Namun ketika aku mengingatnya, aku mulai bisa melihat lebih dari satu sore terakhir dan lebih dari satu surat. Ada tawa, keluhan, kopi, dan kebiasaan-kebiasaan kecil yang hanya berarti karena ia pernah ada.
Di meja, aku membuat dua kolom: kejadian yang benar-benar kuingat dan hal yang hanya kuduga. Kolom kedua ternyata lebih panjang. Aku tak menghapusnya dari hidupku, tetapi menghapusnya dari draf. Aku membaca naskah dari awal dan menemukan kalimat yang membuat Dimas terdengar seolah tak pernah berbuat salah. Kucoret lagi. Ada juga kalimat yang terlalu banyak menjelaskan kemiskinan sampai ia hanya menjadi contoh masalah sosial. Aku mengubahnya menjadi adegan tentang upah kurir dan kopi yang ia pesan.
Aku mengirim pesan kepada ibu Dimas untuk bertanya kapan ia bersedia membaca ulang. Ia menjawab pekan depan, setelah mencoba jualan kecilnya. Aku tidak mendesak. Naskahku bisa menunggu; hari-harinya tidak harus mengikuti jadwal menulisku.
Di rumah, ayah bertanya apakah aku sudah selesai. Aku menjawab belum dan mungkin tidak akan selesai secepat yang kupikirkan. Ia berkata kalau menulis membuatku lebih hati-hati, berarti aku memang perlu waktu. Aku menaruh buku di laci sebelum tidur. Kali ini aku tidak membawa surat Dimas keluar dari tempatnya.
Ibu Dimas membaca dua halaman yang telah kubersihkan, lalu berkata satu bagian tentang Dimas di warung terasa tepat. Bagian lain masih terlalu banyak berbicara tentang kesedihanku. Aku meminta ia menunjukkan kalimat yang paling mengganggu. Ia menunjuk satu baris dan menyarankan aku menjelaskan apa yang benar-benar dilakukan Dimas, bukan apa arti perbuatannya bagi semua orang. Aku menerima catatannya.
Pak Ujang menyimpan salinan lain dalam amplop tertutup hanya setelah aku dan ibu Dimas menyetujuinya. Tidak ada orang lain yang boleh membaca tanpa izin. Aku sendiri menyimpan naskah di rumah, terpisah dari surat. Itu bukan pengamanan sempurna, tetapi langkah yang kami sepakati.