Kami membuat jadwal bicara sebelum pekan kedua dimulai. Bukan jadwal yang kaku, hanya satu malam ketika aku biasanya tidak mengecat dan satu waktu siang saat Nara selesai membantu omnya. Jika pekerjaan berubah, kami saling memberi tahu. Kesepakatan itu terasa sederhana, tetapi mengurangi kebiasaan menatap ponsel dan menebak-nebak.
Panggilan pertama kami berlangsung pada malam Kamis. Aku duduk di teras setelah makan, sementara ayah menonton televisi di ruang depan. Nara terdengar dari kamar yang ia gunakan di rumah ayahnya. Ia berkata hari itu tidak ada kabar baru soal berkas. Kami tidak mengisi percakapan dengan pertanyaan yang sama. Ia bercerita bahwa omnya mengajarinya membuat daftar dokumen yang telah ditemukan dan yang masih perlu diminta.
"Aku baru sadar banyak hal disimpan di tempat berbeda," katanya.
"Di rumahku juga. Struk belanja bisa ditemukan di dalam buku resep."
"Itu karena ibumu sengaja menyimpan?"
"Mungkin. Atau karena buku resepnya dekat meja makan."
Ia tertawa. Lalu bertanya apakah pekerjaanku lancar. Aku menceritakan rencana papan kios dan mural sekolah. Ia mendengarkan dan bertanya bagaimana aku menentukan harga. Aku menjelaskan biaya bahan, waktu, dan ongkos perjalanan. Nara berkata ia dulu jarang memikirkan hal itu karena selalu ada orang lain yang mengurus administrasi rumah.
"Aku belajar dari awal," katanya. "Mungkin itu yang membuatku merasa seperti anak kecil lagi."
"Kamu boleh belajar tanpa harus malu."
Ia diam sebentar. "Aku tahu. Tapi kadang aku ingin sudah tahu semua."
Aku memahami keinginan itu. Aku juga ingin sudah mapan, sudah menulis buku, sudah bisa membantu rumah tanpa menghitung receh. Namun kehidupan tidak menyediakan pintu masuk yang membuat kita langsung ahli.
"Aku juga begitu," kataku. "Tapi aku masih belajar cara menagih sisa pembayaran tanpa merasa bersalah."
"Kalau pekerjaan sudah dilakukan, kamu berhak menanyakan bayaran."
"Harusnya begitu. Perasaanku belum ikut belajar."
Kami tertawa lagi. Setelah itu Nara bertanya apakah aku menulis tentang Dimas. Aku menjelaskan bahwa ibu Dimas membaca draf dan meminta beberapa hal dihapus. Ia bertanya apakah aku merasa keberatan. Aku menjawab tidak; aku ingin tulisan itu bisa diterima oleh orang yang mengenal Dimas, bukan hanya terdengar kuat bagi pembaca yang tak mengenalnya.
"Kalau kamu menulis tentang aku?" tanyanya.
"Aku akan tanya dulu."
"Jangan menulis jawaban yang belum kuberi."
"Aku tidak akan."
Ia berkata ia senang mendengar itu. Aku menangkap bahwa percakapan kami menyentuh hal yang lebih besar daripada draf: ia tidak ingin menjadi tokoh yang perasaannya ditentukan oleh narator. Aku juga tidak ingin mengubah rasa sukaku menjadi alasan untuk menulis akhir yang ia belum pilih.
Sebelum panggilan berakhir, kami menentukan bahwa minggu depan kami bisa bicara lagi pada hari yang sama jika jadwalnya cocok. Nara tak meminta aku menelepon saat ia bersama ayah. Aku berjanji menghormatinya. Ia mengucapkan selamat malam.
Aku masuk ke rumah dan melihat ibu sedang merapikan buku belanja. Ia bertanya apakah aku sudah selesai bicara. Aku menjawab iya. Ia berkata bagus, lalu memintaku memeriksa pintu belakang. Aku melakukannya dan kembali ke kamar. Malam itu aku tidak menunggu pesan lanjutan.
Sebelum malam, aku mengecek kembali rancangan papan yang akan mulai kukerjakan. Pelanggan meminta huruf lebih besar, tetapi ukuran kayu tidak berubah. Aku menulis dua pilihan harga dan mengirim foto contoh. Ia memilih pilihan yang sederhana. Keputusan itu membuatku harus menggambar ulang, tetapi setidaknya kami sepakat sebelum cat dibuka.
Ibu bertanya apakah Nara sudah menelepon. Aku menjawab sudah, kami telah bicara soal jadwal. Ibu berkata ia senang aku memberi kabar tanpa meninggalkan pekerjaan. Lalu ia mengingatkanku untuk membeli beras setelah mengambil uang muka. Aku mencatatnya agar tidak lupa.
Di warung, Pak Ujang mengeluh atap seng kembali bocor. Aku menawarkan memperbaikinya saat pesanan papan selesai, tetapi ia langsung bertanya berapa upahnya. Aku menyebut harga bahan dan waktu. Ia menawar sedikit, lalu kami sepakat setelah ia melihat hasil kerja. Tidak ada rasa malu di antara kami. Pak Ujang tahu membayar pekerja kecil berarti menghargai waktunya.
Pulang dari warung, aku menulis satu kalimat tentang percakapan kami. Aku sadar menulis tidak harus menunggu kesedihan datang. Hidup biasa pun punya bentuk: orang bertanya, orang menjawab, harga dinegosiasikan, rumah tetap berjalan. Aku menutup buku sebelum kalimat itu berubah menjadi nasihat yang tak diminta.
Pada panggilan berikutnya, Nara bercerita bahwa ia menulis daftar hal yang ingin ditanyakan kepada ayahnya. Ia belum mengirimkannya. Ia hanya ingin melihat apakah pertanyaannya tetap sama setelah tidur. Aku memahami kebiasaan itu. Kadang kecemasan membuat semuanya terdengar mendesak, padahal sebagian bisa menunggu sampai pagi.
"Aku takut kalau diam satu hari, semuanya diputuskan tanpa aku," katanya.
"Kamu sudah bilang belum menyetujui. Kalau ada yang mengubah itu tanpa persetujuanmu, kamu bisa mengulang batasnya."
"Aku tahu. Tapi aku tidak ingin bertengkar setiap hari."
Kami menyepakati ia akan memberi kabar ketika ada keputusan atau percakapan penting, bukan setiap kali ayah mengulang pertanyaan yang sama. Aku juga berjanji tidak mengirim pesan lanjutan jika ia belum membalas. Kami tidak menyebutnya aturan hubungan; itu cara menghormati waktu dan tenaga masing-masing.
Pagi berikutnya, aku mengantar ayah membeli bahan pagar. Kami berhenti sebentar di warung sebelum toko buka. Ayah bertanya mengapa aku sering menunggu kabar Nara, lalu mengoreksi dirinya sendiri: ia tahu aku tidak bisa menjawab untuk Nara. Aku berkata aku berusaha menjalani hariku sambil tetap peduli.
"Jangan sampai rasa peduli berubah jadi pengawasan," katanya.
"Aku tahu."
"Kamu bisa bertanya kabar. Tapi dia tetap boleh sibuk."
Aku mengangguk. Nasihat itu datang dari orang yang dulu jarang memberi kabar tentang perasaannya sendiri. Mungkin ia mengerti dari pengalaman bagaimana diam bisa membuat orang lain mengira-ngira. Saat sampai rumah, ia menyimpan bahan dan mencatat harganya. Aku kembali ke mural dengan pikiran lebih tenang.
Kami menyimpan nota yang masih terbaca.