Jumat siang aku menerima pesan dari Nara bahwa ayahnya kembali menanyakan apakah ia masih menganggap perjodohan itu sebagai pilihan. Ia tidak ingin menjawab lewat pesan singkat. Aku membaca kalimatnya dan merasakan dorongan untuk menelepon segera. Namun kami sudah sepakat memberi kabar bila ingin bicara. Aku bertanya, "Kamu ingin telepon sekarang atau nanti malam?"
Ia menjawab, "Nanti malam. Aku mau menyelesaikan urusan salinan dulu."
Aku membalas singkat dan kembali mengecat papan pesanan. Pemilik kios datang menanyakan apakah warna latar bisa lebih gelap. Aku menunjukkan contoh di papan kecil dan menyebut tambahan waktu serta biaya. Ia memilih tetap dengan warna awal. Kami menghindari perubahan yang tak perlu dan aku melanjutkan kerja.
Malamnya Nara menelepon sesuai kesepakatan. Ia duduk di ruang yang sepi, katanya, dan sudah makan. Aku bertanya apakah ia ingin menceritakan pertanyaan ayahnya.
"Iya. Aku mau jawab ke kamu juga supaya aku dengar sendiri apa yang sebenarnya kupikirkan."
Aku menunggu.
"Aku tidak ingin perjodohan itu. Aku tidak pernah merasa memilihnya. Aku tahu ayah menganggapnya jalan keluar, tapi aku tidak mau menikah untuk menyelesaikan utang usaha."
Aku menarik napas. Jawabannya jelas, tetapi bukan jawaban tentang kami.
"Aku dengar," kataku.
"Dan aku nggak minta kamu mengambil alih. Jangan merasa kamu harus membayar utang ayahku atau membuktikan kamu sayang dengan membantu semua urusan."
"Aku tidak mampu membayar, dan aku tidak mau menawarkan sesuatu yang bukan hakku."
Nara terdengar lega. "Aku cuma takut kalau aku menolak, nanti orang-orang bilang aku meninggalkan keluarga."
"Kamu tetap membantu mengumpulkan dokumen. Itu berbeda dari menikah."
"Iya. Aku ingin Ayah mengerti itu."
Kami membicarakan apa yang akan ia katakan saat ditanya lagi. Ia ingin menyampaikan bahwa ia bersedia ikut mencari informasi dan membahas pilihan yang realistis, tetapi keputusan menikah tidak dapat dipakai sebagai pengganti perhitungan utang. Aku bertanya apakah ia ingin aku mendengarkan atau membantu menyusun kalimat. Ia memilih hanya didengarkan.
Aku membiarkan jeda. Nara mengulang jawabannya pelan, seolah memastikan tidak ada kata yang ia ucapkan hanya demi mengurangi rasa takut. Aku tidak memotongnya.
"Apakah kamu kecewa?" tanyanya setelah lama diam.
"Karena kamu tidak ingin perjodohan itu?"
"Karena aku belum tahu hidupku akan seperti apa."
Aku mencari jawaban yang jujur. "Aku ingin dekat denganmu. Tapi aku tidak ingin kamu memilih sesuatu demi membuatku bahagia. Aku juga belum tahu bagaimana mengubah perasaan ini menjadi keputusan yang baik."
Nara tidak menjawab langsung. "Aku senang kamu tidak meminta aku membalas sesuatu sekarang."
"Aku tidak ingin kamu punya utang perasaan padaku."
"Utang satu-satunya sudah cukup banyak."
Kami tertawa kecil, lalu kembali diam. Aku merasa lega sekaligus sedih. Perasaan yang kuakui pada diriku sendiri tidak otomatis menjadi hubungan. Tetapi kejelasan Nara membuatku berhenti menggantungkan harapan pada perjodohan sebagai saingan yang bisa hilang, seolah setelah itu ia pasti menjadi milikku.
Panggilan berakhir ketika Nara mendengar omnya memanggil. Ia berkata akan mengirim kabar jika ada perubahan, tetapi mungkin tidak akan sering membalas. Aku menjawab aku paham dan akan mengirim jadwal kerja bila berubah. Kami berpisah lewat telepon tanpa janji lebih besar daripada yang sanggup kami jaga.
Aku menyimpan ponsel dan menyelesaikan draf harga untuk pesanan berikutnya. Hati bisa cemas, tetapi angka tetap perlu dihitung.
Setelah telepon, aku mengecek catatan pembayaran dan mengirim pengingat sopan kepada pelanggan yang masih menunggak. Dulu aku takut ditolak bila menanyakan upah. Kali ini ia membalas bahwa pembayaran akan ditransfer esok. Aku mencatat tanggalnya dan kembali membantu ayah merapikan alat pagar.
Ayah bertanya apakah Nara memintaku menunggu. Aku berkata tidak. Ia menanyakan apakah aku berharap sesuatu tetap terjadi. Aku menjawab tentu ada harapan, tapi itu tidak sama dengan janji.
"Kalau kamu berharap, kamu juga harus siap kalau jawabannya berbeda," katanya.
Aku bertanya apakah ia pernah mengalami hal serupa. Ia tertawa dan berkata ia pernah berharap pabrik membuka lini lagi setelah ditutup sementara, tetapi lama-lama ia harus menerima bahwa harapan itu belum tentu rencana. Ia tidak sedang membandingkan cinta dengan pekerjaan; ia hanya tahu rasanya menggantungkan hidup pada sesuatu di luar kendali.
Ibu mendengar dari dapur dan berkata harapan boleh ada selama tagihan tetap dibayar. Ayah tertawa. Aku ikut tertawa, lalu membantu menyusun paku dan palu. Rumah kami tidak menyelesaikan pertanyaan tentang Nara, tetapi percakapan keluarga membuatku kembali ke hal-hal yang dapat kukerjakan.
Malamnya aku kembali melihat halaman buku Dimas. Aku mencoba menulis tentang bagaimana aku takut kehilangan Nara sebelum hubungan kami memiliki nama. Aku berhenti setelah beberapa baris, sebab itu hanya perasaan yang kubawa sendiri. Aku tidak ingin mengubah ketakutan itu menjadi beban yang harus ia tanggung.
Ibu bertanya kenapa aku menutup buku begitu cepat. Aku menjawab belum tahu cara menuliskannya. Ia berkata aku boleh membiarkan halaman kosong. Tidak semua hal harus selesai malam itu. Aku meletakkan pena dan membantu ayah memindahkan kayu ke gudang. Sesudah itu kami minum teh bersama. Perasaan yang belum terjawab tetap ada, tetapi pekerjaan rumah memberiku tempat untuk berdiri.
Hari Minggu aku membantu ibu menyusun ulang lemari dapur. Ia menemukan buku belanja lama dan beberapa nota yang sudah pudar. Kami memilih mana yang masih perlu disimpan. Ibu berkata selama ini ia menyimpan kertas karena takut lupa berapa banyak yang pernah kami habiskan. Aku tidak menganggap itu berlebihan. Aku menulis tanggal pada nota terbaru agar kami mudah mencari.
Sambil bekerja, ibu bertanya apakah aku sudah tahu perasaan Nara. Aku menjawab aku tahu ia tidak ingin perjodohan, tetapi belum tahu bagaimana ia melihat hubungan kami. Ibu berkata itu jawaban yang cukup untuk saat ini. Ia tidak menyuruhku menunggu atau mencari orang lain. Ia hanya mengingatkan supaya aku tidak mengubah kata "belum tahu" menjadi janji yang tidak pernah diucapkan.
Aku mengirimkan kuitansi kepada pelanggan dan mencatat tanggal pelunasan.