Sabtu sore aku membantu ibu Dimas menyiapkan jualan percobaannya. Ia sudah memutuskan membuat jumlah kecil dan menitipkannya di warung Pak Ujang selama beberapa jam. Aku hanya membantu membawa bahan dari rumah ke warung. Ia mengatur sendiri tempat, jumlah, dan harga. Pak Ujang menyediakan satu nampan, lalu bertanya apakah beliau ingin menaruh tanda harga. Ibu Dimas menulisnya sendiri dengan spidol.
"Kalau tidak habis, aku bawa pulang," katanya.
"Itu rencananya," jawab Pak Ujang. "Tidak perlu membuatnya jadi ujian."
Beliau menata makanan ringan perlahan. Beberapa pelanggan membeli, beberapa hanya bertanya. Tak semua orang membeli. Ibu Dimas tidak tampak kecewa; ia mencatat jumlah yang terjual dan biaya bahan di buku kecil. Aku duduk di ujung warung, menjaga agar tidak terlalu dekat atau mengambil alih percakapan.
Pak Ujang bertanya apakah ia ingin bantuan menawarkan kepada pelanggan. Ia meminta beliau membiarkannya mencoba sendiri. Pak Ujang mengangguk. Saat seorang pelanggan bertanya bahan apa yang dipakai, ibu Dimas menjawab langsung. Ia tampak gugup pada awalnya, lalu lebih tenang.
Aku mengingat Dimas, tetapi tidak menyebutnya. Hari itu milik ibunya dan pilihan barunya. Ia tidak perlu menjalankan usaha untuk memenuhi permintaan anaknya atau membuktikan bahwa ia pulih. Ia mencoba karena ingin tahu apakah ia masih menikmati membuat makanan.
Ketika waktu penitipan selesai, beberapa bungkus tersisa. Ibu Dimas membawanya pulang untuk keluarga. Ia menghitung uang hasil jualan dan memisahkannya dari modal. Aku bertanya apakah ia ingin kubantu menuliskan jumlah. Ia menunjukkan buku kecilnya: semuanya sudah dicatat.
"Besok aku mau lihat apakah aku ingin mencoba lagi," katanya.
"Baik."
"Jangan bilang ini berhasil atau gagal dulu."
"Aku tidak akan."
Kami mengantar sisa makanan ke rumah. Dalam perjalanan ia berkata suara warung mengingatkannya pada masa ketika Dimas sering mampir. Ia tak ingin berpura-pura bahwa jualan membuatnya tidak sedih. Aku menjawab ia tidak perlu memilih antara melakukan sesuatu dan merindukan anaknya.
Malamnya aku duduk bersama orang tuaku. Ayah mengeluh pinggangnya pegal setelah pekerjaan pagar, lalu ibu menyuruhnya beristirahat sebelum menerima pekerjaan lain. Ayah berkata ia akan mempertimbangkan. Mereka bicara tentang kebutuhan rumah minggu depan dan berapa uang yang masih tersedia. Aku ikut menyebut upah papan yang belum diterima penuh. Kami menyesuaikan belanja sesuai angka yang nyata.
Ibu bertanya apakah aku berharap Nara segera kembali. Aku menjawab aku merindukannya, tapi tak tahu kapan ia pulang. Ibu berkata itu boleh saja. Yang penting aku tidak mengubah kerinduan menjadi alasan untuk berhenti bekerja atau menuntut jawaban.
Aku kembali ke buku hitam. Kali ini aku menulis tentang ibu Dimas menulis harga dengan spidol dan mencatat hasil jualannya. Aku bertanya pada beliau lewat pesan apakah kenangan itu boleh masuk catatan. Ia menjawab boleh untuk draf pribadi, tetapi tetap ingin membaca sebelum dibagikan. Aku menandai batasnya.
Ketika jualan selesai, ibu Dimas menghitung hasilnya dan menyadari sebagian bahan belum tertutup. Ia tidak menyebut percobaan itu gagal. Ia ingin mengurangi jumlah produksi jika mencoba lagi. Pak Ujang menawarkan tempat penitipan hanya untuk beberapa jam, bukan sepanjang hari. Beliau setuju. Ia tidak ingin makanan tersisa terlalu banyak.
Aku bertanya apakah ia ingin mencatat pengeluaran dalam buku yang sama dengan catatan rumah. Ia memilih buku kecil terpisah agar tidak bercampur dengan dokumen tagihan. Aku membantu membuat kolom tanggal, bahan, jumlah terjual, dan sisa. Ia mengisi sendiri angka yang diketahui. Ada satu biaya yang tak ia ingat; kami membiarkannya kosong sampai ia memeriksa kuitansi.
"Ini lebih jelas," katanya.
"Kalau salah, bisa diperbaiki."
Beliau mengangguk dan menyimpan bukunya di laci yang sama dengan resep. Ia tidak memintaku mengurus jualan selanjutnya. Aku juga tidak menawarkan diri mengambil alih. Sebelum pulang, beliau bertanya apakah aku bisa datang pekan depan untuk membaca draf baru. Aku berkata bisa jika jadwal kerja memungkinkan, lalu kami menentukan waktu yang cocok.
Di rumah, aku menghapus satu paragraf tentang jualan dari naskah pribadi. Aku belum meminta izin menulis percobaan hari itu. Aku hanya menyimpan catatan pengeluaran yang memang disepakati untuk membantunya. Keduanya bukan hal yang sama.
Sebelum pulang, ibu Dimas meminta aku melihat apakah daftar biayanya terbaca. Aku membacakan angka tanpa mengubahnya, lalu ia memperbaiki satu jumlah yang salah tulis. Ia menyimpan buku itu bersama resep, sedangkan surat penagihan tetap di map lain. Pemisahan tersebut membuatnya merasa masalahnya tidak menelan seluruh rumah.
"Kalau nanti aku memutuskan berhenti jualan, bukan berarti aku kembali ke awal," katanya.
"Betul."
Beliau menatap nampan yang sudah kosong. "Aku hanya mencoba sesuatu."
Aku tidak menambahkan kata-kata penyemangat. Ia sudah menemukan kalimatnya sendiri. Aku berpamitan dan pulang, membawa tas kerja yang harus kusiapkan untuk esok pagi.
Aku mengirim pesan kepada ibu Dimas setelah pulang. Ia berkata hari itu ia menjual lebih sedikit, tetapi merasa cukup senang karena pembeli yang sama kembali membeli. Ia belum memutuskan kapan mencoba lagi. Aku menjawab bahwa ia bisa memilih waktu sendiri dan tak perlu menjadikan jumlah penjualan sebagai ukuran keberhasilan. Ia membalas bahwa ia tahu, lalu meminta aku menghapus satu catatan tentang resep yang sempat kuketik. Aku menghapusnya tanpa bertanya kenapa.
Aku sadar izin harus terus diperbarui. Persetujuan atas satu kenangan tidak berarti semua detail boleh kupakai. Aku menulis aturan itu di bagian depan map naskah, supaya tak terlupa saat cerita mulai terasa semakin milikku.
Pak Ujang kembali menanyakan pesanan kopi.
Setelah itu, beliau menyapu meja dan menghitung ulang sisa bahan. Ia tidak meminta aku mengambil buku itu. Aku menunggu di teras sampai ia selesai, lalu berpamitan. Saat berjalan pulang, aku merasa sedikit lebih ringan karena ia yang menentukan kapan percakapan berakhir.
Beliau mengucapkan terima kasih karena aku tidak menuliskan resep tanpa bertanya.
Aku melipat kain lap dan menyimpannya.
Aku memasukkan catatan ke tas kerjaku.
Aku pulang malam.