Pada hari kerja berikutnya, aku menerima pesan Nara bahwa ia akhirnya menjawab pertanyaan ayahnya dengan lebih jelas. Ia menulis: "Aku tidak ingin perjodohan ini. Aku akan tetap membantu mencari tahu keadaan usaha, tapi aku tidak mau menikah karena utang." Ia menambahkan bahwa ia sudah menyampaikannya langsung saat duduk bersama ayah dan om.
Aku membaca pesan itu sekali lagi. Aku ingin bertanya apakah ayahnya menerima, tetapi Nara belum bercerita lebih jauh. Aku menunggu sampai malam, saat waktu bicara kami yang telah disepakati.
"Ayah mendengarkan," katanya saat panggilan dimulai. "Dia tidak setuju, tapi kali ini tidak langsung bilang aku harus berubah pikiran."
"Apa yang terjadi setelah itu?"
"Om meminta kami berhenti bicara sebelum suasana makin buruk. Aku kembali ke kamar. Ayah belum tahu apa yang akan dikatakan ke keluarga rekan bisnisnya."
Nara menyatakan ia belum menolak langsung kepada pihak calon. Ia ingin menyelesaikan pembicaraan dengan ayah lebih dulu dan memahami dokumen. Ia tidak mau ada informasi yang disampaikan orang lain atas namanya. Aku mendukung pilihannya tanpa menyarankan kapan ia harus menolak.
"Kamu masih ingin aku mendengarkan?" tanyaku.
"Iya. Tapi malam ini aku tidak mau membahas perjodohan terus. Aku cuma ingin bicara tentang hal lain."
Kami bicara soal hujan yang turun di dua kota, makanan yang dibawa omnya, dan pesanan mural yang baru kuterima. Nara bertanya apakah aku akan menerima pesanan kalau jadwalnya berdekatan. Aku menjawab aku akan meminta waktu dan uang muka sebelum menyanggupi. Ia tertawa dan berkata aku terdengar seperti orang yang punya usaha.
"Aku sedang belajar jadi orang yang tidak mengerjakan semuanya gratis."
"Itu kemajuan."
Aku hampir menjawab bahwa ia yang mengajariku, tetapi urung. Aku tak ingin menjadikan setiap perubahan sebagai hadiah untuknya. Aku berubah karena hidupku sendiri membutuhkannya.
Sebelum menutup panggilan, Nara bertanya apakah aku pernah berpikir untuk pindah ke Jakarta demi mencari kerja yang lebih pasti. Aku berkata pernah, tetapi belum punya rencana. Ia tidak meminta aku pindah. Ia hanya ingin tahu apakah aku benar-benar ingin tinggal di Majalaya.
"Aku ingin menulis di sini, setidaknya sekarang. Tapi itu tidak berarti aku tak akan pernah ke mana-mana."
"Bagus. Jangan tinggal hanya karena aku."
"Aku tidak."
Ia menghela napas lega. "Aku juga tidak ingin kembali ke Majalaya hanya supaya kamu tidak merasa kehilangan."
"Kita sudah sepakat tidak memutuskan untuk satu sama lain."
"Iya."
Percakapan itu terasa seperti batas yang tidak dingin. Kami mengakui perasaan ada, tetapi tidak membiarkannya menjadi perintah. Nara akan tetap membantu keluarganya; aku akan tetap bekerja dan menulis. Jika suatu hari ada pilihan bersama, kami akan membicarakannya sebagai dua orang yang bebas menentukan jalan.
Setelah panggilan selesai, aku mengantar ayah membeli kebutuhan untuk pagar. Ia bertanya apakah Nara sudah membuat keputusan. Aku berkata ia tidak ingin perjodohan, tetapi belum bicara langsung kepada pihak calon. Ayah berkata keputusan itu miliknya dan tak perlu kuburu-buru.
Kami berhenti membeli sekrup dan cat kayu. Ayah memilih barang yang sesuai anggaran, aku mencatatnya. Di perjalanan pulang, ia bercerita bahwa ia masih punya teman lama yang sesekali menawarkan pekerjaan. Ia belum yakin akan mengambil semuanya. Ibu menunggu di rumah dengan makan malam sederhana.
Aku membuka buku hitam setelah makan. Kutulis: "Nara tidak ingin dijodohkan. Itu jawabannya tentang perjodohan, bukan jawaban untukku." Aku membaca kalimat itu dan merasa dadaku sedikit lebih lapang. Ia tidak perlu memberi kepastian cinta agar aku bisa menghormati penolakannya.
Aku menutup buku dan mematikan lampu ruang kerja. Pekerjaan esok sudah menunggu. Kami tidak mengakhiri kesedihan atau menyelesaikan urusan utang, tetapi satu pertanyaan sudah dijawab langsung. Nara tidak akan menyerahkan masa depannya sebagai pembayaran.
Aku menyimpan pesan itu tanpa membacanya berulang-ulang. Di halaman kerja, aku menyelesaikan lapisan cat terakhir dan meminta pelanggan memeriksa ukuran huruf sebelum dipasang. Ia menyetujui. Aku menagih sisa uang sesuai kuitansi. Prosesnya sederhana, tetapi aku merasakan perubahan: meminta bayaran tidak lagi terasa seperti meminta belas kasihan.
Malamnya ibu bertanya apa yang akan kulakukan jika Nara suatu hari meminta jarak. Aku tidak tahu jawabannya. Ibu berkata aku tak perlu membuat keputusan malam itu, tetapi jangan mengubah rasa suka menjadi alasan mengabaikan diriku sendiri. Aku berkata aku mengerti, lalu membantunya mencuci piring.
Ayah menyalakan radio lama yang sudah ia perbaiki. Suaranya kadang berdesis, tetapi tetap terdengar. Kami membiarkan siaran musik menemani makan malam. Aku duduk bersama mereka tanpa membuka ponsel. Beberapa jam kemudian, Nara mengirim pesan bahwa ia ingin berbicara besok. Aku menjawab bisa setelah pekerjaan selesai.
Aku tidak menganggap jawabannya sebagai kepastian tentang masa depan. Aku hanya menerima ajakan untuk berbicara esok, pada waktu yang disepakati.
Aku menepati janji pada diri sendiri dan tidak memeriksa pesan sampai pekerjaan selesai. Ketika akhirnya membuka ponsel, ada satu kabar dari Nara bahwa ia sudah berbicara dengan ayah. Ia belum memberi rincian, hanya berkata ia akan menghubungiku esok malam. Aku membalas bahwa aku menerima pesannya dan tak perlu menjelaskan sekarang.
Aku meletakkan ponsel dan menulis catatan pekerjaan. Papan selesai, mural berikutnya menunggu, uang bahan sudah dipisahkan. Hal-hal itu tidak menghilangkan rindu, tetapi mengingatkanku bahwa hidupku tidak berhenti saat seseorang jauh. Aku bisa menunggu kabar tanpa menunggu seluruh hidupku ikut dimulai.
Aku menceritakan kepada Pak Ujang bahwa Nara tidak ingin dijodohkan, tetapi masih perlu berbicara dengan ayahnya. Pak Ujang berkata keputusan itu cukup jelas untuk dihormati. Ia tidak bertanya apakah Nara akan memilihku. Aku lega karena ia tidak menjadikan kisah kami bahan obrolan warung.
"Kalau dia pulang nanti, biar dia yang cerita," katanya.
Aku mengangguk dan membantu membawa karung kopi. Ada hal-hal yang lebih baik dibiarkan menjadi milik orang yang menjalaninya.
Aku menyimpan buku itu di laci setelah mencuci tangan.
Hari itu selesai tanpa kabar baru.