Ayah menerima pekerjaan pagar lain di ujung gang. Ia memeriksa kayu yang disiapkan tetangga dan menolak satu papan yang retak. Tetangga itu sempat mengernyit karena harus membeli pengganti, tetapi ayah menjelaskan bagian itu tidak akan kuat menahan beban. Mereka sepakat menunda satu hari sampai bahan baru tersedia.
Aku membantunya mengangkat papan yang tersisa. Ayah memintaku tidak terburu-buru agar sudutnya tidak terbentur. Selama bekerja, ia bercerita bahwa dulu di pabrik ia bertanggung jawab pada bagian pemeriksaan bahan. Aku pernah mendengar ia bekerja di sana puluhan tahun, tetapi tidak tahu detailnya.
"Kalau ada yang cacat, kami catat," katanya. "Bukan disembunyikan supaya kelihatan selesai."
Aku bertanya apakah ia suka pekerjaan itu.
"Ada hari yang berat. Tapi aku tahu apa yang harus kulakukan."
Ia tidak mengatakan bahwa hidupnya sekarang tidak punya tujuan. Ia hanya mengakui ia merindukan rutinitas dan rekan kerja. Aku mendengarkan, lalu bertanya apakah ia ingin aku menuliskannya. Ia menjawab belum tahu.
"Jangan tulis dulu kalau Ayah belum nyaman," kataku.
Ayah mengangguk dan kembali mengukur kayu. Aku menahan diri agar tidak menyimpulkan lebih dari yang ia katakan. Pekerjaan pagar ini tidak menggantikan pabrik, dan satu percakapan tidak membuat semuanya baik. Namun ayah memilih menerima pesanan dan menentukan kapan harus berhenti.
Siang hari aku pergi mengecat papan untuk toko kecil. Pemiliknya meminta aku menyelesaikan satu sisi lebih dulu karena ia harus memasang papan itu sebelum akhir pekan. Kami mengecek jadwal dan menyepakati waktu tambahan. Aku tak perlu mengorbankan pekerjaan ayah, sebab keduanya berbeda hari. Aku mulai belajar menyusun kalender tanpa merasa harus memilih siapa yang lebih penting.
Ibu mengantar bekal ke tempat kerja. Ia bertanya apakah ayah akan bekerja lagi besok. Aku berkata iya jika bahan pengganti datang. Ibu tampak lega, lalu menjelaskan bahwa ia takut ayah menerima pekerjaan terlalu banyak dan sakit. Ia tak ingin menghambat ayah, tetapi juga tak ingin rumah kembali dipenuhi kecemasan.
"Aku akan ingatkan kalau dia kelihatan terlalu lelah," kataku.
"Jangan jadi mandornya," katanya. "Tanya dulu dia butuh bantuan atau tidak."
Aku tertawa. Ia benar. Mendukung ayah bukan mengambil alih tubuhnya.
Sore itu Nara mengirim pesan setelah beberapa hari hanya berkabar singkat. Ia berkata ayahnya belum memutuskan apa yang akan disampaikan kepada keluarga rekan bisnis. Ia sendiri tetap mengumpulkan catatan. Aku menjawab bahwa di rumah ayah menerima pekerjaan pagar, tapi belum yakin akan mengambil pekerjaan lain.
"Aku senang dia punya pilihan," tulisnya.
Aku menjawab bahwa pilihan itu kecil dan belum tetap. Nara membalas, "Tetap pilihan." Aku membaca pesannya dan menyimpannya tanpa mengubahnya menjadi petuah. Ia hanya sedang mengakui usaha ayahku.
Di rumah, aku bertanya kepada ayah apakah ia ingin aku membantu lagi besok. Ia berkata cukup untuk hari ini. Aku menerima jawabannya dan menyimpan alat. Ibu bertanya berapa upah yang disepakati. Kami menuliskannya pada kalender dan memperkirakan bahan. Tak ada yang menyebut pekerjaan itu mampu menyelesaikan seluruh kebutuhan rumah.
Malamnya aku membuka buku hitam dan menulis tentang papan yang ditolak karena retak. Aku tidak menyebut nama tetangga dan tidak membuat ayah tampak bijaksana secara ajaib. Aku mencatat kalimatnya soal cacat bahan dan menandai bahwa ia belum memberi izin untuk dipublikasikan. Halaman itu masih milikku untuk direnungkan, bukan milik siapa pun untuk dibaca.
Saat pekerjaan selesai, tetangga membayar sesuai jumlah yang disepakati. Ayah memisahkan uang bahan dari upah, lalu menyerahkan kuitansi kepadaku agar kusimpan. Aku bertanya apakah ia ingin menerima pekerjaan serupa lagi. Ia menjawab akan melihat keadaan punggung dan waktunya, bukan menjawab hanya karena uang dibutuhkan.
"Aku tidak ingin Ibu khawatir," katanya.
"Ibu akan lebih khawatir kalau Ayah tidak bilang apa-apa."
Ayah mengangguk. Kami pulang dan memberi tahu ibu bahwa pekerjaan selesai, tetapi ayah perlu istirahat sebelum mengambil yang lain. Ibu tak berkata "sudah kubilang". Ia hanya menyiapkan air hangat dan meminta ayah duduk. Aku mencuci tangan di luar, lalu duduk bersama mereka. Percakapan keluarga tidak berubah menjadi adegan besar. Kami hanya belajar memberi kabar sebelum kekhawatiran tumbuh menjadi pertengkaran.
Ketika ibu bertanya tentang pekerjaan ayah, ia menjawab dengan jumlah jam dan jenis tugas, bukan hanya "ada kerja". Ibu menulisnya di kalender dan bertanya apakah ia perlu membantu membeli sarung tangan. Ayah berkata ia masih punya yang lama. Mereka menyepakati ia akan memeriksa dulu sebelum membeli baru. Aku melihat bahwa perhatian ibu bukan sekadar kekhawatiran; ia juga ingin ayah tetap punya pilihan dalam pekerjaannya.
Setelah makan malam, aku bertanya apakah mereka ingin aku menghapus seluruh catatan tentang rumah. Ibu menjawab tidak perlu, selama tetap menjadi catatan pribadi. Ayah berkata ia mungkin bersedia membaca lagi setelah aku memperbaiki bahasanya. Aku tak meminta waktu pasti. Aku menyimpan halaman itu dan menulis tanggal percakapan. Mereka boleh kembali pada keputusan itu kapan pun.
Pada malam yang sama, ayah meminta aku memperlihatkan kalender kerja. Ia melihat tanggal papan kios dan bertanya apakah aku masih bisa membantu membawa kayu akhir pekan. Aku menjawab bisa setelah pemasangan selesai. Kami mengatur jam dengan jelas dan ibu mencatatnya di kalender rumah. Ayah tidak menganggapku harus selalu tersedia hanya karena aku tinggal bersama mereka. Aku merasa lega kami bisa merencanakan tanpa saling menebak.
Saat kami selesai mencatat, ayah menyimpan kalender dekat pintu agar ia bisa melihat jadwal sendiri. Ia berkata jika ada tawaran kerja baru, ia akan memberi tahu sebelum menerima. Ibu setuju melakukan hal sama untuk belanja besar. Aku menambahkan jadwal papan dan mural. Ruang kecil itu menjadi cara kami saling memberi tahu tanpa harus menginterogasi.
Aku menyimpan catatan tanpa menulis nama tetangga.
Ibu menandai tanggal pengeluaran yang perlu dicek lagi.
Ayah memastikan alatnya tersimpan di gudang, lalu menutup pintu dengan rapat. Aku menunggu sampai ia selesai.