Ibu mengajakku duduk di meja makan setelah sarapan. Di hadapan kami terbuka buku belanja, catatan listrik, dan amplop uang yang tersisa dari pekerjaan papan. Ia meminta aku melihat jumlah yang tersedia untuk pekan itu, bukan untuk menakut-nakutiku, tetapi supaya kami merencanakan kebutuhan.
Kami memeriksa satu per satu: beras, gas, obat ayah, ongkos kerja, dan bahan cat. Ibu menjelaskan mana yang sudah dibayar dan mana yang bisa menunggu beberapa hari. Aku tidak mengusulkan pinjaman. Kami hanya membagi uang berdasarkan keperluan yang nyata.
"Aku sering terdengar marah kalau bertanya soal kerjaanmu," kata ibu. "Sebenarnya aku takut kita nggak cukup."
Aku menatapnya. Selama ini aku mendengar pertanyaan itu sebagai sindiran bahwa pekerjaanku tidak layak. "Aku juga sering mengira Ibu tidak percaya aku bisa bekerja."
"Aku percaya. Aku cuma tidak tahu kapan uangnya datang."
Kami saling diam beberapa saat. Ibu kemudian berkata ia tidak ingin aku mengambil semua pekerjaan tanpa menghitung tenaga. Ia pernah melihat ayah pulang terlalu letih dari pabrik, dan tidak ingin aku mengulang cara yang sama hanya karena takut kekurangan.
"Aku ingin membantu rumah," kataku.
"Kamu membantu. Tapi kita semua harus memikirkan caranya. Bukan kamu sendirian."
Ayah masuk dan bertanya apa yang sedang kami bicarakan. Ibu menunjukkan catatan. Ia membaca dan mengatakan bahwa ia akan menerima pekerjaan pagar yang sudah disepakati, tetapi tidak akan mengambil pekerjaan tambahan sampai pinggangnya terasa lebih baik. Ibu bertanya apakah ia mau memeriksakan diri jika sakitnya bertahan. Ayah berkata akan mempertimbangkannya. Tidak ada diagnosis atau keputusan mendadak, hanya percakapan keluarga tentang tubuh dan kerja.
Kami menambahkan pemasukan dari pekerjaan pagar sebagai perkiraan, bukan uang yang sudah diterima. Aku menandai tanggal pembayarannya setelah pekerjaan selesai. Ibu meminta aku tidak memasukkan uang itu ke pos belanja sebelum benar-benar ada. Aku mengangguk.
Siang hari, aku mengerjakan papan toko. Pemiliknya meminta perubahan kecil pada warna dan bersedia membayar bahan tambahan. Kami mencatatnya. Saat selesai, aku membawa nota pulang. Ibu melihat catatan itu dan berkata sekarang ia bisa memperkirakan belanja dengan lebih tenang.
Aku menyadari masalah ekonomi tidak menjadi lebih ringan karena kami berhenti membicarakannya. Tetapi suasana rumah berubah saat semua orang tahu apa yang sedang dihitung. Tidak ada yang harus menebak apakah uang akan tersedia.
Sore itu ayah duduk di teras setelah menyelesaikan pagar. Ia tampak kelelahan. Aku bertanya apakah ia ingin air atau ingin aku mengangkat alat. Ia memilih air. Aku memberinya gelas dan menunggu sampai ia siap berdiri. Ia berkata pekerjaan tadi lebih berat daripada yang ia perkirakan. Aku menyarankan agar ia menerima upah sesuai kesepakatan dan beristirahat sebelum mengambil pekerjaan baru. Ia mengangguk, tidak tersinggung.
Malamnya Nara menelepon sebentar. Ia baru saja berdiskusi lagi dengan omnya soal dokumen, tetapi tak ada jawaban baru dari ayah. Aku bercerita tentang buku belanja dan percakapan dengan ibu. Nara bertanya apakah aku merasa lega setelah berbicara.
"Iya. Sedikit. Aku baru tahu Ibu bertanya karena takut, bukan karena menganggap kerjaanku tidak berguna."
"Kadang kalimat yang sama bisa terasa beda kalau kita tahu asalnya."
Aku tidak membandingkan keluarga kami dengan keluarganya. Aku hanya berkata ia boleh mengabariku jika ingin bercerita, tanpa harus menunggu ada keputusan. Ia berterima kasih dan menutup telepon karena ingin istirahat.
Aku menuliskan percakapan ibu di buku pribadi, lalu bertanya sebelum membacakan satu baris kepadanya. Ia mendengar dan meminta agar bagian tentang obat ayah tidak dimasukkan. Aku menghapusnya. Ia memperbolehkan kalimat tentang ketakutannya, tetapi meminta nama tak disebut. Aku mencatat persetujuan itu di sampul.
Ibu kemudian bercerita bagaimana ia mengatur uang ketika ayah masih bekerja. Ia membagi sebagian untuk belanja harian, sebagian untuk biaya sekolah dan kebutuhan mendadak. Setelah pesangon habis terpakai untuk berbagai hal, ia mulai menyimpan catatan lebih rinci. Aku tidak tahu selama ini buku kecil itu menampung begitu banyak keputusan.
"Kalau aku bertanya soal uang, bukan berarti aku menganggap kamu tidak bisa," katanya. "Aku takut kita lupa menghitung."
Aku mengangguk. "Aku juga takut dianggap tidak berguna."
Ayah mendengar dan berkata tak seorang pun di rumah harus membuktikan nilai dirinya dengan membawa uang paling banyak. Ibu setuju, tetapi menambahkan kebutuhan tetap harus dibayar. Kami bertiga tertawa karena kalimat itu terdengar seperti kesimpulan yang sudah kami tahu sejak awal, tetapi tetap perlu diucapkan. Setelah itu kami menyusun anggaran pekan depan dan menulis siapa membeli apa.
Setelah selesai mencatat anggaran, ibu mengajakku membeli bahan dapur. Kami berjalan ke pasar dan membandingkan harga tanpa terburu-buru. Ia bercerita bahwa dulu ia jarang memikirkan biaya kecil karena ayah menerima gaji tetap. Setelah itu berubah, setiap pembelian harus masuk dalam hitungan. Ia tidak ingin aku menganggap kehati-hatian sebagai kekikiran.
Aku membeli cat baru menggunakan uang muka pelanggan, lalu menyimpan nota terpisah. Ibu bertanya apakah aku punya cukup untuk bensin. Aku menjawab cukup, tetapi akan lebih hemat jika aku menggabungkan perjalanan kerja. Kami menyusun rute sederhana di kertas. Tidak ada masalah yang lenyap, tetapi kami mengubah kecemasan menjadi keputusan yang bisa dilakukan.
Sesampainya di rumah, kami mengatur bahan belanja di rak. Ibu meminta aku menyimpan nota cat bersama nota kerja, bukan di buku rumah. Aku membuat map terpisah untuk biaya usaha. Pemisahan itu membantu kami melihat uang mana yang belum menjadi pendapatan keluarga. Ayah bertanya apakah uang muka cukup untuk memulai. Aku menjawab cukup untuk bahan, bukan untuk hal lain. Ia mengangguk dan berkata perhitungan itu masuk akal.
Ibu menyimpan kuitansi di map dan berkata ia akan memeriksanya lagi setelah belanja selesai. Kami menutup buku tanpa memperdebatkan angka yang belum pasti.
Aku melipat nota dan menaruhnya di map biaya kerja.
Kami mencuci gelas kopi sebelum masuk rumah.
Kami menuliskan daftar itu dengan pensil agar mudah diperbarui bila ada perubahan.