Aku membawa draf tentang ayah ke meja makan dan bertanya apakah ia bersedia membacanya. Ayah sedang menyeduh kopi. Ia duduk, menerima dua halaman itu, lalu membacanya perlahan. Ibu berada di dapur, tetapi tetap mendengar ketika ayah mulai berkomentar.
"Ada bagian yang benar," katanya. "Tapi kamu menulis seolah aku berhenti berusaha setelah pabrik tutup."
Aku memeriksa paragraf yang ia tunjuk. Aku menulis bahwa setelah kehilangan pekerjaan, ayah hanya duduk di teras dan menonton televisi. Itu memang pernah terjadi, tetapi bukan seluruhnya.
"Ayah benar. Aku terlalu merangkum," kataku.
Ia meminta aku menambahkan bahwa ia pernah mencari pekerjaan lain dan sempat memperbaiki beberapa barang tetangga. Ia tak ingin pembaca mengira dirinya hanya diam. Aku menuliskan catatan di margin, tetapi tidak langsung memasukkan revisi.
"Kalau tentang Dimas, kamu juga melakukan begitu?" tanya ayah.
"Aku mencoba menghindarinya. Ibu Dimas sudah mengoreksi."
"Bagus. Orang tidak bisa diringkas jadi satu masa buruk."
Aku mengangguk. Ia menyerahkan kertas. Aku bertanya apakah ia mengizinkan bagian itu dipakai dalam naskah yang mungkin dibagikan. Ayah belum siap. Ia berkata aku boleh menyimpan catatan pribadi, tetapi ia ingin melihat versi berikutnya sebelum memutuskan. Aku setuju dan menulis status izin di bagian atas halaman.
Ibu bergabung setelah selesai menata makanan. Ia membaca bagian tentang pembicaraan uang di meja. Ia meminta satu kalimat yang menyebut ia "selalu cemas" dihapus. Ia tidak ingin satu perasaan menjadi sifat tetap. Aku menghapusnya, lalu membacakan ulang paragraf yang sudah berubah. Ibu berkata lebih tepat, tapi masih belum ingin namanya digunakan.
Kami menyimpan halaman itu di dalam map. Tidak ada pertengkaran. Tidak ada yang merasa wajib menyetujui karena aku anak mereka. Aku bersyukur mereka mau membaca dan bersyukur mereka bebas menolak.
Siang hari aku pergi ke warung Pak Ujang. Ia bertanya apakah aku menulis tentang keluargaku. Aku menjawab baru mencoba dan orang tuaku meminta waktu sebelum tulisan dibagikan. Pak Ujang berkata itu wajar. Ia sendiri pernah menyesal menceritakan masalah rumah kepada orang yang menjadikannya bahan bercanda. Sejak itu ia lebih hati-hati.
"Kalau mereka bilang jangan, ya jangan," katanya.
Aku mengangguk. Pak Ujang kemudian bercerita tentang satu pelanggan yang sering menunda bayar. Ia tidak mau cerita itu kutulis karena menyangkut orang lain. Aku tidak bertanya siapa. Batas berlaku juga bagi orang yang tidak sedang duduk di meja.
Malamnya Nara mengirim foto dari meja yang penuh kertas. Ia menulis bahwa ayahnya masih belum mau menetapkan apa pun, tetapi mereka berhasil menemukan beberapa kuitansi. Aku bertanya apakah ia ingin aku mendengarkan melalui telepon. Ia menjawab tidak malam ini. Aku tidak memintanya menjelaskan. Ia akan mengabariku pada waktu yang telah kami sepakati.
Aku kembali membuka draf tentang ayah. Aku menghapus satu kalimat yang menyatakan ia "kehilangan harga diri". Itu bukan kata-katanya, dan aku tidak tahu apakah ia akan menyebut dirinya demikian. Aku mengganti kalimat dengan hal yang bisa kulihat: ia duduk di teras beberapa sore dan menerima satu pekerjaan pagar. Tulisan menjadi lebih sederhana, namun lebih jujur.
Sebelum tidur, aku menyimpan draf di laci yang sama dengan buku catatan kerja, tetapi berbeda map dari surat Dimas. Setiap cerita punya batas dan pemilik yang berbeda. Aku tidak ingin satu kehilangan memberiku alasan untuk mencampur semuanya.
Dalam perjalanan membeli roti, ayah bertanya apakah aku masih ingin menjadi penulis. Aku menjawab iya, tetapi belum tahu apakah tulisanku akan dibaca orang. Ia berkata ketika dulu bekerja, ia sempat ingin membuka usaha kecil setelah pensiun, namun tidak pernah benar-benar menyiapkan rencana. Aku bertanya mengapa. Ia mengatakan selalu mengira masih ada waktu.
"Aku tidak bilang kamu harus menulis cepat," katanya. "Cuma jangan berhenti karena takut hasilnya tidak besar."
Aku menyimpan kalimat itu, tetapi bertanya apakah ia mengizinkanku menuliskannya. Ayah berkata hanya sebagai catatan sekarang, tidak untuk dibagikan. Aku mengangguk. Kami melanjutkan jalan. Aku mengerti cita-citaku bisa dipelihara tanpa memaksa keluargaku masuk ke dalamnya.
Pulang dari toko roti, aku membantu ibu menyiapkan makan. Ia bertanya bagaimana rasanya mendengar ayah menyebut cita-cita yang dulu tak jadi. Aku menjawab sedih, tetapi juga ingin tahu apa yang masih ingin ia lakukan sekarang. Ibu berkata ia mungkin akan bertanya sendiri, bukan malam itu. Ia tidak ingin semua percakapan berubah jadi wawancara untuk bukuku.
Aku tertawa dan berjanji menutup buku saat makan. Kami menyantap nasi bersama, mendengar ayah bercerita tentang tetangga yang bercanda soal raknya miring. Ayah membantah, lalu ibu tertawa. Aku tidak mencatat percakapan itu. Aku membiarkannya menjadi milik meja makan.
Sebelum tidur aku melihat catatan yang tak kubuat saat makan. Aku tidak merasa kehilangan bahan. Ada percakapan yang bisa tetap menjadi kenangan tanpa berubah menjadi tulisan. Aku membuka halaman kosong dan menulis tentang keputusan untuk menyimpan buku. Rasanya aneh menulis tentang sesuatu yang tidak terjadi, tetapi ternyata itu juga pilihanku.
Paginya aku menerima telepon dari pelanggan yang meminta papan dipasang lebih awal. Aku mengecek jadwal sebelum menjawab. Ayah menyetujui aku berangkat sendiri dan kami menggeser pekerjaan pagar ke sore. Aku memberi kabar kepada ibu agar ia tidak menunggu makan siang bersama. Tidak ada yang tersinggung karena rencana berubah; kami sudah belajar memberi tahu.
Aku tidak menuliskan detail pembayaran rumah.
Aku menyisakan cukup waktu untuk beristirahat setelah kerja.
Ibu mendengar kami masuk dan bertanya apakah pekerjaan selesai sesuai waktu. Aku menjawab iya.
Ayah berkata rak itu tidak perlu dicat lagi. Tetangga memeriksanya dan menyetujui hasilnya. Ia membayar sesuai catatan, lalu kami menyimpan kuitansi. Aku mencatat tanggal penerimaan dan bagian upah ayah. Kami berbicara soal pekerjaan berikutnya hanya setelah ia beristirahat.
Aku menyimpan kuitansi di map kerja.
Aku menuliskan tanggal pekerjaan berikutnya di kalender.
Ayah meletakkan alat di rak.
Aku mengecek jadwal bersama ayah.
bersama-sama.