Surat balasan yang ditunggu ibu Dimas datang pada sore yang panas. Beliau mengirim pesan agar aku mampir setelah pekerjaan selesai. Aku tidak bertanya isi suratnya lewat telepon. Saat tiba, beliau sudah meletakkan amplop di atas meja dan menyiapkan dua gelas teh.
"Aku belum membukanya," katanya.
"Kita buka kalau Ibu siap."
Beliau menatap amplop itu cukup lama. Setelah menarik napas, ia menyobek bagian atasnya dan mengeluarkan beberapa lembar kertas. Surat tersebut memuat rincian yang diminta: angka yang ditagihkan, tanggal beberapa pembayaran, dan satu bagian yang masih belum cocok dengan catatan keluarga. Tidak ada pernyataan bahwa semua sudah selesai.
Ibu Dimas membaca perlahan. Aku duduk di seberang, menunggu bila ia ingin bertanya. Ketika sampai pada daftar pembayaran, ia menunjuk satu baris. "Ini pernah kubayar. Aku ingat karena Dimas ikut mengantar."
Aku tidak berkata bahwa ingatannya pasti benar. Kami membuka laci dan mencari kuitansi yang mungkin berkaitan. Ada satu nota dengan tanggal yang sama, tetapi tulisannya pudar. Angkanya tidak terlihat jelas. Ibu Dimas meletakkan nota itu di samping surat.
"Ini bukti yang cukup?" tanyanya.
"Aku tidak tahu. Mungkin perlu ditanyakan."
Beliau mengangguk. Kami menulis pertanyaan, bukan kesimpulan: apakah pembayaran tersebut tercatat, dokumen apa yang mereka gunakan, dan apakah ada cara mengirim salinan kuitansi tanpa kehilangan yang asli. Ibu Dimas ingin bertanya pada layanan konsultasi sebelum membalas. Ia memilih menyimpan surat dalam map dan tidak menelepon malam itu.
"Angkanya masih besar," katanya.
Aku tidak menghiburnya dengan mengatakan semua akan beres. "Kita belum tahu seluruhnya."
"Benar. Aku juga belum tahu apa yang sanggup kulakukan."
Kami duduk diam beberapa saat. Ia berkata mungkin ia perlu berhenti melihat dokumen sampai esok. Aku menawarkan membawakan surat ke rumahnya yang lain, tetapi ia ingin menyimpannya sendiri. Aku membantu mengembalikan nota ke dalam map, lalu pamit.
Di rumah, ibu sedang memasak. Aku menceritakan bahwa surat datang, tanpa menyebut angka. Ibu bertanya apakah ibu Dimas ingin dibantu. Aku menjawab ia akan bertanya ke layanan konsultasi dahulu. Ibu mengangguk. Ia tak meminta aku menyelesaikan sesuatu yang tidak kuasa kutangani.
Aku menyelesaikan satu paragraf pada drafku tentang cara kami mencatat dokumen. Namun aku tidak memasukkan surat atau angka. Aku belum meminta izin menulis urusan itu. Aku menutup halaman dan memeriksa pesanan papan yang harus selesai esok.
Pagi berikutnya, ibu Dimas mengirim pesan bahwa ia ingin aku menemani membaca ulang surat sebelum konsultasi. Aku menanyakan jamnya. Kami sepakat bertemu siang. Ia sudah membaca sendiri dan menandai bagian yang tidak dipahami. Aku membacakan kembali baris yang ia tunjuk, lalu kami mengurutkan pertanyaan berdasarkan prioritas.
Beliau memutuskan bertanya lebih dulu soal pembayaran yang tidak tercatat. Jika jawabannya masih kabur, ia akan meminta bukti tertulis. Ia menulis pertanyaan dengan tangannya sendiri dan meminta aku memeriksa apakah ada yang terlewat. Aku menyebut satu tanggal yang belum dimasukkan; ia menambahkannya.
Setelah selesai, beliau memasukkan surat ke map dan berkata ia siap pergi besok. Aku bertanya apakah ia ingin aku ikut masuk atau menunggu di luar. Ia memilih aku menunggu dulu, lalu ia akan memanggil bila membutuhkan bantuan membaca. Aku menghormati pilihan itu.
Sebelum aku pulang, kami membuka map berisi catatan lama sekali lagi. Ibu Dimas ingin memastikan nota yang ia temukan bukan untuk pembelian lain. Ia mengingat hari itu sebagai hari setelah Dimas mengantar paket, tetapi tak mau menjadikan ingatannya sebagai kepastian. Kami menulis "perlu dicocokkan", lalu membiarkan kolom jumlah kosong.
"Aku tidak mau mereka bilang aku sengaja menyembunyikan pembayaran," katanya.
"Kalau kita tidak tahu, kita bisa bilang belum tahu."
Ia mengangguk. Ia memilih menunggu konsultasi sebelum mengirim jawaban. Aku menawarkan membuat salinan surat di warung, tetapi ia ingin melakukannya sendiri di tempat yang ia percaya. Aku tidak memaksa. Kami membicarakan siapa yang akan menemani jika ia perlu kembali. Ia ingin mencoba pergi dengan Pak Ujang terlebih dahulu, karena aku punya pekerjaan memasang papan.
Aku pulang dan memberi tahu ibu bahwa aku tidak akan bisa menemani setiap kali ada urusan. Ibu berkata itu wajar, asal ibu Dimas tahu siapa yang dapat dihubungi. Aku menjelaskan beliau telah memilih Pak Ujang sebagai pendamping lain. Kami tidak membahas rincian surat. Ibu hanya bertanya apakah aku perlu membawa makan siang untuk pekerjaan esok. Aku menjawab iya.
Pagi berikutnya aku menyelesaikan papan di kios. Pemiliknya meminta koreksi satu huruf, dan aku memperbaikinya tanpa menambah biaya karena kesalahan itu memang dari sketsaku. Aku meminta ia memeriksa seluruh tulisan sebelum membayar sisa upah. Ia melakukannya dan menyetujui. Aku mencatat uangnya, lalu menyimpan sebagian untuk bahan berikutnya. Pekerjaan yang jelas membuatku bisa membantu rumah tanpa menawarkan uang yang belum kupunya.
Saat membahas rencana itu, ibu Dimas bertanya apakah aku akan ikut bila ia mengirim salinan. Aku menjawab bisa menemani ke tempat fotokopi, tetapi ia boleh pergi sendiri atau bersama Pak Ujang. Ia berkata belum memutuskan. Kami tidak mengisi keputusan itu dengan kalimat bahwa aku akan selalu ada.
Hari berikutnya ia memilih pergi bersama Pak Ujang. Ia menyampaikan pilihannya sendiri kepadaku, bukan meminta maaf. Aku berkata baik dan memastikan aku bisa bekerja sesuai jadwal. Ia mengirim tanda terima setelah selesai. Aku menyimpan pesan itu hanya di percakapan, tidak memindahkannya ke buku.
Di tempat kerja, aku memasang papan dan menemukan satu sudut cat perlu dirapikan. Aku memperbaikinya sebelum pelanggan datang. Ia mengucapkan terima kasih dan membayar sisa upah. Aku menyimpan sebagian sebagai modal. Saat pulang, ibu bertanya apakah pekerjaan lancar. Aku menjawab iya, lalu membantunya menyiapkan makan malam. Hari berjalan dengan dua urusan terpisah, masing-masing memiliki pemiliknya.
Ia menulis tanggal pengiriman di kalender, lalu menyimpan amplop kosong untuk balasan berikutnya.
Ia menaruh kalender di samping map.
Aku membaca lagi tanggal yang ia catat.