Namun, apa yang terjadi di depan mata. Bukan hanya hancur, Samesta merasa di dunia ini yang masih berharap mereka ada hubungan hanya dirinya sendiri. Perasaan Raya sudah terpaut dengan lelaki lain. Raya telah menikmati kehidupan barunya.
"Apa yang kamu lakukan, Ray? Apa-apaan ini? Aku ke sini untuk menengok kamu bukan untuk melihat kalau kamu sudah mencampakkan aku!" geram Samesta mengeratkan cengkeraman di lengan lurus Raya.
Ringisan kesakitan Raya diabaikan Samesta. Bahkan air mata gadis itu yang selalu menjadi kelemahan terbesarnya tidak lagi berarti apa-apa. Terlalu sakit Samesta menerima perlakuan ini dari orang yang sangat ia cinta. Hatinya sakit lebih dari kesakitan apa pun yang pernah ia terima.
"Ray, kamu--"
"Aku nggak melakukan kesalahan sampai harus kamu hukum begini, Sa