Pagi hari di kota Jakarta, Indonesia.
Suara tirai gorden yang digeser samar-samar terlintas dalam pendengaran seorang gadis dua puluh tahun yang tengah terlelap pulas di ranjang empuknya. Membuatnya sedikit terganggu dan mulai kehilangan gambaran dunia mimpi yang sedang dijelajahinya. Ditambah dengan seberkas cahaya keemasan yang menerobos tebalnya lapisan kaca jendela hingga berhasil mendarat di wajahnya, kelopaknya jadi berkerut-kerut, lantas terbuka menunjukkan bola mata coklatnya yang bersinar indah dalam balutan cahaya mentari.
“Selamat pagi, Putri Tidur.” Sebuah suara familiar yang memberi kesan teduh menyambutnya. Lalu perlahan gambaran dari sang empu suara tersebut mulai muncul di hadapan gadis itu. Dia adalah wanita paruh baya yang parasnya tak kunjung menua. Kulitnya masih terlihat sama seperti sepuluh tahun lalu, tidak mengerut sama sekali. Rambut panjang bergelombangnya pun tampak bersinar indah bak putri iklan.
Gadis itu tersenyum memandang sosok di hadapannya yang saat ini tengah menghalau cahaya untuknya. Ia balas menyapanya, “Pagi, Mom.”
Ya, wanita itu memang ibunya, Sarah Anindita namanya. Juga jangan lupakan nama Brume yang masih setia ia tempatkan di belakang namanya.
“Tidurmu nyenyak malam ini?” tanyanya hati-hati kepada sang putri.
Benar saja, yang ditanya tampak terganggu mendengar pertanyaan itu. Namun ia berusaha menutupinya dengan seulas senyuman. Ia memang selalu seperti ini sejak usianya menginjak remaja. Meskipun keadaan telah sedikit membaik, tetapi sebetulnya semua belum berubah walau sekeras apa pun mereka mencoba untuk mengubah atau bahkan melupakan memori kelam itu. Mereka berusaha keras membangun hidup baru. Namun sayangnya tidak ada yang benar-benar baru selain bertambahnya usia mereka. Karena ingatan mereka masih terpaku pada kenangan pahit empat belas tahun lalu.
“Oh, masih bermimpi buruk rupanya,” sambung Sarah setelah melihat respon putrinya yang tidak terlihat bagus.
Melihat kesedihan yang tergambar dalam sorot mata ibunya, sang putri, Alias Michelle yang kini telah beranjak dewasa segera memasang senyum cerah. Ia juga meraih tangan Sarah dan menggenggamnya erat seolah mengisyaratkan bahwa ia baik-baik saja.
“Kau tenang saja, malam ini tidak terlalu parah kok. Aku berhasil tertidur pulas sekitar pukul dua tadi malam.”
Asal tahu saja, biasanya Michelle baru bisa tertidur pulas sekitar pukul empat pagi. Kalaupun ia bisa terlelap sebelum jam dua belas, ia akan terbangun lagi dua atau tiga jam kemudian akibat bermimpi buruk. Mimpi buruk itu selalu sama, tidak pernah berubah sehari pun. Yaitu mimpi buruk yang menghantuinya sejak tragedi kelam yang menimpanya empat belas tahun lalu. Sangat disayangkan memang, ia tidak bisa bersahabat dengan malam hari. Justru ia membenci malam. Pikirannya akan mulai tidak karuan kalau matahari sudah terbenam.
Sarah menghela napas pelan. Ia mengelus-elus kepala putrinya penuh kasih, isyarat bahwa ia turut senang mendengar kemajuan tersebut. Namun di balik itu, sesungguhnya ada hati yang teriris mendapati putrinya tidak pernah bisa bangkit dari traumanya. Ia merasa gagal menjadi sosok ibu bagi Michelle. Mungkinkah ia terlalu acuh akan masalah yang dialami putrinya? Pikiran semacam itu selalu menghantuinya siang dan malam. Sepertinya ia kurang berusaha dalam memberikan pengobatan terbaik untuk Michelle. Itu sungguh membuatnya merasa buruk.
Namun ia segera menyingkirkan perasaan itu karena tidak mau menghancurkan pagi cerah putrinya. Kini ia kembali memasang senyum hangat. Yang tentu saja penuh kepalsuan.
“Syukurlah, itu kemajuan yang cukup pesat. Bagaimana kalau kita merayakannya dengan sarapan di luar?” Sarah menawarkan sebuah ajakan.
Michelle seketika tersenyum sumringah mendengarnya. Ia lantas mengangguk setuju, “Ide bagus. Aku mau makan seafood pedas di restoran seafood yang ada di bawah. Tidak apa ‘kan? Aku sedang ingin makan sambil menikmati pemandangan laut.”
Omong-omong, mereka memang tinggal di lingkungan apartemen yang terletak di pinggiran laut. Karena itu lah ada sebuah restoran seafood besar di bawah yang buka dua puluh empat jam dan letaknya tepat di hadapan hamparan laut. Restoran itu juga sangat terkenal, dia sudah seperti ikonnya lingkungan apartemen ini.
“Kau ini, masih pagi sudah mau makan yang pedas-pedas saja. Seafood pula. Kalau sakit perut bagaimana? Seafood di Jakarta ‘kan makannya limbah pabrik, tidak sehat. Sebaiknya kau jangan terlalu sering makan seafood di sini.” Alih-alih mengiyakan keinginan putrinya, Sarah malah meracau tak karuan, membuat Michelle jengah mendengarnya.
“Mom, stop. Jangan mencela makanan dengan cara seperti itu. Kau jadi terlihat seperti orang kaya jahat yang biasa ada dalam film sinetron khas Indonesia.”
Dikatai seperti itu, jelas Sarah protes. “Enak saja! Mom tidak seperti itu!”
“Mangkanya jangan berlagak sok higienis, aku benci mendengarnya.” Michelle memasang ekspresi cemberut masam seraya melipat tangan di d**a.
Melihat tingkah putrinya yang menyebalkan tetapi juga menggemaskan, Sarah tertawa kecil. Ia memutuskan untuk mengalah. Sebetulnya sedari awal juga ia tidak berniat untuk melarang keinginan Michelle. Apa pun kemauan putrinya akan ia turuti asal itu dapat membuatnya tersenyum ceria dan melupakan segala ketakutannya. Namun tetap saja, usaha memperingati sesuatu yang sekiranya tidak baik bagi kesehatan harus tetap ia lakukan sebagai seorang ibu. Kalau Michelle tetap bertahan pada keinginannya, itu terserah padanya. Lagi pula dia sudah dewasa, dia berhak untuk memilih sendiri apa pun yang membuatnya senang.
“Ya sudah, kita akan sarapan di sana. Kau puas sekarang?” ujar Sarah yang langsung menyulap ekspresi cemberut Michelle menjadi senyum kesenangan.
“Begitu dong dari tadi. Terima kasih, Mom.” Michelle memeluk Sarah.
“Sama-sama,” jawab Sarah seraya menyambut pelukan putrinya.
Di tengah pelukan itu, diam-diam setetes air mata haru jatuh membasahi pipi mulus wanita empat puluh empat tahun itu. Ia teringat pada mendiang suaminya, Antony. Jika saja dia masih ada bersama mereka saat ini, ikut bercengkerama tidak penting mengenai di mana mereka akan menyantap sarapan, situasi pasti akan jauh lebih membahagiakan. Tidak akan ada kesedihan ataupun kecemasan yang diam-diam mereka simpan dalam hati, karena yang ada hanya keceriaan serta canda tawa yang tulus tanpa manipulasi.
‘Kau lihat, Antony, putrimu sudah tumbuh dewasa. Keadaannya sudah jauh lebih baik di banding empat belas tahun lalu.’ Sarah membatin. ‘Sekarang kau sudah bisa beristirahat dengan tenang bukan, Antony?’
Belum. Antony pasti belum bisa beristirahat dengan tenang saat ini. Karena selain Michelle belum sepenuhnya terbebas dari traumanya, para manusia biadab yang menciptakan bekas luka ini juga belum tertangkap sampai detik ini. Sungguh malang nasib Antony, harus menyaksikan orang-orang jahat itu hidup tenang di luar sana sambil menertawai pihak sini yang tidak bisa berbuat apa-apa.
Nanti, suatu hari nanti mereka pasti akan mendapat ganjarannya. Itu janji Sarah untuk mendiang suaminya yang sampai saat ini menderita di atas sana.
•••