Musim panas yang melanda hampir sepanjang tahun adalah salah satu kelebihan Indonesia yang paling Michelle sukai. Ia justru heran dengan orang-orang lokal yang selalu mengeluh akan teriknya musim panas di negeri bertanah subur ini. Padahal suasananya begitu hangat, tenteram nan menyenangkan. Langitnya juga indah, berwarna biru cerah dihiasi gumpalan awan putih yang bergumul seperti permen kapas. Apalagi kalau dipandang dari tepi laut sambil menikmati jajaran aneka seafood yang dimasak dengan bumbu asam pedas manis khas Indonesia yang kaya akan rempah. Sungguh sensasinya begitu memanjakan hati serta pikiran, membuat Michelle setuju bahwa negeri ini sempurna untuk dijadikan hunian.
Sejak pertama kali Michelle menginjakkan kakinya di tanah kelahiran ibunya ini, ia sudah punya firasat bahwa ia akan betah tinggal berlama-lama di sini. Udara hangat yang menyambutnya ketika ia keluar dari bandara kala itu lumayan ampuh mengusir segala ketakutannya akan bayang-bayang musim dingin. Selain itu, semua orang yang ditemuinya di sini juga sangat baik dan ramah. Sekalipun ada beberapa orang yang penampilannya tampak menyeramkan, setidaknya mereka tidak mengantungi senjata api dalam sakunya. Tidak seperti di kota kelahirannya yang kini telah menjadi kota mimpi buruk baginya. Di mana hampir semua orang bisa kapan saja menodongkan benda menyeramkan itu ke kepala seseorang.
Sambil asik menyuap sebuah udang besar ke dalam mulutnya, Michelle yang suasana hatinya sedang bagus iseng mengeluarkan ponselnya. Ia memotret diri dengan pose bersiap akan menyantap udang itu. Hasilnya cukup memuaskan, ia menyukainya. Ia pun mengeditnya sedikit sebelum mengunggahnya ke akun media sosialnya. Tidak lupa sambil menikmati menu sarapan yang sebenarnya lebih cocok dijadikan santapan makan siang. Biarlah, toh mayoritas penduduk lokal di sini memiliki kebiasaan sarapan dengan makanan berat. Dulu waktu awal-awal Michelle menyaksikan budaya tersebut rasanya memang sangat aneh. Tapi lama-kelamaan ia terbiasa dan malah sangat menikmatinya.
Sarah yang diam-diam memperhatikan tingkah putrinya sedari tadi, ia merasa begitu bersyukur. Jarang-jarang ia bisa melihat Michelle tampak seceria ini. Senyumnya lebar, ekspresinya lepas tanpa beban. Pada momen ini rasanya Sarah ingin sedikit egois dengan meminta kepada Tuhan untuk mempertahankan kondisi putrinya yang seperti ini. Jangan ada lagi ketakutan ataupun trauma yang membuatnya kesulitan menjalani hidup tenang. Sudah cukup empat belas tahun hidupnya dilewati dengan penderitaan serta ketidakbebasan berkat kedua hal itu.
Namun Sarah tahu takdir hidup Michelle tidak semudah itu berganti. Trauma yang dialaminya bukan hal sepele yang bisa langsung dia lupakan hanya karena satu momen bahagia yang datang menghampirinya berkat menyantap seafood di tepi laut. Kalau jalannya semudah itu, sudah sedari dulu Sarah berhasil membuatnya keluar dari traumanya.
“Mom, ayo berfoto.” Ajakan Michelle yang tiba-tiba membuat Sarah terlonjak dari lamunannya. Ia segera meladeni ajakan tersebut. Ia memasang pose santai dengan dua jari terangkat sambil tak lupa memberikan senyum paling cerah.
Ckrek!
Sebuah foto sudah diambil. Michelle melihat hasilnya lebih dulu sebelum ditunjukkan kepada Sarah. Ternyata hasilnya lumayan bagus. Terlebih setelah diedit sedikit menggunakan fitur filter yang tersedia. Michelle memang pintar membuat tampilan akun media sosialnya tampak estetik dengan jajaran foto-foto dengan pencahayaan yang apik.
“Aku akan mengunggah foto ini ke akun media sosialku. Tidak apa ‘kan?”
Sarah mengangguk, “Tidak apa. Sekalian tandai akun Mom kalau kau bersedi—”
“Tidak, terima kasih!!” potong Michelle sarkas. Ekspresinya juga sangat menunjukkan kalau dia sama sekali tidak berniat memamerkan sosok ibunya di akun media sosialnya. “Aku malah berniat menutup wajahmu dengan stiker.”
“Dasar jahat.” Sarah menggerutu manyun.
“Biar saja. Yang penting aku aman dari rentetan pengikut dadakan yang membombardir akunku setelah memposting foto bersama model internasional terkenal yang memiliki lebih dari lima juta pengikut.” Michelle mengatakan itu dengan cepat dan tegas. “Aku tidak mau dibilang memanfaatkan popularitas ibuku demi meraup banyak pengikut. Dan lagi, aku juga sudah sangat nyaman dengan jumlah pengikutku saat ini yang hanya berkisar dua ribuan. Rasanya tenang dan damai.”
“Ya, ya, ya, terserah kau saja.” Sarah merajuk. Namun sepertinya Michelle tidak peduli. Sungguh tidak peka.
Setelah debat singkat tidak penting itu, mereka kembali menyantap menu sarapan berat mereka sambil sibuk bergulat dengan ponsel masing-masing. Ya, di era modern ini ponsel memang tidak pernah absen dari meja makan. Bahkan di tengah pertemuan penting sekali pun. Terkesan tidak menghargai memang, tetapi mau bagaimana lagi, zaman sudah terlanjur menjadikan tradisi ini sebuah kebiasaan yang tidak dianggap melanggar norma kesopanan.
Di tengah keheningan itu, tiba-tiba Sarah terpikirkan sesuatu tentang masa depan putrinya. Ia pun berniat menanyainya langsung. Mumpung momennya sedang mendukung, pikirnya.
“Michelle?” Sarah memanggil nama putrinya, pertanda obrolan serius akan segera diutarakannya.
Namun dasar kaum anak muda zaman modern, sepertinya etika tata krama sudah sedikit kuno bagi mereka. Karena dengan entengnya Michelle hanya menyahut dengan menggumam singkat, “Hm?” Bahkan tanpa menoleh sedikit pun. Dia terus asik berkelana dengan gawainya.
Sarah mencoba untuk bersabar. Dari pada ia menggubris kejengkelannya, lebih baik ia segera bicara. Mumpung masih ada waktu.
“Mengenai kuliahmu, apa kau masih belum ada rencana untuk mendaftar?” Sarah bertanya to the point. “Kau tidak lupa ‘kan kalau kau sudah menunda satu tahun sejak lulus SMA?”
Michelle melirik ibunya sejenak. Kemudian kembali berkutat pada ponselnya seraya mengedikkan bahu malas.
“Tidak tahu,” jawabnya. “Sejujurnya aku masih malas. Tapi akan memalukan jika aku menjadi yang tertua dalam angkatanku nanti.”
“Jadi? Kau memutuskan untuk mendaftar tahun ini?”
Kali ini Michelle meletakkan ponselnya di meja. Ia menghela napas panjang, seperti sedang bimbang dalam membuat keputusan.
“Aku masih belum sepenuhnya yakin, Mom. Menurutmu bagaimana?” Kini gantian Michelle yang bertanya.
“Jelas lebih cepat lebih baik. Supaya kau tidak malu menjadi yang tertua dalam angkatanmu,” jawab Sarah tanpa keraguan.
Namun Michelle justru sebaliknya, ia tampak ragu.
“Begitu ya?”
Sarah mengangguk sambil menyuap sesendok nasi diiringi dengan satu buah udang bakar berlapis cocolan sambal kecombrang.
“Seandainya kau jadi kuliah tahun ini, kau mau mengambil jurusan apa?” tanya Sarah lagi setelah menelan sisa kunyahan dalam mulutnya.
“Itu ....” Michelle mengetuk-ngetukkan telunjuknya di tepian piring kaca yang menjadi wadah nasi miliknya. Sepertinya dia agak gugup, sebaiknya Sarah tidak terlalu mendesaknya.
“Kalau kau masih belum punya rencana yang jelas, sebaiknya kau menunggu tahun depan sa—”
“Sejujurnya aku sudah merenungkan minatku.” Lagi-lagi Michelle memamerkan hobinya yang tukang memotong perkataan ibunya. “Tapi aku masih sedikit ragu, Mom. Aku ingin memikirkannya dulu matang-matang sebelum memutuskan untuk memberi tahumu. Kuharap kau tidak keberatan dengan itu.”
Sarah memandang putrinya lekat-lekat. Ia lantas menghela napas pelan sembari menampilkan ekspresi yang sarat akan rasa pengertian.
“Sama sekali tidak, Dear. Mom akan selalu mendukung apa pun keputusan yang kau ambil selagi itu baik untukmu.*
“Um, bagaimana kalau itu akan sedikit tidak baik untukku?” tanya Michelle takut-takut.
Sejenak Sarah mengernyit bingung. Tapi kemudian ia menjawab, “Asalkan hal baiknya lebih banyak dari yang tidak, Mom percaya kau akan mampu mengubah bagian yang tidak baik itu menjadi sepenuhnya baik. Lalu kau bisa menjalaninya dengan tenteram tanpa beban.”
“Benarkah begitu?” Michelle terdengar meragukan izin yang diberikan ibunya barusan.
“Iya.” Sarah menegaskan. “Pokoknya kau atur saja bagaimana rencana hidup yang kau mau. Apa pun itu, Mom akan selalu mendukungmu.”
Kini Michelle tersenyum teduh mendengar itu. “Terima kasih, Mom.”
Sarah membalas dengan memberikan anggukkan kecil serta seulas senyum teduh khasnya.
Tak terasa, kini tahu-tahu makanan di piring mereka sudah habis. Mereka pun memutuskan untuk kembali ke apartemen condominium mereka yang terletak di Tower Jellyfish lantai tiga puluh enam.
•••
Michelle akui, tidak enak rasanya menjalani hari-hari sebagai pelajar yang sedang cuti—atau istilah kasarnya, pengangguran. Ia sering merasa bosan ketika harus menghadapi kesendirian hampir sepanjang hari lantaran ibunya rutin menjalani pemotretan setiap harinya, mulai dari pukul sebelas pagi sampai sembilan malam paling cepat. Ia tidak tahu harus melakukan apa di tengah kesendirian itu. Habisnya hanya itu-itu saja yang ia lakukan setiap harinya. Bangun tidur, mandi lalu sarapan. Setelahnya ia menganggur di peralihan waktu menuju makan siang, sehabis makan siang lagi-lagi ia kembali menganggur. Sesekali ia menyempatkan diri pergi ke perpustakaan umum atau sekedar jalan-jalan mengelilingi mall kalau sedang betul-betul bosan. Tapi itu jarang dilakukannya karena ia malas berada di tengah-tengah kerumunan orang asing. Hal itu membuatnya merasa tidak nyaman dan bisa memicu serangan paniknya kambuh.
Namun belakangan ini, ia tidak merasa terlalu bosan seperti biasanya. Sebaliknya, ia justru menikmati waktu sendirinya di unit apartemen besar ini. Mau tahu kenapa? Yap, ia menemukan sebuah penemuan besar yang menyita perhatiannya.
Beberapa waktu lalu tepatnya sekitar tiga minggu yang lalu, Michelle tidak sengaja menemukan kunci kamar yang dilarang keras oleh ibunya untuk ia masuki. Saat itu Michelle sedang membersihkan lantai dengan penyedot debu. Lalu kakinya tidak sengaja terantuk pot besar yang terletak di samping pintu kamar yang kata ibunya hanyalah kamar tamu berdebu lantaran tidak pernah ada yang menempati.
Michelle yang kesal, ia menendang pot itu cukup keras sampai posisinya sedikit bergeser. Dan di sanalah ia menemukan kunci tersebut. Letaknya ada di dalam lubang kecil yang seperti sengaja dibuat untuk menaruh benda kecil seukuran kunci. Walaupun lubang itu ditutupi kain tebal di atasnya, mata tajam Michelle yang menangkap adanya cekungan di tengah-tengah kain tersebut tidak bisa dibohongi.
Awalnya ia tidak berani masuk mengingat ibunya berulang kali melarangnya keras supaya jangan pernah masuk ke kamar itu. Tapi karena rasa penasaran, akhirnya ia nekat melanggar aturan tersebut.
Dibukanya kamar itu dengan kunci yang ia temukan, dan ....
Pemandangan yang menyambutnya membuatnya seketika jatuh terduduk lemas di lantai. Rupanya ibunya telah membohonginya selama ini. Isi ruangan ini bukanlah kamar tamu usang nan berdebu, melainkan berbagai benda kenangan dari masa lalu Michelle ketika ia masih berusia enam tahun ke bawah. Lebih spesifiknya, ruangan ini berisi segala sesuatu yang pernah melibatkannya dengan sosok idola masa kecilnya, yaitu ayahnya, Antony James Brume.
Ada banyak sekali benda milik sang ayah yang masih teringat jelas dalam ingatan Michelle, pernah menjadi saksi bisu atas momen-momen indahnya bersama beliau. Seperti alat-alat musik yang pernah ayahnya ajarkan padanya, mainan-mainan pemberian beliau saat natal serta ulang tahunnya, pohon natal mini yang pernah mereka hias bersama, berbagai macam bingkai foto berisi gambaran segala momen berharga yang telah mereka lalui bersama, juga yang terpenting, piano tua usang kesayangan sang ayah. Benda itu berdiri tegak di tengah-tengah ruangan, menjadi spot utama wisata masa lalu ini.
Saat menyaksikan semua itu, Michelle menangis sejadi-jadinya. Untuk pertama kalinya dalam empat belas tahun terakhir, air mata itu mengalir tanpa diiringi rasa mual yang biasanya selalu mengiringinya kala ia menangis. Mungkin karena ini adalah air mata haru rindu yang seolah menyuburkan kembali hatinya yang telah lama mati, mangkanya ia tidak terserang panik.
Tapi meski begitu, batinnya tetap terasa remuk menyaksikan pemandangan terebut. Karena ia jadi kembali teringat akan bagaimana cara ayahnya tewas terbunuh di malam bersalju itu. Yaitu karena demi melindunginya. Itulah yang membuat Michelle sesak teramat sesak. Ia merasa bersalah sekaligus rindu dalam waktu bersamaan.
Setelah mendapatkan penemuan besar itu, Michelle mengurung diri selama dua hari di kamar dengan alasan serangan paniknya kambuh lumayan parah sampai tidak bisa bertemu dengan orang lain termasuk ibunya. Tadinya Michelle ingin marah padanya karena menyembunyikan ruangan itu darinya. Ia kesal, kenapa ibunya tidak pernah jujur padanya bahwa dia juga belum bisa melupakan segala kenangan indah itu? Alih-alih dia malah berakting sok tegar dengan rutin mengucap syukur atas hidup baru mereka yang mulai membaik di tahun-tahun belakangan ini Kenapa dia begitu egois memikul lukanya seorang diri, sementara dia juga harus ikut memikul luka Michelle?
Di malam penemuan itu, Michelle merasa telah menjadi putri yang sangat jahat bagi ibunya. Ia terlalu fokus pada traumanya sendiri sampai tidak menyadari bahwa ibunya juga mengalami trauma yang sama dengannya. Mereka sama-sama masih terperangkap dalam jerat kenangan masa lalu yang mengobrak-abrik hati. Bedanya, Michelle punya ibunya di sisinya yang membantunya menghalau jerat itu. Sementara dia sendiri hanya bisa menghalau jerat tersebut dengan satu tangan karena tangannya yang lain sudah dipakai untuk menjadi perisai luka Michelle. Bayangkan, betapa malang dan menyedihkannya nasib ibunya selama ini. Sungguh rasanya Michelle ingin menghukum dirinya sendiri atas ketidak sadarannya itu.
Sejak hari itu, Michelle mulai rutin mengunjungi ruangan tersebut ketika ibunya sudah berangkat pemotretan. Di sana Michelle sesekali melihat-lihat kembali album foto lama mereka atau sekedar berbicara pada foto ayahnya menanyakan kabar beliau. Selain itu Michelle juga mulai menyentuh kembali alat-alat musik yang selama empat belas tahun terakhir ini ia lupakan begitu saja. Padahal alat musik adalah benda favoritnya saat kecil.
Entah gara-gara keseringan bermain musik atau hanya sekedar ingin bernostalgia degan benda-benda bersuara indah itu, Michelle mulai kembali menunjukkan minatnya akan musik. Bahkan saking tertariknya, ia jadi memikirkan suatu rencana gila untuk masa depannya.
Ya, ia ingin mengikuti jejak ayahnya menjadi seorang pianis terkenal. Ia ingin mengambil kuliah musik. Dan tempatnya harus lah di kota di mana semunya di mulai, yaitu New York. Itulah rencana gilanya yang masih ragu untuk ia utarakan kepada ibunya.
Nanti, ia akan mengatakannya kalau keputusannya sudah benar-benar bulat. Ini akan menjadi pilihan yang tidak mudah baginya. Ia perlu mempertimbangkannya matang-matang. Karena jika ia sudah mengambil keputusan, itu berarti ia harus bersiap melawan segala rasa takut dan traumanya.
•••