Pagi hari di hari berikutnya, suasana awkward menyelimuti antara Michelle dan Sarah. Entah ada angin apa tahu-tahu mereka seperti sudah tidak saling marahan lagi. Michelle sudah mau makan di meja makan kembali, sementara Sarah sudah mau membuatkan sarapan untuk putrinya walaupun masih sungkan bertegur sapa.
Sebetulnya keadaan ini membuat keduanya sedikit merasa lega. Karena setidaknya masing-masing dari mereka tidak lagi memasang ekspresi suram bak mayat hidup. Tapi bukankah ini sedikit aneh? Masa tiba-tiba mereka langsung baikan, sementara masalah belum terselesaikan. Apakah ini mukjizat dari Tuhan yang mengasihani sepasang ibu dan anak yang hampir tidak pernah memiliki jalan pikiran sehati? Kalau benar, entah Michelle dan Sarah harus merasa bersyukur atau justru malu.
Detik-detik menya