Untuk memahami apa yang ia standarkan, Bayu memutuskan ia harus melihat ke mana jamu itu pergi setelah keluar dari dapur. Maka Rabu subuh, saat langit masih ungu, ia menunggu di pertigaan tempat Yu Tarmi memulai rutenya. Penjual jamu gendong itu datang dengan langkah yang sudah hafal jalan, bakul botol di punggung disangga selendang batik yang warnanya pudar oleh keringat bertahun-tahun. Ia perempuan kekar berumur enam puluhan dengan suara yang ramah dan mata yang menilai cepat.
"Mau ikut?" Yu Tarmi tertawa saat Bayu menjelaskan maksudnya. "Anak muda kantoran mau jalan kaki ikut jamu gendong. Ya sudah, tapi jangan mengeluh kalau capek. Saya tidak menggendong kamu."
Mereka berjalan. Pemberhentian pertama sebuah rumah kecil di gang sempit. Seorang nenek sudah menunggu di depan pintu, sudah memegang gelasnya sendiri. "Yang biasa, Yu," katanya, dan Yu Tarmi menuang dari botol tertentu tanpa bertanya—kunyit asam dicampur sedikit jahe, untuk pegal sendi nenek itu yang katanya membaik tiap pagi. Bayu mencatat di kepalanya: pegal sendi, kunyit asam, kemungkinan efek antiinflamasi ringan, kemungkinan besar sugesti dan kebiasaan. Ia mencatat dengan hati-hati, dengan kejujuran ilmiah yang ia banggakan, tapi ia juga memperhatikan bagaimana nenek itu memegang tangan Yu Tarmi sebentar, mengabarkan cucunya, dan bagaimana Yu Tarmi mengingat nama cucu itu.
Pemberhentian kedua, seorang buruh bangunan dengan batuk kering. Ketiga, seorang ibu muda yang baru melahirkan, minta ramuan untuk memperlancar ASI. Bayu merasakan kewaspadaannya menajam di sini—ibu menyusui, bahan herbal yang tidak teruji interaksinya, ini persis area yang membuatnya tidak bisa tidur—tapi ia menahan diri, mencatat saja, mengumpulkan dulu sebelum menyimpulkan. Tiap orang punya cerita. Tiap orang percaya. Dan Bayu, dengan disiplin yang ia latih bertahun-tahun, menuliskan kata yang sama di belakang hampir semuanya: sugesti. Efek harapan. Yang membaik bukan tubuh, melainkan perasaan tentang tubuh.
Lalu mereka sampai ke rumah Pak Darso.
Pak Darso lelaki paruh baya, gemuk, dengan wajah yang ramah dan napas yang sedikit berat. Ia menyambut Yu Tarmi seperti menyambut keluarga, dan saat melihat Bayu, ia justru senang ada pendengar baru. "Anak ini mau tahu soal jamu?" katanya, menuang sendiri dari botol langganannya—rebusan daun, pahit, yang Yu Tarmi sebut "jamu kencing manis". "Saya kasih tahu, Nak. Gula darah saya dulu tinggi sekali. Dokter sudah kasih obat, saya minum. Tapi sejak rutin minum ini juga, tiap pagi, dua tahun, gula saya turun. Terakhir cek di puskesmas, bagus. Dokternya sampai heran."
Bayu hampir menuliskan sugesti lagi. Pulpennya sudah bergerak. Tapi ia berhenti. "Pak Darso minum obat dari dokter juga?"
"Iya, dong. Saya tidak bodoh. Obat tetap, jamu juga."
"Setiap hari, dua-duanya?"
"Setiap hari."
Bayu diam. Otak QC-nya yang terlatih untuk curiga mulai bekerja ke dua arah sekaligus, dan dua-duanya membuatnya tidak nyaman. Arah pertama: mungkin yang menurunkan gula Pak Darso memang obat dokternya, dan jamunya cuma penumpang yang kebagian pujian—sugesti klasik, korelasi yang disangka sebab. Tapi arah kedua, yang justru membuatnya merinding: bagaimana kalau jamu itu memang punya efek menurunkan gula darah yang nyata, terukur, dan bertumpuk dengan obat dokter? Karena kalau begitu, Pak Darso sedang menjalani percobaan obat ganda tanpa pengawasan siapa pun, dan suatu hari gulanya bisa turun terlalu dalam, dan tidak akan ada satu pun catatan yang bisa menjelaskan kenapa.
Ini, sadarnya, bukan sekadar pertanyaan apakah jamu bekerja. Ini pertanyaan yang jauh lebih tajam: kalau jamu bekerja, justru di situ bahayanya, karena tak seorang pun memperlakukannya seperti obat yang bekerja.
"Pak Darso pernah cerita ke dokter bahwa Bapak minum jamu ini?" tanya Bayu.
Pak Darso tertawa, lalu agak menggeleng. "Tidak. Nanti dimarahi. Dokter kan tidak suka pasiennya minum jamu." Ia menepuk pundak Bayu, ramah. "Kamu tidak laporkan saya, ya?"
Di perjalanan pulang dari rute itu, kaki Bayu pegal seperti yang dijanjikan Yu Tarmi, tapi pikirannya jauh lebih lelah daripada kakinya. Yu Tarmi berjalan di sampingnya, ringan, bakulnya sudah jauh lebih ringan dari subuh tadi. "Kamu kelihatan bingung," katanya. "Tadi pagi kamu yakin sekali semua ini bohong. Sekarang mukamu kaya orang yang baru tahu mungkin salah."
"Saya tidak bilang bohong," Bayu membela diri. "Saya bilang belum terbukti."
"Sama saja di telinga orang, Nak," kata Yu Tarmi tanpa marah. "Tapi tidak apa-apa. Saya sudah jualan ini empat puluh tahun. Saya tahu mana pelanggan yang sembuh karena percaya, mana yang sembuh karena memang cocok jamunya. Bedanya halus. Yang percaya, kalau ganti penjual, sembuhnya hilang. Yang cocok, dia akan cari jamu yang sama walau penjualnya ganti." Ia menatap Bayu. "Pak Darso itu yang cocok. Saya berani taruhan. Tapi kamu tidak akan percaya saya sampai mesinmu yang bilang, kan?"
Bayu tidak menjawab, karena jawabannya iya, dan ia tahu betapa kalimat itu akan menyakitkan kalau diucapkan. Tapi malam itu, di kamar kontrakannya, ia membuka laptop dan mulai menyusun daftar prioritas pengujian. Di baris paling atas, ia menulis: rebusan daun Pak Darso—uji kandungan, uji kemungkinan efek hipoglikemik, periksa interaksi dengan obat antidiabetes. Ia menatap baris itu lama. Ia datang ke Tamansari untuk membuktikan bahwa jamu adalah air rebusan tanpa data. Sekarang, melawan dirinya sendiri, ia mulai berharap—dengan rasa cemas yang lebih besar dari penasaran—bahwa setidaknya satu di antaranya benar-benar bekerja. Karena kalau iya, ada nyawa yang sedang menggantung di antara dua takaran yang tak pernah saling bicara.