Bayu kembali ke Tamansari hari Selasa, kali ini bukan dengan timbangan tapi dengan strategi berbeda: ia akan mendengarkan dulu, memetakan, baru mengukur. Ia datang lebih pagi, saat los pasar masih basah dan asap dari kuali-kuali pertama naik tipis. Ia menemukan dapur Mbah Kunto sudah ramai. Tapi yang membuatnya berhenti di mulut gang bukan Mbah Kunto. Di meja kayu samping rak botol, seorang perempuan muda sedang membungkuk di atas laptop, di sebelahnya tumpukan rimpang dan sebuah buku catatan lab yang—Bayu mengenalinya dari jauh—berisi tabel-tabel yang rapi, bukan tulisan tangan tradisional.
Ia mengira ia satu-satunya orang berbahasa sains di kampung ini. Anggapan itu runtuh dalam satu menit.
"Kamu yang dari Wreksa Hayati," kata perempuan itu, menutup laptopnya separuh, menilai Bayu tanpa basa-basi. "Sekar. Cucunya Mbah Kunto." Ia menjabat tangan Bayu dengan jabatan yang tegas. "Saya dengar kamu minta Mbah menyebut berapa gram temulawak, lalu pulang dengan buku kosong."
Bayu merasakan wajahnya memanas sedikit. "Kabar cepat di sini."
"Mbah cerita ke semua orang. Lucu, katanya." Sekar tidak tersenyum saat mengatakannya, tapi ada kilat di matanya. "Saya lagi riset fitofarmaka. Tesis. Standardisasi ekstrak temulawak, kebetulan—markernya xantorizol dan kurkuminoid. Jadi kalau kamu mau ngobrol soal kadar, simplisia, atau variabilitas batch, saya bisa ikut. Tapi kalau kamu mau ngobrol soal itu sambil menganggap kampung ini tidak ngerti apa-apa, sebaiknya kamu pulang lagi."
Bayu berdiri sejenak, menyusun ulang seluruh rencananya. Kata-kata yang ia kira monopolinya—simplisia, marker, variabilitas batch—keluar dari mulut perempuan ini dengan ketenangan orang yang memakainya tiap hari. Ia mendadak sadar betapa ia datang dengan asumsi yang memalukan: bahwa pengetahuan hanya datang dari satu arah, dari lab ke dapur, dari dia ke mereka.
"Saya tidak menganggap kampung ini tidak mengerti apa-apa," katanya, memilih kata-katanya. "Saya menganggap kampung ini tidak punya data. Itu dua hal berbeda."
"Tidak punya data tertulis," Sekar mengoreksi. "Bukan tidak punya pengetahuan. Mbah tidak menulis berapa gram, tapi dia bisa memilih temulawak yang xantorizol-nya tinggi dari baunya, dari getahnya, dari warna potongannya—dan saya sudah mengeceknya di lab kampus. Dia benar delapan dari sepuluh kali. Tanpa instrumen. Kamu tahu berapa lama saya butuh belajar untuk benar enam dari sepuluh dengan instrumen?"
Bayu tidak punya jawaban siap untuk itu. Ia menarik bangku, duduk tanpa diundang, yang membuat Sekar mengangkat alis tapi tidak mengusirnya. "Oke," kata Bayu. "Anggap saya percaya Mbah bisa memilih bahan bagus dengan inderanya. Itu bakat, dan saya menghormatinya. Tapi bakat tidak bisa diwariskan ke pabrik. Tidak bisa diwariskan ke seribu botol per hari. Tidak bisa diuji di komisi etik. Saat Mbah tidak ada lagi—maaf saya bicara terus terang—pengetahuan itu hilang. Kecuali kita tuliskan. Kecuali kita ubah jadi sesuatu yang bisa diulang orang lain."
Untuk pertama kali, Sekar diam agak lama. Sesuatu melintas di wajahnya yang Bayu tidak bisa baca—bukan kemarahan, lebih dekat ke luka lama yang tersentuh. Lalu ia menutup laptopnya penuh.
"Itu justru kenapa saya pulang ke sini," katanya, suaranya lebih rendah. "Kamu pikir kamu satu-satunya yang khawatir pengetahuan ini mati? Saya tinggalkan kampung ini tujuh tahun untuk kuliah. Saya kira saya akan kembali membawa cara menyelamatkannya. Ternyata yang saya pelajari di kampus malah membuat saya bisa membuktikan setengah dari yang Mbah yakini mungkin tidak ada gunanya, dan setengah lagi mungkin justru lebih berbahaya dari yang dia kira." Ia menatap Bayu lurus. "Jadi jangan datang ke saya dengan pidato kamu soal bakat yang hilang. Saya tidur dengan ketakutan itu tiap malam, jauh sebelum kamu datang bawa map."
Bayu menelan kalimatnya. Ia datang menyiapkan diri melawan tradisionalis keras kepala. Ia tidak siap menghadapi seseorang yang berdiri di tempat yang persis sama dengannya, hanya dengan kaki yang satu menjejak di dapur ini.
Mbah Kunto muncul dari belakang, membawa nampan berisi gelas-gelas. Ia meletakkan satu di depan Bayu—beras kencur, masih hangat, warnanya keruh keemasan—dan satu di depan Sekar. "Sudah ketemu," katanya, lebih ke pernyataan daripada pertanyaan. "Bagus. Yang satu menulis pakai tangan, yang satu menulis pakai mesin. Sekarang berantemlah yang pintar, jangan yang bodoh." Ia duduk, menyeruput jamunya sendiri, tampak puas seperti orang yang baru saja mempertemukan dua orang yang memang harus saling berhadapan.
Bayu mengangkat gelasnya, ragu, lalu meminum. Rasanya hangat, manis, sedikit pedas dari kencur, dengan jejak asam yang ia tidak bisa namai. Tubuhnya merespons sebelum otaknya sempat protes—ada rasa nyaman yang menyebar, dan ia langsung mencatatnya secara mental sebagai sugesti, lalu mencatat juga bahwa ia mencatat itu terlalu cepat, terlalu defensif, seperti orang yang takut pada jawaban yang belum ia dengar.
"Enak," akui Bayu, karena memang enak.
"Itu yang tidak ada di buku catatanmu," kata Mbah Kunto tenang. "Kamu bisa tulis berapa gram kencur. Kamu tidak bisa tulis kenapa orang sakit lambung lebih senang minum dari tangan saya daripada dari pil dokter. Bukan karena pil dokter salah. Pil dokter benar. Tapi ada yang dia obati, ada yang saya obati. Tidak sama."
"Atau itu cuma karena Mbah ramah dan dokter buru-buru," sahut Sekar, dan untuk sesaat Bayu kaget mendengar cucu itu menantang kakeknya sendiri di depan orang asing. "Jangan-jangan yang menyembuhkan bukan kencurnya, Mbah. Itu yang harus kita uji. Kita tidak boleh menipu diri sendiri cuma karena kita sayang sama yang kita kerjakan."
Mbah Kunto tidak tersinggung. Ia memandang cucunya dengan kasih yang bercampur kekeraskepalaan. "Ujilah. Saya tidak takut diuji. Saya cuma takut diukur oleh orang yang tidak tahu apa yang dia ukur."
Bayu menyimpan kalimat itu, sadar bahwa hari ini tidak ada yang ia menangkan dan tidak ada yang ia kalahkan. Ia datang mengira tugasnya soal angka. Ia pulang dengan kesadaran yang tidak nyaman: bahwa pihak yang ia remehkan punya argumen yang ia belum siap melawannya, dan bahwa orang yang paling bisa membantunya—Sekar—adalah orang yang paling tidak akan membiarkannya menang dengan mudah.