Laboratorium QC Wreksa Hayati adalah kebalikan dari dapur Mbah Kunto dalam segala hal, dan Bayu menyukainya karena itu. Lantai vinil yang berkilat, lampu yang berpendar putih tanpa bayangan, suhu dua puluh dua derajat yang dijaga konstan, dan bau yang ia kenal seperti bau rumah: etanol, kertas dokumen mutu, dingin logam timbangan analitik. Di sini tidak ada cuaca. Di sini hujan di luar tidak mengubah apa pun.
Pagi itu ia memaparkan rencananya di ruang rapat berdinding kaca. Hadir Pak Wibowo dari manajemen—lelaki efisien yang selalu melirik jam tangannya seolah waktu sedang mencuri darinya—dan dr. Lestari Mawarni, peneliti klinis perusahaan, perempuan sekitar empat puluh tahun dengan kacamata yang sering ia dorong ke pangkal hidung saat berpikir. Bayu menampilkan slide pertama. Judulnya satu kalimat yang ia yakini sepenuh hati: Keseragaman adalah keamanan.
"Inti pekerjaan saya," katanya, "adalah membuat satu botol sama dengan satu botol. Sekarang, racikan di Tamansari tidak terstandar sama sekali. Tiap peracik, tiap hari, tiap pelanggan, takarannya beda. Itu mungkin indah sebagai tradisi, tapi sebagai produk yang akan dikonsumsi orang banyak, itu mimpi buruk. Kita tidak bisa menjamin keamanan kalau kita tidak tahu persis apa isi tiap botol. Kita tidak bisa menempuh uji efikasi—membuktikan jamunya benar bekerja—kalau bahan ujinya sendiri berubah-ubah. Standardisasi bukan menghapus jamu. Standardisasi yang memungkinkan jamu masuk ke sistem yang melindungi orang."
Pak Wibowo mengangguk puas. "Berapa lama sampai kita punya formula baku yang siap didaftarkan?"
"Itu tergantung," kata Bayu hati-hati. "Saya butuh memetakan dulu variasinya. Tapi prinsipnya jelas."
dr. Lestari belum mengangguk. Ia mendorong kacamatanya. "Prinsipmu benar, Bayu. Secara sains, aku tidak punya keberatan satu pun. Tanpa keseragaman, tidak ada uji yang valid, tidak ada izin edar, dan—aku setuju—tidak ada keamanan yang bisa dijamin." Ia berhenti. "Tapi aku sudah cukup lama berurusan dengan ini untuk tahu satu hal. Keseragaman juga bisa menghapus hal yang membuat ramuan ini berarti bagi orang yang meminumnya. Kamu sudah ke sana. Kamu lihat sendiri, mereka tidak datang ke peracik karena mau membeli dosis. Mereka datang karena diracikkan untuk mereka."
"Itu sentimen, Dok," kata Bayu, lebih cepat dari yang ia mau. "Dengan segala hormat. Perasaan diperhatikan itu nyata, saya tidak menyangkal, tapi itu bukan khasiat. Kita tidak mendaftarkan perasaan ke BPOM."
Lestari tersenyum tipis, tidak tersinggung. "Tidak. Kita tidak. Tapi aku hanya mau kamu mengingat satu hal sambil bekerja: hati-hati membedakan mana yang kamu buang karena memang tidak berkhasiat, dan mana yang kamu buang cuma karena kamu tidak punya alat untuk mengukurnya. Dua-duanya kelihatan sama dari kursi lab."
Kalimat itu mengganggu Bayu, dengan cara yang sama seperti kalimat Mbah Kunto kemarin, dan ia membenci bahwa dua orang yang sangat berbeda menusuk tempat yang sama. Ia tidak menjawab. Rapat berlanjut ke jadwal dan anggaran, Pak Wibowo melirik jamnya tiga kali lagi, dan menjelang siang Bayu turun ke lab dengan satu kotak berisi sampel yang ia kumpulkan kemarin: dua belas botol jamu kunyit asam dari peracik-peracik berbeda di Tamansari, semuanya "resep yang sama", semuanya "aman", semuanya dijual ke orang-orang nyata setiap pagi.
Ia ingin membuktikan poinnya sendiri. Ia menyiapkan sampel, menjalankan analisis sederhana untuk mengukur kadar kurkumin—senyawa kuning di kunyit yang selama ini dianggap zat aktifnya—dengan instrumen kromatografi cair yang ia percayai lebih dari ia mempercayai sebagian besar manusia. Mesin itu memisahkan tiap komponen dalam cairan, menghitungnya, menggambar grafik puncak yang tidak bisa berbohong. Ia memasukkan botol pertama, menunggu, mencatat. Botol kedua. Ketiga. Ia bekerja metodis, tenang, sampai angka mulai berbaris di layar, dan ketenangannya pelan-pelan retak.
Variasinya liar. Botol dari peracik di los utara mengandung kurkumin hampir tiga kali lipat dari botol peracik di gang belakang. Satu botol nyaris kosong dari zat aktif—seperti air kunyit yang diencerkan berlebihan. Satu lagi pekat sampai Bayu mengeceknya dua kali karena ia kira ada kesalahan injeksi. Tidak ada kesalahan. Itu memang isinya. Dua belas botol yang dijual sebagai "jamu yang sama", diminum oleh ibu hamil, oleh lansia, oleh anak-anak, mengandung dosis zat aktif yang rentangnya cukup lebar untuk membuat seorang petugas QC mana pun pucat.
Bayu duduk lama menatap grafik-grafik itu. Bukan kemenangan yang ia rasakan, meski ini membuktikan persis yang ia katakan di rapat. Yang ia rasakan justru ketakutan yang dingin dan akrab, ketakutan yang sudah lama ia kira ia kubur. Karena angka-angka ini bukan abstraksi. Di balik tiap puncak grafik ada seorang Yu Tarmi yang menggendong bakul, ada seorang nenek yang membeli dengan uang receh, ada bayi yang ASI ibunya bercampur entah berapa kadar zat ini. Selama ini orang-orang itu beruntung. Tubuh manusia memaafkan banyak hal. Tapi keberuntungan bukan keamanan, dan ketiadaan korban bukan bukti tidak ada bahaya—itu pelajaran yang sudah ia bayar mahal di tempat kerja lamanya, pelajaran yang tidak ia ceritakan pada siapa pun di Wreksa Hayati.
Lestari menemukannya masih di sana menjelang sore, layar penuh grafik. Ia melihat dari balik bahu Bayu, membaca angka-angka itu dalam diam, lalu menghela napas panjang.
"Liar," gumam Bayu, tanpa menoleh. "Benar-benar liar, Dok. Tidak terkendali."
"Ya," kata Lestari pelan. "Dan kamu benar bahwa ini berbahaya. Aku tidak akan pura-pura bilang tidak." Ia menarik kursi, duduk di samping Bayu. "Tapi aku mau kamu menahan satu kalimat yang kelihatannya jelas tapi belum tentu benar."
"Kalimat apa?"
"Bahwa yang kadarnya paling tinggi itu yang paling manjur, dan yang paling rendah itu sampah. Kita belum tahu itu. Mungkin ada yang justru terlalu tinggi sampai berbahaya. Mungkin yang rendah itu memang sengaja diracik begitu untuk orang yang tidak tahan dosis kuat. Kita baru tahu botolnya beda. Kita belum tahu mana yang benar." Ia melepas kacamatanya, memijit pangkal hidungnya. "Standardisasimu perlu, Bayu. Sangat perlu. Tapi jangan keliru mengira keseragaman itu sendiri jawabannya. Kita masih harus memutuskan: seragam di angka berapa? Punya siapa angka yang benar itu?"
Bayu tidak menjawab. Di luar jendela lab, langit mulai oranye. Di kepalanya, dua belas grafik bertumpuk dengan suara Mbah Kunto—sudah mati begitu kamu menulisnya—dan untuk pertama kali sejak ia menerima kontrak ini, ia menyadari bahwa pekerjaannya tidak akan selesai dengan timbangan.