Dua potong pai apel terakhir berada di dalam kotak ketika bel pintu berbunyi. Dara membukanya kembali. Ia memindahkan pai ke piring, memilih garpu yang ujungnya tidak bengkok, lalu merasa kesal karena tangannya melakukan semua itu bahkan sebelum ia memutuskan apakah malam ini ingin bersikap ramah.
Bima menurunkan payung di dekat pintu. Kali ini bajunya kering. Kedai hanya menyisakan seorang pelanggan dengan buku tebal, yang mengangkat gelas untuk meminta air putih.
'Boleh duduk?' tanya Bima.
'Kalau bisa menghindari meja yang masih penuh remah.'
Bima memilih kursi dekat jendela. Dara melayani pelanggan terakhir, memeriksa pesan pesanan untuk Senin, lalu membawakan piring mereka. Ia mulai dengan cerita taplak meja. Bima tertawa pada bagian Raka menunggu panggilan proyek yang tidak pernah datang. Dara ikut tertawa, tetapi memperhatikan bahwa Bima tidak menyentuh pai ketika ia mengatakan mereka bertukar nomor.
'Namanya Raka,' katanya lagi, meskipun sudah menyebutkannya.
'Aku dengar.'
'Arsitek. Dia orang baik.'
'Bagus.'
Dara menekan garpu pada kulit pai. Jawaban itu terdengar tepat dan menyebalkan. Pelanggan di sudut menutup buku, membayar, lalu pergi dengan ucapan terima kasih yang terlalu cerah untuk suasana meja mereka. Dara mengunci pintu setelah membalik papan. Ketika kembali, Bima sudah menggeser piringnya agar ia bisa meletakkan gelas tanpa berdesakan.
'Kamu tidak ingin tahu apakah aku menyukainya?'
Bima memandangnya. 'Kalau kamu menyukainya, kamu akan cerita.'
'Kalau aku belum tahu?'
'Kamu baru bertemu. Tidak harus langsung memutuskan.'
'Mudah sekali kedengarannya kalau bukan kamu yang perlu diputuskan.'
Kalimat itu keluar sebelum Dara sempat memilih nada. Bima meletakkan garpu. Suara pendingin terdengar lebih keras setelah mereka diam. Dara hampir mengatakan bahwa ia hanya lelah, hampir menarik semua kata kembali ke tempat semula.
'Aku termasuk yang perlu kamu putuskan?' tanya Bima.
Dara menyapu remah dengan ibu jari. Ia tahu laki-laki itu akan menunggu, dan pengetahuan tersebut biasanya membuatnya merasa terlindungi. Malam ini ia justru ingin Bima tidak menunggu. Ia ingin ditanya sesuatu yang tidak mungkin dijawab dengan anggukan.
'Aku tidak bisa menjawab soal Raka seolah kita tidak punya apa-apa.'
'Kita tidak pernah bilang tidak punya apa-apa.'
'Kita juga tidak pernah bilang apa yang kita punya.'
Wajah Bima berubah sedikit. Ia bersandar, lalu maju lagi, kedua telapak tangannya mengapit piring. Dara pernah melihat gerakan itu ketika ia berusaha menjelaskan mengapa tak bisa datang ke ulang tahun teman mereka. Mencari kalimat yang tidak mengecewakan orang lain.
'Hari ini Ibu memutuskan bahwa aku cocok dengan seseorang,' kata Dara. 'Aku tidak mau pulang lalu melakukan hal yang sama. Memutuskan kamu merasa sesuatu hanya karena kamu duduk di sini.'
'Aku memang ingin duduk di sini.'
'Aku tahu. Itu yang membuatku sulit.'
Dara berdiri untuk mengambil minum. Bima tidak mengikutinya ke meja bar. Ia menuang air sampai terlalu penuh, menyesapnya sebelum kembali, lalu menaruh gelas di atas serbet. Tetes air menggelapkan kain itu perlahan.
'Dulu Ibu selalu membandingkan caraku dengan Lani,' katanya. 'Lani lebih mudah diajak bicara. Lani tahu memilih baju. Lani tidak perlu diingatkan menelepon saudara. Kalau aku marah, aku yang merusak suasana.'
Bima mengangkat wajah. 'Adikmu tahu?'
'Sebagian. Kami tidak selalu bertengkar. Kadang aku malah marah padanya karena Ibu memujinya, padahal dia tidak melakukan apa-apa.'
Ia teringat makan malam saat masih bekerja kantoran. Ashila memuji promosi seorang sepupu, lalu bertanya mengapa Dara justru ingin membuka kedai. Ayah menambah nasi ke piringnya tanpa ikut bicara. Setelah itu Dara menangis di kamar mandi, mencuci muka, dan kembali memuji masakan agar semua orang bisa melanjutkan makan.
'Ayah sayang padaku,' katanya. 'Dia membantu waktu aku mulai usaha. Tapi kalau Ibu sedang memutuskan hidupku, Ayah sering menunggu sampai kami berdua lelah.'
'Tadi dia bicara.'
'Iya. Aku senang. Aku juga ingin bertanya kenapa baru sekarang.'
Bima mengangguk pelan. Dara tidak merasa lebih ringan karena mengatakan itu. Dadanya justru sakit, seperti setelah membawa barang terlalu berat dan akhirnya menurunkannya. Ia menatap pai yang tinggal separuh, lalu mendorong piring menjauh.
'Aku tidak ingin kamu merasa harus memilihku karena aku sedang kesulitan dengan Ibu.'
'Aku tidak merasa begitu.'
'Tadi aku hampir bilang akan menemui Raka lagi hanya untuk melihat wajahmu,' Dara mengaku. Ia menatap Bima sebentar, lalu menunduk. 'Aku tidak mau menjadikan orang baik sebagai ancaman. Aku juga tidak suka mendengar diriku sendiri memikirkan hal itu.'
Bima menekan ujung jarinya pada meja. 'Kamu tidak perlu membuatku cemburu supaya aku mendengar.'
'Kalau begitu dengarkan bagian yang paling sulit.'
'Tapi Raka tidak membuatku gugup. Kamu membuatku gugup bahkan sebelum masuk pintu.'
Bima mengusap rahang. Dari luar terdengar sepeda motor melewati genangan. Dara menunggu sampai suara itu menjauh.
'Kamu pernah ingin mengubah kesepakatan kita?' tanyanya.
'Pernah.'
Harapan muncul terlalu cepat. Dara menahannya dengan merapatkan tangan pada tepi kursi. 'Lalu kenapa tidak bilang?'
'Karena aku belum tahu apakah aku sanggup menjalani hubungan yang kamu inginkan.'
'Kamu belum pernah bertanya seperti apa yang kuinginkan.'
Bima membuka mulut, lalu menutupnya. Tidak ada gurauan untuk membuat malam lebih ringan. Dara bersyukur untuk itu, walaupun ia ingin sekali menemukan sesuatu yang bisa ditertawakan.
'Aku takut kehilangan orang,' kata Bima akhirnya. 'Lalu mengambil jalan yang kelihatannya tidak perlu banyak janji.'
'Kamu tetap bisa kehilangan aku dengan cara itu.'
Bima mengulurkan tangan di atas meja. Ia berhenti saat Dara tidak bergerak. Biasanya Dara yang akan menutup jarak terakhir, membuktikan bahwa mereka masih baik-baik saja. Malam ini ia mengambil piring dan berdiri.
'Pulanglah dulu, Bim.'
'Dara...'
'Aku ingin bicara lagi ketika kamu tahu mau apa. Aku tidak sanggup menebak sambil terus membuatkan teh.'
Bima berdiri perlahan. Ia mengenakan tas, mengambil payung yang sudah tidak menetes, lalu menunggu ketika Dara membukakan pintu. Tidak ada ciuman singkat di kening. Setelah langkahnya hilang, Dara kembali ke meja. Pai di piring Bima masih hampir utuh. Ia menutupnya dengan kotak makanan, mematikan pendingin pajangan, dan baru menyadari bahwa tangannya gemetar ketika berusaha memasang tutup.