Seminggu setelah malam dengan pai yang tidak habis, Dara masih memeriksa telepon lebih sering daripada daftar belanja. Bima mengirim pesan, tetapi kebanyakan tentang hal yang bisa dijawab dalam satu baris. Sudah makan? Atapnya masih menetes? Ia membalas dengan kabar singkat dan tidak mengusulkan agar laki-laki itu datang.
Pada Jumat, sebuah foto kucing muncul. Kucing abu-abu itu duduk di dalam keranjang, menatap kamera dengan wajah tersinggung. Bima menjelaskan bahwa seorang anak membawanya ketika mengantar ibunya ke klinik tempat ia menjadi relawan. Pemilik kecilnya menolak berangkat sebelum yakin keranjangnya tidak ditinggal sendirian di rumah.
Dara mengetik: Jadi kamu punya petugas keamanan baru.
Balasan Bima datang beberapa menit kemudian: Lebih galak daripada petugas lama.
Ia tersenyum. Tangannya nyaris menanyakan kapan Bima selesai bekerja. Ia menaruh telepon di rak tepung dan membuka buku pemasok. Ada selisih harga yang harus ditanyakan sebelum pesanan berikutnya, dan membiarkannya sampai malam hanya akan membuatnya lupa lagi.
Sabtu sore, Raka menunggu di depan toko buku dengan kantong kertas terlipat di bawah lengan. Dara datang sesudah jam sibuk kedai mereda. Ia sudah memberi tahu pegawai yang bertugas kapan akan kembali dan meninggalkan nomor pesanan yang belum diambil. Meski begitu, langkahnya sempat tertahan di depan pintu toko. Ia merogoh telepon untuk memeriksa apakah ada masalah.
'Kalau perlu membalas dulu, tidak apa-apa,' kata Raka.
'Tidak ada apa-apa. Kebiasaan.'
'Aku juga begitu kalau sedang menunggu kabar proyek. Mengganggu benda di saku seolah bisa mempercepat pekerjaan.'
Dara memasukkan telepon kembali. Mereka memesan kopi di sudut toko yang menyediakan tiga meja kecil. Di belakang Raka, rak buku anak dipasangi hiasan kertas yang salah satu ujungnya lepas. Dara hampir mengulurkan tangan untuk memperbaikinya sebelum ingat bahwa ini bukan kedainya.
'Kamu sering kemari?' tanyanya.
'Kalau perlu mencari alasan membeli buku yang belum tentu kubaca.'
'Aku punya beberapa alasan seperti itu di meja samping tempat tidur.'
Raka menunjukkan kantongnya. Sebuah buku tentang bangunan lama berada di dalam. Ia membelinya karena ada foto tangga yang mengingatkannya pada rumah nenek, lalu mengaku belum membaca satu halaman pun. Dara menyukai pengakuan itu. Raka tidak berusaha menjadikan semua kesukaannya bukti bahwa ia menarik.
Kopi mereka datang bersama dua gelas air. Raka bertanya bagaimana Dara memutuskan meninggalkan kantor. Untuk sesaat, Dara menyiapkan jawaban yang biasa ia pakai di depan kerabat: perhitungan usaha, kesempatan yang terlihat, rencana yang matang. Ia menyesap kopi sebelum memilih jawaban lain.
'Aku pernah menangis karena mesin fotokopi macet,' katanya.
Raka tidak langsung tertawa. 'Mesinnya sangat penting?'
'Hari itu rasanya begitu. Setelah pulang, aku sadar aku tidak mau menghabiskan tahun berikutnya dengan perasaan yang sama. Aku suka membuat kue, tapi keputusan membuka kedai tetap menakutkan.'
'Masih takut sekarang?'
'Kalau pembayaran pemasok dan sewa datang berdekatan, sangat.'
Ia tidak merasa perlu menambahkan bahwa kedainya selalu ramai. Raka bercerita tentang rancangan yang pernah ditolak sesudah dikerjakan sampai larut, lalu menunjukkan foto sebuah jendela yang terpasang sedikit meleset dari gambar. Kliennya menyukai hasil itu. Ia sendiri masih melihat kesalahannya setiap kali melewati bangunan tersebut.
'Aku punya kue seperti itu,' kata Dara. 'Semua orang bilang enak. Aku tahu bagian tengahnya seharusnya lebih lembut.'
'Jadi kita berdua tidak layak jadi pelanggan sendiri.'
Sesudah kopi habis, mereka melihat rak novel. Raka mengambil sebuah cerita detektif yang pernah Dara baca. Dara mengeluhkan kebiasaan penulisnya membela pelaku, sedangkan Raka merasa tokoh jahat tidak perlu selalu dibuat kejam dalam semua hal. Perdebatan itu mengikuti mereka sampai kasir. Raka membeli novel tersebut, Dara memilih buku resep bekas, dan keduanya sepakat berdebat lagi sesudah Raka selesai membaca.
Saat menunggu kembalian, telepon Dara menyala. Ibunya menanyakan apakah Raka sudah menjemput. Dara mengerutkan kening. Ia bahkan belum memberi tahu bahwa mereka akan bertemu. Raka melihat nama di layar dan menghela napas pendek.
'Ibuku bertanya tadi pagi. Aku bilang akan minum kopi,' katanya. 'Sepertinya kabar itu lebih cepat daripada kami.'
Dara menjawab ibunya bahwa ia berangkat sendiri, lalu memasukkan telepon ke tas tanpa melaporkan acara berikutnya. Raka menahan pintu agar seorang pengunjung bisa lewat bersama anaknya.
'Lain kali aku akan lebih hemat cerita,' katanya.
'Kamu boleh cerita. Aku cuma tidak ingin harus mengirim laporan sesudahnya.'
'Kalau soal novel ini, laporannya tetap wajib?'
'Tentu. Aku yang mengawasi itu.'
'Dengan senang hati. Tapi jangan beri tahu halaman pengakuannya.'
'Aku tidak sekejam itu.'
'Baru tadi kamu bilang akan menulis catatan di sampul.'
Dara tertawa sambil menahan pintu. Udara sore lembap, tetapi hujan sudah berhenti. Mereka berjalan di trotoar menuju kedai, melewati toko yang sedang menurunkan sebagian tirainya. Raka menyesuaikan langkah ketika Dara berhenti untuk membiarkan seorang pembawa barang lewat. Ia tidak mengambil tas Dara atau meraih tangannya seolah kebersamaan dua jam memberi hak tertentu.
Di depan kedai, Dara melihat pegawainya melayani dua pelanggan. Tidak ada kebakaran, tidak ada telepon darurat, dan pesanan yang ia khawatirkan sudah berpindah dari meja pengambilan. Ia menarik napas yang sejak tadi tidak disadarinya tertahan.
'Aku senang sore ini,' kata Raka.
'Aku juga.'
'Kalau kamu mau, kita bisa bertemu lagi.'
Dara menatap buku di tangannya. Ia sungguh menikmati sore tersebut. Pada saat yang sama, telepon di tasnya masih terasa seperti sesuatu yang sedang ia tunggu berbunyi. Ia tidak ingin menjawab Raka hanya untuk membuktikan bahwa ia dapat pergi dengan laki-laki lain.
'Aku mau mengenalmu lagi,' katanya. 'Tapi pelan-pelan. Aku sedang tidak terlalu pandai memahami perasaanku sendiri.'
'Baik. Aku tidak akan meminta jawaban yang belum kamu punya.'
'Kalau jawaban itu berubah, aku akan bilang.'
Raka mengangguk. Ia menyinggung novel detektif sekali lagi, membuat Dara tertawa ketika mereka berpisah. Dari ambang kedai, Dara mengawasinya berjalan menuju ujung trotoar. Ia baru hendak masuk ketika melihat Bima di seberang jalan. Laki-laki itu memegang kantong kecil, berdiri diam di antara orang-orang yang terus melangkah. Dara menurunkan tangan yang tadi dipakai melambai, lalu mengangkatnya lagi untuk memanggil.