Bima tidak segera menyeberang. Sebuah mobil lewat di antara mereka, disusul dua sepeda motor. Dara menunggu sampai jalan lengang, lalu mendekat sendiri. Kantong di tangan Bima bertuliskan nama apotek. Ujungnya menggelembung oleh kotak kecil dan sebungkus permen pelega tenggorokan.
'Kamu bisa masuk,' kata Dara.
'Aku tidak tahu kamu sedang pergi.'
'Tadi. Sekarang sudah pulang.'
Bima memandang ke arah yang ditempuh Raka. Dara merasakan dorongan aneh untuk segera menjelaskan sore mereka, seolah harus menunjukkan bahwa tak ada sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Ia menahannya. Beberapa hari lalu ia memang mengeluh tenggorokan kering melalui pesan, tetapi tidak meminta Bima menunggu di luar kedai.
'Kamu sudah lama di sini?'
'Belum. Aku baru keluar dari apotek.'
'Terima kasih sudah membawakan. Ayo, berdiri di sini membuatku merasa ikut menghalangi jalan.'
Di dalam, Bima memilih meja dekat jendela. Dara menyimpan kantong itu di belakang meja bar, lalu membantu menyelesaikan pesanan yang masuk bersamaan. Ia mendengar suara Bima menyapa pegawai yang hendak pulang. Mereka berbicara singkat tentang hujan. Biasanya ia menyukai cara Bima mengenal bagian-bagian kecil kehidupannya; sekarang semua keakraban itu membuatnya perlu menahan diri agar tidak langsung mengambil dua cangkir.
'Mau minum apa?' tanyanya dari belakang meja.
Bima tampak terkejut. 'Yang biasa boleh.'
'Jahe atau kopi?'
'Jahe.'
Dara membuat satu teko kecil. Ia menyelesaikan hitungan pergantian tugas, meletakkan buku penjualan di laci, lalu duduk di hadapan Bima. Kantong dari toko buku berada di kursi sampingnya. Bima melihat judul novel yang menyembul, tetapi tidak berkomentar.
'Raka?' tanyanya setelah beberapa saat.
'Iya.'
'Kalian bertemu lagi.'
'Kami minum kopi. Lalu memperdebatkan akhir buku.'
Bima mengangguk. Ujung ibu jarinya bergerak sepanjang pegangan cangkir. Dara mulai menuang teh untuk dirinya, lalu berhenti saat Bima berbicara.
'Aku tidak punya hak untuk cemburu.'
'Benar.'
Jawaban itu membuat keduanya diam. Dara tidak ingin terdengar kejam, tetapi ia juga lelah menawarkan kalimat yang akan membuat Bima merasa lebih baik sambil meninggalkan pertanyaannya sendiri. Ia menyelesaikan menuang teh dan menaruh teko di tengah meja.
'Aku juga belum tahu apakah aku siap menjalani hubungan serius,' kata Bima.
'Kamu sudah bilang minggu lalu.'
'Aku tahu. Tapi melihatmu tadi...'
Bima berhenti. Dara menatap tangan laki-laki itu, mengenali gurat kecil di dekat buku jarinya, bekas luka yang dahulu dibicarakan dengan gurauan terlalu panjang. Ia ingin menyentuhnya. Keinginan itu tidak menghilang hanya karena ia sedang marah.
'Melihatku tadi apa?' tanyanya.
'Aku tidak suka membayangkan kamu pulang bersama orang lain.'
Di meja sebelah, seorang pelanggan memindahkan kursi. Dara menunggu suara gesekan berhenti, lalu merendahkan suaranya. 'Aku bisa mengerti kamu merasa begitu. Tapi apa yang harus kulakukan dengan itu?'
'Aku tidak sedang melarangmu.'
'Aku tahu. Aku cuma tidak mau pulang nanti dan merasa perlu menghentikan sesuatu supaya kamu tidak sedih.'
Bima menatap cangkirnya. Dara teringat malam-malam ia sengaja menyisihkan makanan meski Bima tidak mengatakan akan datang. Ia sering menganggap persiapan kecil itu tidak berarti. Namun ketika kedai tutup dan makanannya tetap utuh, ia selalu kecewa kepada sesuatu yang tidak pernah dijanjikan.
'Aku menunggu kamu lebih banyak daripada yang pernah kuakui,' katanya. 'Kadang kamu datang. Kadang tidak. Aku yang membuat jadwal tak terlihat itu sendiri.'
'Aku seharusnya tahu.'
'Sekarang aku memberitahumu.'
Bima mengangguk sekali, pelan. Ia tidak mengulurkan tangan. Dara menarik napas, meraih teko, lalu sadar jahenya sudah habis. Tindakan kecil yang gagal itu hampir membuatnya tertawa. Ia menaruh teko kembali dengan bunyi terlalu keras.
'Kalau kamu ingin bersamaku, katakan dengan jelas,' ujarnya. 'Bukan cuma tidak suka melihatku bersama Raka.'
'Aku perlu memikirkan itu.'
'Pikirkan. Aku tidak memberi batas sampai besok pagi. Tapi selama kamu berpikir, aku tetap akan pergi, bekerja, menemui orang. Aku tidak mau terus menahan malam supaya mungkin kamu datang.'
Bima mengangkat wajah. 'Apa kamu ingin aku berhenti mengirim pesan?'
Pertanyaan itu membuat dada Dara mengencang. Ia tidak menginginkan Bima hilang seluruhnya. Ia juga tidak ingin merancang aturan baru yang begitu banyak sampai kedekatan mereka tak lagi bisa bergerak.
'Kabar biasa masih boleh. Untuk sementara jangan datang larut dan menginap seperti sebelumnya. Aku perlu tidur tanpa berharap paginya akan berbeda.'
'Baik.'
Dara mengangguk. Seorang pelanggan mendekati meja bar dan ia berdiri untuk menerima pembayaran. Uang yang diserahkan kurang selembar kecil; mereka menghitung ulang sambil tertawa malu. Ketika Dara kembali, Bima telah mengumpulkan cangkir mereka di sisi meja. Ia tampak hendak membantu membawanya, lalu menunggu.
'Boleh kubawa ke belakang?'
'Boleh. Bak cuci sebelah kiri masih penuh.'
Mereka berjalan bersama sampai meja bar. Percakapan beralih pada tenggorokan Dara yang sudah membaik dan atap belakang yang perlu diperiksa ketika hujan berikutnya datang. Bima tidak menawarkan diri menjadi tukang perbaikan. Dara tidak memintanya makan malam. Ketika laki-laki itu pamit, hari bahkan belum gelap sepenuhnya.
Dara menutup pintu, lalu membuka kantong apotek. Ada struk terlipat di sela kotak, dan permen rasa yang pernah ia bilang tidak terlalu disukai. Ia tersenyum sebentar, meletakkannya di laci, lalu mengirim pesan kepada pemasok tentang harga tepung yang belum juga dijawab. Sesudah itu ia menelepon Maya. Ketika sahabatnya bertanya apakah ia sedang sibuk, Dara memandang kursi dekat jendela yang kosong dan menjawab bahwa ia punya waktu untuk bicara.
'Aku habis menyuruh Bima berpikir,' katanya sambil mengambil kain lap.
'Terakhir kamu bilang begitu tentang oven, tiga hari tidak bisa dipakai.'
Dara tertawa. Maya ikut tertawa, lalu menunggu. Dara menceritakan percakapan mereka sambil membersihkan meja. Ketika ia sampai pada bagian ingin menyentuh tangan Bima, kain di tangannya berhenti.
'Aku kangen, padahal dia baru keluar,' katanya.
'Kamu mau aku menemani lewat telepon sampai tutup?'
'Mau. Cerita apa saja. Jangan soal laki-laki dulu.'
Maya mulai mengeluh tentang sandal yang tertukar di sebuah acara. Dara memasang suara pengeras, meletakkan telepon jauh dari bak cuci, lalu kembali bekerja. Ia tertawa ketika membayangkan sahabatnya pulang dengan dua ukuran sandal berbeda. Untuk beberapa menit, ia tidak menoleh ke pintu.