Ayah menelepon pada Sabtu pagi, dua minggu setelah sore di toko buku. Dara sedang menimbang gula. Ia menyalakan suara pengeras, menaruh telepon di atas kaleng, lalu kehilangan hitungan ketika ayah mengatakan bahwa ia ingin bicara berdua.
'Ada apa, Yah?'
'Tidak ada yang sakit. Jangan khawatir.'
'Ada orang yang mau dikenalkan lagi?'
Ayah diam sesaat. 'Tidak. Ayah menunggu di rumah kalau kamu bisa datang besok.'
Dara menuang sebagian gula kembali ke wadah. Telepon itu singkat, tetapi sesudahnya ia memerlukan waktu untuk menemukan angka yang tadi sedang diperhatikan. Pada akhirnya ia menimbang ulang. Ia membalas pesan Raka tentang rencana bertemu Minggu sore, memastikan waktunya tetap, lalu memberi tahu pegawainya bahwa besok ia akan pergi setelah persiapan pagi.
Ketika Dara tiba, ayah sudah duduk di teras. Dua gelas teh berada di atas meja kecil, salah satunya ditutup piring. Ashila terlihat melalui jendela, sibuk mengatur sesuatu di ruang makan. Ia menoleh dan memanggil agar Dara masuk. Ayah mengangkat tangan.
'Sebentar. Ayah mau bicara dulu.'
Ashila mengatupkan bibir, lalu kembali menghilang dari jendela. Dara duduk di kursi yang biasanya dipakai ibunya. Sandarannya terasa tegak. Ia menunggu ayah menggeser gelas teh, melepas kacamatanya, lalu memasangnya kembali tanpa sempat mengusap lensa.
'Ayah memikirkan makan siang waktu itu,' katanya.
'Yang dengan Raka?'
'Dan yang sebelum-sebelumnya.'
Dara melihat bekas tanah di ujung sandal ayah. Barangkali ia berkebun sebelum menunggu, atau keluar begitu lama sampai tidak menyadari putrinya akan melihat. Ayah menatap meja, kemudian mengangkat wajah.
'Ayah minta maaf karena sering membiarkan Ibu menekanmu. Ayah pikir kalau tidak ikut bicara, pertengkaran lebih cepat selesai.'
Dara memegang gelasnya dengan dua tangan. Ia ingin sekali mengatakan bahwa semuanya tidak apa-apa, memberi ayah jalan keluar dari rasa malu yang tampak di wajahnya. Kalimat itu sudah terasa di ujung lidah ketika ia teringat dirinya yang lebih muda makan sambil menunduk.
'Selesai untuk Ayah,' katanya. 'Aku membawanya pulang.'
Ayah mengangguk, tetapi gerakannya kaku. Dari dalam terdengar pintu lemari ditutup. Dara menunggu ayah memanggil istrinya atau berkata bahwa mereka tidak perlu membesar-besarkan masa lalu. Ayah hanya menarik napas.
'Ayah tahu sekarang.'
'Aku tidak minta Ayah bertengkar setiap aku berbeda pendapat dengan Ibu. Tapi kalau Ibu membuat janji atas namaku, bilang itu belum tentu. Jangan menunggu aku datang lalu baru boleh menolak.'
'Baik.'
'Termasuk kalau aku tidak ada di sini.'
Ayah mengusap lutut celananya. 'Ayah akan ingat.'
Dara minum. Tehnya masih hangat, terlalu manis seperti kebiasaan ayah membuatkan untuk dirinya sendiri. Ia menghabiskan beberapa teguk, lalu menanyakan tanaman di sudut teras. Percakapan mereka bergerak canggung menuju daun yang menguning, penyiraman yang terlalu rajin, dan tetangga yang menawarkan pupuk. Dara mendengarkan tanpa perlu berpura-pura bahwa sepuluh menit tadi telah menghapus semuanya.
Ketika ia beranjak, ayah menunjukkan pegangan kursi yang sudah dilem. Dara mengenali retakan lama di bawah lapisan cat. Ia pernah menjatuhkan kursi itu saat berusaha mengambil layang-layang dari atap teras.
'Ayah belum menggantinya?'
'Masih kuat. Cuma jangan dipakai berdiri lagi.'
'Aku sudah bisa beli tangga sendiri sekarang.'
Ayah tersenyum, lalu senyumnya surut sedikit. 'Kadang Ayah masih melihat kamu seperti waktu itu. Pikir Ayah, kalau dilarang naik, selesai urusannya.'
Dara menatap bekas lem yang mencuat. 'Padahal aku bisa naik saat Ayah masuk.'
'Iya. Itu juga Ayah tahu belakangan.'
Mereka tertawa kecil. Ayah mengangkat gelas kosong dan menunggu Dara berjalan lebih dahulu ke dalam rumah.
Di meja makan, ibunya bertanya apakah ia masih berhubungan dengan Raka. Dara menjawab bahwa mereka akan bertemu sore ini. Wajah Ashila langsung lebih cerah.
'Nah, ternyata kalau kamu mau sedikit mendengarkan Ibu—'
'Dara yang memutuskan mau bertemu,' sela ayah. Ia menaruh sendok lauk. 'Kita tidak perlu membuatnya merasa harus meneruskan karena dikenalkan keluarga.'
'Ibu hanya senang,' kata Ashila, matanya berpindah kepada Dara.
'Aku tahu, Bu. Tapi aku belum bilang apa-apa soal meneruskan.'
Mereka makan dengan percakapan yang tersendat. Ashila sempat menanyakan pesanan kedai, lalu mengeluh tentang pengiriman barang rumah yang terlambat. Ayah ikut menanggapi. Dara mengambil lauk sendiri dan membiarkan jeda di meja berlangsung tanpa buru-buru menawarkan gurauan.
Sore itu, Raka sudah membaca lebih dari separuh novel detektif. Ia membawa pembatas kertas penuh coretan, siap membuktikan bahwa Dara terlalu keras menilai tokohnya. Mereka duduk di meja toko buku yang berbeda. Dara tertawa pada satu catatannya, tetapi Raka segera menyadari bahwa ia tidak bersemangat mempertahankan pendapat.
'Hari yang berat?'
'Ayah minta maaf. Itu kabar baik, seharusnya. Aku cuma belum tahu harus merasa apa.'
'Kamu ingin cerita?'
Dara menatap pembatas bukunya. Keramahan Raka membuat tenggorokannya mengencang. Ia tidak ingin laki-laki ini terus menyediakan sore-sore yang mudah sementara dirinya membayangkan orang lain akan datang dengan jawaban.
'Ada seseorang yang sudah lama dekat denganku,' katanya. 'Aku belum menyelesaikan itu. Waktu bilang ingin pelan-pelan, aku juga masih mencari tahu apakah bisa pergi lebih jauh dengan orang lain.'
Raka meletakkan pembatasnya di dalam buku. 'Dia tahu?'
'Tahu. Tapi dia belum memutuskan apa yang diinginkan.'
'Dan kamu masih menunggu?'
Dara menunduk sebentar. 'Sebagian dari diriku, iya. Aku tidak mau kamu baru tahu nanti.'
Raka menyandarkan punggung. Ia tidak segera menjawab. Untuk pertama kali, sore di antara mereka terasa tidak mudah, dan Dara memaksa dirinya tidak mengisinya dengan alasan-alasan yang akan terdengar seperti harapan.
'Aku senang kamu bilang,' katanya akhirnya. 'Aku tidak mau menjadi orang yang dipilih karena tampak lebih sederhana.'
'Aku juga tidak ingin memperlakukanmu begitu.'
Mereka menghabiskan minuman tanpa membuat janji pertemuan berikutnya. Di depan toko, Raka mengatakan ia masih akan menyelesaikan novelnya. Dara tertawa kecil dan mengangguk. Ketika pulang, ia mengirim pesan kepada ayah: Terima kasih sudah bicara tadi siang. Balasan ayah datang bersama foto tanaman yang daunnya baru dibersihkan. Dara menyimpan foto itu, lalu menaruh telepon sebelum membuka kedai kembali untuk malam.