Pesan Bima datang saat Dara hendak memotong kertas alas loyang. Ia bertanya apakah boleh datang sekitar pukul delapan, bukan untuk singgah setelah jaga. Dara membaca kalimat itu dua kali. Ia membalas bahwa ia ada di kedai, lalu memotong satu lembar kertas terlalu pendek.
Hari terakhir Februari tinggal beberapa hari lagi. Hampir sebulan sejak makan siang keluarga, dan Dara sudah berhenti berharap setiap bunyi pintu berasal dari Bima. Setidaknya itulah yang ingin ia percayai. Ketika jarum jam melewati delapan, ia tetap mengangkat wajah lebih cepat daripada pegawainya.
Bima berdiri di pintu dengan kemeja yang lengannya belum tergulung. Tidak ada kantong obat, tidak ada tas kerja yang tampak penuh, dan ia tidak mengawali dengan cerita buruk tentang lalu lintas. Dara menyuruhnya memilih meja sambil menyelesaikan dua pesanan. Pada meja dekat jendela, Bima menaruh kedua tangan di permukaan kayu dan menunggu.
'Kamu mau minum?' tanya Dara ketika mendekat.
'Air saja dulu.'
Ia kembali membawa gelas. Daripada duduk tepat di seberang, ia memilih sisi meja yang lain. Bima menggeser kursi agar mereka tetap bisa saling melihat. Gerakan kecil itu membuat Dara ingin tersenyum, tetapi wajah laki-laki itu terlalu sungguh-sungguh.
'Aku sudah memikirkan yang kamu katakan,' ujarnya.
Dara menaruh kedua tangan di pangkuan. 'Aku dengar.'
'Aku ingin menjalani hubungan denganmu. Jelas. Bukan meneruskan kesepakatan yang dulu dan berharap kamu tidak bertanya lagi.'
Suara kedai tidak berhenti. Dari meja lain terdengar tawa dan sendok jatuh. Dara menatap gelas Bima sampai benda itu terasa lebih mudah diperhatikan daripada wajahnya. Ia telah membayangkan kalimat tersebut begitu sering sehingga ketika sungguh diucapkan, ia justru takut bergerak.
'Apa yang berubah?' tanyanya.
Bima menarik napas. 'Aku pulang waktu itu sambil merasa diperlakukan tidak adil. Kamu menyuruhku memilih sesuatu yang belum berani kuambil.'
Dara mengangkat wajah. Bima melanjutkan sebelum ia sempat menanggapi.
'Lalu aku sadar selama ini kamu juga harus memilih. Hampir setiap kali aku datang, kamu memilih menerima sesuatu yang tidak pernah kuterangkan. Aku menikmati kedekatan itu. Aku juga selalu punya alasan untuk mundur kalau takut.'
'Kamu takut karena hubungan terakhirmu?'
'Sebagian. Ada hal-hal sebelum itu juga. Aku tidak pandai kehilangan. Tapi aku tidak mau menjadikan semuanya alasan untuk tidak mencoba apa pun.'
Dara mengangguk perlahan. Ia tidak meminta cerita lama Bima malam itu. Ia ingin tahu apakah laki-laki yang duduk di hadapannya sedang memilih dirinya, atau hanya berusaha mengakhiri ketidaknyamanan beberapa pekan terakhir.
'Kalau aku bilang belum, apa kamu akan marah?'
Bima menelan ludah. 'Aku akan sedih. Tapi aku datang bukan untuk membuatmu berutang jawaban yang sama.'
'Dan Raka?'
'Aku tidak menyukainya dekat denganmu. Itu benar. Tapi kalau tidak ada dia, aku tetap menginginkanmu. Aku seharusnya datang mengatakan itu sebelum ada orang lain.'
Dara menatap tangannya sendiri. Ia merasakan harapan, bukan sebagai ledakan besar, melainkan dorongan untuk mengulurkan tangan yang ditahan terlalu lama. Ia masih ingat malam-malam menunggu, percakapan yang harus ia mulai sendiri, kemudahan Bima menganggap anggukan sebagai tanda bahwa semua baik-baik saja.
'Aku masih mencintaimu,' katanya.
Bima terdiam. Dara belum pernah mengucapkannya seterang itu. Kali ini ia tidak menurunkan suara atau menambahkan gurauan agar bisa menariknya kembali.
'Aku tidak mulai merasa begitu sejak kita membuat kesepakatan,' lanjutnya. 'Sudah lebih lama. Jadi aku mungkin terdengar lebih siap daripada kamu, tapi aku juga sudah lebih lama takut.'
'Dara...'
'Tunggu. Aku ingin menyelesaikan dulu.'
Bima mengangguk. Dara mengusap telapak tangan pada celana di bawah meja, lalu mengangkat wajah.
'Kalau kita mencoba, aku tidak mau jadi seseorang yang cuma jelas saat kita sendiri. Kamu tidak perlu mengumumkan ke satu rumah sakit besok pagi. Tapi kalau ada yang bertanya siapa aku, jangan bilang hanya teman karena itu lebih mudah.'
'Baik.'
'Aku juga akan berhenti mengatakan tidak apa-apa saat sebenarnya ada apa-apa. Tapi kadang aku masih perlu ditanya. Jangan anggap aku selalu bisa menjawab bagus sekali.'
Bima tersenyum sedikit. 'Aku juga mungkin perlu belajar bertanya sebelum menawarkan jahe.'
'Itu kebiasaanku.'
'Berarti kita punya dua masalah dengan jahe.'
Dara tertawa, pendek dan gugup. Bima tidak menggunakan tawanya untuk menutup percakapan. Ia mengatakan bahwa pekerjaannya tetap akan membuat beberapa rencana sulit, tetapi ia ingin Dara tahu jadwalnya, ingin mengajaknya makan tanpa menunggu lelah, ingin mencari tahu apa yang menyenangkan mereka ketika tidak sedang menyelamatkan malam satu sama lain.
'Aku tidak bisa menjanjikan akan selalu benar,' katanya.
'Aku juga tidak meminta begitu.'
'Tapi aku ingin menjadi pasanganmu. Kalau kamu masih mau.'
Dara mengulurkan tangan di atas meja. Bima menyambutnya perlahan. Jemarinya hangat, telapak tangannya sedikit lembap. Dara menertawakan hal itu dan Bima mengaku ia sudah mengganti susunan kalimat di kepala sepanjang perjalanan.
'Yang pertama bagaimana?' tanya Dara.
'Lebih buruk. Ada kata kesempatan kedua.'
'Bagus kamu tidak memakainya. Kita bahkan belum pernah betul-betul mulai.'
Bima mengusap punggung tangannya dengan ibu jari. Dara membiarkannya. Ketika seorang pelanggan meminta pembayaran, ia melepaskan genggaman untuk berdiri, tetapi tidak buru-buru menarik kursinya menjauh. Bima menunggu sampai ia kembali. Mereka memesan makan malam sederhana dari tempat dekat kedai, lalu memakannya sambil berbagi saus yang terlalu sedikit. Saat tangan Bima meraih tangannya lagi di antara kotak makanan, Dara menyambutnya tanpa perlu menghitung kapan kedekatan itu akan berakhir.
'Ada yang ingin kamu lakukan?' tanya Bima. 'Selain duduk di sini setelah aku bekerja.'
Dara berpikir sejenak. 'Makan malam di tempat yang tidak mengharuskanku berdiri setiap orang mengangkat tangan.'
'Aku bisa cari tempat.'
'Pilih hari ketika kamu tidak habis jaga malam. Aku ingin bicara dengan orang yang kedua matanya terbuka.'
Bima menunjukkan jadwal di telepon. Mereka memilih Kamis pekan depan. Dara menulisnya di halaman agenda yang belum terkena tepung, kemudian menyobek kertas kecil untuk mencatat pesanan lain. Bima meraih kotak saus yang kosong.
'Mau kutambah?'
'Mau. Kamu kira aku akan menolak cuma karena kita baru pacaran?'
Tawa Bima membuat dua pelanggan menoleh. Dara merasakan pipinya hangat, tetapi tetap menyerahkan kotak itu kepadanya.