Sup dari kantin rumah sakit datang di dalam dua wadah yang tutupnya sulit dibuka. Bima menyerah setelah percobaan kedua dan menyerahkannya kepada Dara. Ia menggunakan gagang sendok, mengangkat salah satu sisi, lalu menatap laki-laki itu dengan alis terangkat.
'Aku biasanya mendapat makanan yang sudah bisa dimakan,' Bima membela diri.
'Untung kamu datang ke orang yang tepat.'
Malam berikutnya setelah percakapan mereka, kedai tinggal menunggu tutup. Bima datang lebih awal dari biasanya, membawa makan malam karena belum sempat membeli yang lain. Dara tahu ia bisa saja makan di rumah sakit. Ia menyukai usaha yang tidak begitu rapi itu, juga pesan selamat pagi yang diterimanya tadi. Perasaan senang membuatnya agak malu kepada diri sendiri.
Ia membagikan sendok, duduk, lalu bertanya, 'Jadi sekarang kita pacaran?'
Bima menahan gerakan tangannya. 'Aku kira begitu.'
'Kemarin kamu bilang ingin mencoba.'
'Aku ingin menjadi pacarmu. Apa itu jawaban yang lebih baik?'
Dara tersenyum, tetapi tidak segera mulai makan. Ia teringat betapa mudah dahulu mereka mengangguk pada sesuatu yang ternyata tidak dipahami dengan cara sama. Bima menggeser teleponnya lebih jauh, seolah menyadari bahwa sup bisa menunggu sebentar.
'Aku tidak akan menemui orang lain untuk hubungan romantis,' katanya. 'Aku ingin itu berlaku untuk kita berdua.'
'Aku juga. Kalau perasaan salah satu berubah, bilang. Aku tidak mau baru tahu karena melihat foto.'
'Setuju.'
'Dan aku akan bertemu Raka sekali lagi.'
Bima menunduk pada sendoknya. Dara menunggu, tidak mengisi diamnya dengan penjelasan tambahan yang terburu-buru. Setelah beberapa detik, laki-laki itu mengangguk.
'Untuk memberitahunya?'
'Iya. Aku sudah bilang kepadanya ada seseorang yang belum selesai kupikirkan. Sekarang aku ingin menutupnya dengan benar.'
'Baik. Kamu mau bertemu kapan?'
'Besok sore. Aku baru akan bertanya apakah dia bisa.'
Bima mengambil sendok kembali. Ia tidak tampak gembira, tetapi ia juga tidak mengubah wajah cemasnya menjadi tuntutan. Dara menyentuh lengannya di atas meja. Mereka makan sambil berbicara tentang rasa sup yang terlalu asin dan tempat makan untuk Kamis. Kali ini Dara tidak perlu menebak apakah sebuah ajakan sungguh merupakan janji.
Raka bisa bertemu keesokan harinya. Mereka memilih toko buku yang sama, tetapi Dara tidak memesan kopi kedua. Ia datang dengan kalimat yang sudah dicoba beberapa kali di perjalanan, lalu mendapati bahwa tidak ada cara menyampaikannya tanpa membuat dada terasa sesak.
'Aku memilih mencoba hubungan dengan orang yang kuceritakan,' katanya.
Raka melihat sampul novel yang dibawanya. Buku itu sudah selesai dibaca. Ia mengangguk sekali, kemudian menatap Dara kembali.
'Terima kasih sudah datang mengatakan langsung.'
'Aku senang mengenalmu. Itu bukan kalimat untuk membuat ini terdengar lebih baik.'
'Aku percaya.' Raka tersenyum tipis. 'Aku juga senang. Walaupun aku masih merasa kamu menilai penulis ini terlalu keras.'
Dara tertawa kecil. Raka menjelaskan pendapat terakhirnya tentang novel tersebut. Dara mendengarkan, bersyukur ia tidak sedang diminta memberi pembelaan tentang Bima. Namun ketika Raka mengatakan bahwa mereka tidak perlu segera memaksakan pertemanan baru, Dara sadar keramahan laki-laki itu juga punya ujung yang perlu ia hormati.
'Tentu,' katanya. 'Aku mengerti.'
'Aku akan bilang kepada Ibu bahwa kita sudah bicara. Tidak perlu kamu mendapat telepon tambahan.'
'Aku akan bilang kepada ibuku sendiri.'
Mereka berpisah di pintu. Tidak ada pelukan untuk membuktikan bahwa semuanya baik-baik saja. Raka mengucapkan semoga bahagia, lalu berjalan ke arah parkir. Dara berdiri sebentar sebelum menelepon ibunya. Ashila bertanya apakah ia terlalu cepat mengambil keputusan. Dara menjawab bahwa Raka sudah tahu dan ia tidak ingin membicarakan pilihan tersebut seolah pertemuan lain masih perlu diatur.
Kamis datang dengan pesanan yang lebih banyak daripada perkiraan. Dara bekerja sejak pagi, pulang sebentar untuk berganti baju, lalu kembali ke kedai menjelang petang. Ia memakai anting kecil yang jarang keluar dari kotak. Ketika telepon berdering satu jam sebelum rencana makan, ia sedang memilih apakah membawa payung.
Bima harus menggantikan dokter lain. Suaranya terdengar tergesa, lalu makin pelan ketika Dara tidak segera menyahut.
'Aku minta maaf. Aku baru bisa memastikan sekarang.'
Dara meletakkan payung. 'Aku kecewa.'
'Aku tahu.'
'Besok bisa? Bukan hanya selesai jaga lalu kamu mampir kalau masih kuat.'
'Besok aku selesai sore. Aku akan mengabari setelah penyerahan tugas. Kita makan lebih dekat saja, supaya tidak habis di jalan.'
'Baik. Kalau ternyata tidak bisa lagi, bilang waktu lain.'
Sesudah menutup telepon, Dara melepas anting. Ia hampir kembali bekerja untuk menghabiskan malam yang mendadak kosong, lalu menelepon Maya. Mereka mengobrol sambil Dara makan di apartemen. Ia tetap kesal, tetapi tidak mengirim pesan pendek yang berharap Bima menebak panjang kemarahannya.
Jumat sore, Bima mengabari sebelum Dara bertanya. Mereka bertemu di tempat makan kecil beberapa ruas jalan dari kedai. Bima datang dengan rambut yang masih lembap setelah mandi dan meminta maaf lagi sebelum duduk. Dara menunjuk daftar menu.
'Kamu boleh menebusnya dengan tidak memilihkan sup rumah sakit.'
'Aku sudah mengkhianati kantin. Jangan sampai mereka tahu.'
Mereka memesan terlalu banyak karena sama-sama lapar. Di tengah makan, Bima bertanya apakah Dara mau mencoba lauk di piringnya. Ia menyuapkan sedikit dengan sendok bersih, lalu tertawa melihat Dara mencari air karena sambalnya. Pelayan datang membawa tambahan minum, memandang dua piring mereka yang saling bergeser, dan bertanya apakah pesanannya akan digabung. Bima menoleh kepada Dara lebih dahulu. Ia mengangguk, meraih gelasnya, lalu membiarkan lutut mereka bersentuhan di bawah meja sampai makan malam selesai.
Mereka berjalan ke apartemen Dara setelah membayar. Bima membawakan bungkusan makanan yang tidak habis. Ketika trotoar menyempit, ia berjalan di belakang, lalu kembali ke sisi Dara dan menggenggam tangannya. Dara menoleh. Bima tersenyum tanpa mengatakan sesuatu yang perlu dijawab.
Di depan pintu apartemen, Dara mengambil bungkusan itu dan mencium pipinya. Bima menariknya mendekat sebentar, dagunya menyentuh rambut Dara.
'Aku senang makan malamnya jadi,' kata Dara.
'Aku juga.'
Ia masuk sambil membawa sisa lauk untuk besok. Bima menunggu sampai pintu tertutup sebelum langkahnya terdengar menjauh.