Ayah menelepon sebelum kedai buka pada suatu Jumat di bulan Maret. Dara mendengar bunyi pintu di belakang suaranya, lalu langkah yang menjauh. Ia menunggu sambil menahan telepon di bahu dan mengaduk adonan yang mulai berat.
'Bisa datang malam ini?' tanya ayah. 'Ibu masih memikirkan soal Raka.'
Sendok Dara berhenti. 'Aku sudah menjelaskan kepada Ibu.'
'Ayah tahu. Tadi kami bertengkar. Ayah tidak mau kamu mendengar cerita yang berbeda.'
'Apa aku perlu datang ketika Ibu masih marah?'
Ayah menghela napas. 'Ayah ingin bicara bersama. Tapi kalau kamu tidak mau, Ayah akan mengatakan kamu belum bisa.'
Dara melihat pesanan di papan. Ia bisa pergi setelah arus pelanggan petang mereda. Ia mengatakannya kepada ayah, lalu meminta agar tidak ada tamu tambahan. Setelah menutup telepon, ia mengaduk adonan lagi. Gumpalan kecil muncul karena tangannya berhenti terlalu lama. Ia menekannya satu per satu dengan punggung sendok.
Menjelang malam, rumah orangtuanya terang sampai teras. Dara menyapa pekerja rumah yang membukakan pintu dan mendapat senyum singkat yang tampak gugup. Di ruang tengah, ibunya duduk tegak dengan tangan bertaut. Ayah berdiri dekat jendela, memegang gelas yang masih penuh.
'Kamu membuat ayahmu berubah,' kata Ashila sebelum Dara duduk.
Dara melepas jaket. Ia melipatnya di atas tas, memberi waktu pada dirinya untuk menanggapi tanpa suara yang langsung meninggi. 'Ayah punya pendapat sendiri, Bu.'
'Sekarang setiap Ibu bicara, Ayah selalu membela kamu.'
'Ayah mengatakan keputusan Dara bukan keputusan kita,' ujar ayah. 'Itu bukan berarti semua perkataan Ibu salah.'
Ashila menoleh cepat kepada suaminya. 'Kamu dengar sendiri caranya bicara waktu Ibu mengenalkan Raka. Seolah Ibu mempermalukannya.'
Dara duduk di kursi seberang. Kakinya menyentuh ujung karpet yang pernah ia pilih bersama ibunya. Hari itu mereka berjalan dari satu toko ke toko lain, berdebat tentang warna, lalu makan mi karena terlalu lelah memasak. Ingatan tersebut membuat pertengkaran sekarang terasa lebih menyedihkan. Mereka pernah bisa tidak setuju untuk hal sederhana.
'Aku tidak bilang Ibu mempermalukanku,' kata Dara. 'Aku bilang ingin diberi tahu sebelum dikenalkan. Aku juga sudah bicara sendiri kepada Raka. Dia menerima.'
'Dia menerima karena sopan. Orang seperti dia tidak mudah ditemukan.'
'Aku tidak bisa memilih dia hanya karena dia sopan.'
'Lalu apa yang kamu cari? Laki-laki yang datang saat sempat? Yang bertahun-tahun kamu sebut teman?'
Dara merasakan pipinya panas. Ia belum pernah membawa Bima ke rumah sebagai pasangan. Ibunya mengenal nama dan kebiasaan datangnya dari cerita-cerita yang terselip sejak mereka kuliah. Dara menaruh tas di lantai agar tidak terus memeras pegangan kulitnya.
'Bima dan aku sedang menjalani hubungan. Aku belum mengajak dia bertemu karena aku ingin kita bisa makan tanpa membuatnya seperti orang yang harus membuktikan diri di depan Ibu.'
Ashila tertawa pendek. 'Jadi memang ada dia. Ibu sudah menduga.'
'Ini bukan perkara dugaan Ibu benar.'
'Ibu hanya ingin kamu aman. Kamu meninggalkan pekerjaan bagus, membuka usaha yang jamnya tidak jelas, sekarang memilih orang yang belum tentu punya waktu.'
Ayah menaruh gelas. Ia meminta istrinya berhenti menghitung pekerjaan dan pasangan Dara sebagai satu daftar kesalahan. Ashila berdiri. Gelang di pergelangan tangannya berbunyi ketika ia menunjuk mereka bergantian.
'Sekarang kalian berdua melawan Ibu.'
Dara ikut berdiri, lalu sadar ia tidak perlu menyamakan tinggi tubuh untuk bisa didengar. Ia duduk kembali. 'Aku datang karena Ayah ingin bicara bersama. Aku bisa mendengar Ibu tidak suka pilihanku. Aku tidak akan menggantinya malam ini supaya kita bisa selesai makan.'
Ruangan sunyi. Ayah menarik kursi, tetapi Ashila tidak duduk. Dari dapur tercium aroma nasi hangat. Dara tiba-tiba lapar dan merasa bersalah karena memikirkan makanan di tengah wajah ibunya yang keras.
'Kamu terlalu sensitif,' kata Ashila. 'Ibu bicara sedikit, kamu merasa seluruh hidupmu diatur.'
'Aku akan tetap datang menemui Ibu dan Ayah. Tapi aku tidak akan datang kalau ada perkenalan lain yang sengaja dirahasiakan. Dan kalau pembicaraan selalu kembali ke kesalahanku memilih, aku akan pulang.'
'Kalau itu maumu, terserah.'
Dara menunggu sebentar, berharap ada kalimat lain. Ashila justru berjalan menuju ruang makan dan memanggil pekerja rumah untuk menghangatkan lauk. Ayah menatap Dara, lalu mengangguk pelan ketika putrinya mengambil jaket.
'Aku pulang dulu, Yah.'
'Ayah mengantar ke pagar.'
Di luar, ayah meminta maaf karena mengundangnya pada malam yang berakhir begini. Dara mengatakan ia lebih suka diberi kabar daripada dibiarkan menerima cerita dari orang lain, tetapi lain kali ia tidak ingin dipanggil untuk mengakhiri pertengkaran orangtuanya. Ayah mendengarkan, lalu membuka pagar tanpa meminta ia kembali masuk.
Dara menelepon Bima dalam perjalanan. Ia menceritakan percakapan tadi sambil menatap lampu kendaraan yang lewat. Ketika sampai pada kalimat ibunya tentang laki-laki yang datang saat sempat, ia terdiam.
'Bagian itu sakit karena pernah benar,' katanya.
'Aku tahu,' jawab Bima. Ia tidak segera mengalihkan kesalahan kepada Ashila. 'Kamu di mana sekarang? Sudah makan?'
'Belum. Aku mau kembali ke kedai.'
Bima menunggu di depan pintu dengan dua kotak nasi. Dara masih membantu pegawainya menutup kas sebelum mereka duduk di dapur. Laki-laki itu membuka kotak, memisahkan sambal, lalu menyerahkan sendok tanpa mengajukan pertanyaan baru. Dara makan tiga suap sebelum bisa bercerita lagi.
'Aku takut terlalu keras,' katanya.
Bima mendengarkan sampai selesai. Ketika Dara berhenti, ia mendorong kotak lauk mendekat. 'Kamu ingin aku menanggapi atau menemani makan dulu?'
'Makan. Sesudahnya aku mungkin mengulang cerita yang sama.'
'Aku masih punya nasi.'
Bima mengambil potongan mentimun dari kotaknya dan menaruhnya di tutup yang bersih. Dara menggesernya kembali karena tahu ia juga belum makan sejak sore. Mereka membagi satu bungkus kerupuk, sama-sama gagal membukanya dari sisi yang bergigi, lalu akhirnya menggunakan gunting dapur. Bunyi plastik yang robek membuat Dara mengembuskan napas panjang.
Dara tertawa dengan mata terasa panas. Ia mengambil sambal dari sisi Bima, menaruh sedikit di tepi nasinya, lalu melanjutkan cerita. Di dapur yang tinggal diterangi satu lampu itu, ia tidak perlu mengecilkan suaranya setiap kali menyebut ibunya.