Dara mengira ia sudah mengenali Bima dengan pakaian kerja. Ia sering melihat laki-laki itu datang membawa tas rumah sakit, menelepon sambil meraih kopi, atau mengusap wajah setelah terlalu lama terjaga. Pada akhir Maret, ketika menerima ajakan makan siang di rumah sakit, ia baru sadar bahwa semua yang dikenalnya selalu terjadi sesudah Bima meninggalkan pekerjaannya.
Ia datang dengan sekotak kue untuk dibagi. Bima menjemput di dekat pintu masuk kantin dan menyentuh sikunya, membawanya melewati orang-orang yang mengenakan tanda pengenal. Dara menahan kotak agar tidak miring saat seorang pembawa nampan melintas.
'Kamu lapar?' tanya Bima.
'Aku merasa seperti tamu yang salah masuk ruang guru.'
'Tidak akan ada yang memeriksa pekerjaan rumahmu.'
'Itu yang dikatakan semua orang sebelum bertanya aku bekerja di bagian mana.'
Bima tertawa. Di meja dekat jendela, dua rekannya sudah menunggu. Dara berkenalan, menjawab pertanyaan tentang kedai, lalu menaruh kue di tengah meja. Salah satu rekan meminta izin mengambil lebih dahulu karena harus kembali bekerja. Suasana mulai terasa mudah ketika seorang perempuan datang membawa map dan menyapa Bima dengan seruan terkejut.
'Dara, ini Livia,' kata Bima. 'Kami pernah satu tim saat pelatihan di Surabaya.'
Livia menyalami Dara dengan hangat. Ia seorang dokter spesialis, baru kembali setelah beberapa tahun bekerja di luar kota. Ia memuji kue yang diletakkan di meja, lalu menanyakan kepada Bima apakah ia masih ingat seorang profesor yang selalu datang lebih pagi daripada peserta. Bima tertawa sebelum pertanyaannya selesai.
Sebelumnya Bima sempat mengatakan bahwa Dara pacarnya. Dua kata itu membuat Dara tersenyum pada piringnya sendiri. Ia menyesali rasa senang yang berlebihan tersebut ketika percakapan mulai melaju tanpa dirinya, seolah tidak pantas ingin dilibatkan sesudah mendapat pengenalan yang selama ini diharapkan. Ia membetulkan letak kotak kue, memastikan semua orang bisa meraihnya.
Percakapan beralih ke restoran yang dahulu mereka datangi bersama tim. Dara mendengarkan sambil menyendok makanannya. Ia bisa mengikuti nama kota dan bagian tentang sambal, tetapi tidak tahu siapa yang sedang ditirukan Bima dengan wajah serius itu. Rekan di sisi lain meja ikut tertawa. Dara tersenyum setengah detik terlambat.
'Waktu itu dia mematikan lampu sendiri,' kata Livia.
'Karena kami masih membahas pembagian tugas.'
'Kalian membahas pertandingan bola.'
Bima membantah dengan suara yang membuat Dara ingin ikut tertawa meski tidak mengerti. Ketika Livia bertanya berapa lama kedai buka, ia menjawab hampir tiga tahun. Bima membantu menjelaskan letaknya. Sebelum Dara bisa menyebut jam yang biasa ramai, pembicaraan sudah berbelok ke jadwal operasi yang perlu dicocokkan Livia.
'Boleh pinjam dia sebentar?' tanya perempuan itu.
'Tentu,' jawab Dara terlalu cepat.
Ia menatap dua punggung yang menjauh, lalu mengambil potongan kue dari kotaknya sendiri. Rekan yang tersisa meminta maaf karena teleponnya berdering dan ikut meninggalkan meja. Dara duduk sendirian di antara nampan serta gelas yang belum kosong. Ia membuka telepon, membaca pesan pemasok, kemudian menutupnya karena tidak ada yang perlu dijawab.
Bima kembali sepuluh menit kemudian. Ia duduk dengan napas sedikit terburu dan meminta maaf. Dara mengatakan tidak apa-apa. Kalimat itu terasa lancar, menjengkelkan karena begitu lancar.
'Kalian dekat?' tanyanya sesudah menghabiskan minum.
'Sering bekerja bersama dulu. Tidak pernah ada hubungan romantis.'
'Aku tidak menuduh.'
'Aku tahu. Aku ingin kamu tidak perlu menebak.'
Dara mengangguk. Bima mengantarnya sampai pintu ketika waktu istirahatnya selesai. Ia meraih kotak kue kosong dengan ucapan terima kasih. Dara berjalan pulang sambil merasa konyol karena satu makan siang membuatnya begitu kecil. Livia tidak kasar. Bima juga tidak menyembunyikannya. Meskipun begitu, Dara masih bisa mendengar tawa yang tidak tahu kapan harus ia ikuti.
Sore di kedai, seorang pelanggan bertanya tentang bahan kue. Dara menjelaskan pilihan yang tersedia, menyarankan dua potong berbeda, lalu menuliskan harga pesanan untuk dibawa ke kantor pekan depan. Ia lancar menjawab semua pertanyaan. Ketika pelanggan itu pergi, Dara baru menyadari betapa lega rasanya bisa menyelesaikan satu kalimat tanpa takut topiknya terlalu sederhana bagi orang lain.
Malamnya, Bima datang ke kedai sesuai janji. Dara tidak segera menyeduh minuman. Ia mengajaknya duduk di meja yang baru dibersihkan, menyelipkan kain lap di bawah nampan agar tangannya berhenti bekerja.
'Tadi aku bilang tidak apa-apa. Sebenarnya aku merasa tersisih.'
Bima mengerutkan kening. Dara menjelaskan bagian-bagian yang membuatnya hanya bisa menunggu: cerita lama, nama yang tidak dikenalnya, lalu meja kosong ketika semua orang pergi. Ia mengatakannya tanpa meminta Bima berhenti berteman dengan Livia.
'Aku ingin mengenal bagian hidupmu itu,' katanya. 'Tapi aku perlu pintu masuk. Tadi aku cuma berdiri di luarnya.'
'Aku seharusnya berhenti dan menceritakan siapa yang kami bicarakan.'
'Atau sesekali bertanya kepadaku. Aku tidak keberatan tidak tahu. Aku keberatan terlupakan di meja.'
Bima menarik napas. 'Aku minta maaf. Aku senang melihat Livia, lalu mengira kamu akan ikut senang tanpa kubantu mengenalnya.'
Teleponnya menyala sebelum Dara menjawab. Bima melirik nama pengirim, lalu menunjukkan pesan. Livia ingin bertemu untuk membahas kegiatan pemeriksaan gratis bagi pekerja sekitar kedai dan pasar. Ia membutuhkan tempat berbicara bersama Bima dan berharap Dara bersedia ikut.
'Kamu keberatan?' tanya Bima.
Dara membaca pesan itu sampai selesai. Kedainya sudah sering menerima obrolan kelompok kecil warga sekitar, tetapi ia belum pernah menyediakan tempat untuk pemeriksaan kesehatan. Ia memikirkan meja-meja yang harus dipindah, pegawai yang perlu diberi tahu, lalu wajah perempuan yang tadi sungguh memuji kuenya.
'Kita bisa bertemu sebelum buka besok,' katanya. 'Aku ingin mendengar rencananya dulu.'
Keesokan pagi, Livia datang dengan buku catatan dan membeli sarapan sebelum mulai bicara. Ia menanyakan jumlah pegawai serta jam kegiatan yang tidak mengganggu penjualan. Dara mengambil kertas kosong, menggambar letak pintu belakang, lalu menggesernya kepada mereka. Kali ini, ketika Bima menyebut nama seorang rekan, Livia berhenti untuk menjelaskan tugasnya. Dara mengangguk, mengajukan pertanyaan tentang antrean, dan menarik kursinya lebih dekat ke meja.