Pensil Dara berhenti pada gambar persegi yang dimaksudkannya sebagai meja pemeriksaan. Livia ingin ada tempat menunggu, tempat berbicara dengan dokter, dan jalur untuk orang yang sudah selesai. Di atas kertas, semuanya muat. Dara mengangkat wajah ke ruangan kedainya dan mulai menghitung kursi sungguhan.
'Kalau meja ini dipindah, pintu belakang tertutup,' katanya.
Bima berdiri untuk menggesernya. Dara dan Livia membawa kursi ke sisi lain. Kaki meja menyangkut pada sambungan lantai dan bunyinya membuat Sari keluar dari dapur, masih membawa lap basah. Pegawai yang sudah lama bekerja bersama Dara itu melihat ketiganya, lalu mengambil kaki meja sebelah kanan tanpa bertanya.
'Diangkat dulu, Mbak. Yang ini memang suka macet.'
Mereka menurunkannya di tempat baru. Dara memandang pintu yang kini bisa dibuka penuh. Sari mencoba lewat dengan baki kosong di tangan, memutar tubuh, lalu berhenti di antara dua kursi.
'Kalau orang membawa tas, masih sempit.'
Dua kursi dikeluarkan lagi. Livia mencoret angka pada catatannya. Dara menyukai cara perempuan itu menerima perubahan tanpa mengatakan bahwa acara amal seharusnya tidak banyak syarat. Ia mulai bisa membayangkan kegiatan tersebut berlangsung di sini, asalkan mereka berhenti menganggap gambar ruangan sama dengan ruangan itu sendiri.
'Aku bisa menyediakan tempat sebelum jam buka,' kata Dara. 'Tapi dapur tetap harus membuat pesanan. Ada pelanggan yang mengambil kue siang.'
'Kami tidak memerlukan dapur untuk pemeriksaan,' jawab Livia. 'Sarapan petugas boleh dipesan seperti biasa?'
'Boleh. Nanti kubuatkan hitungannya. Air minum untuk peserta dari kedai.'
Bima bertanya apakah dua puluh pendaftar cukup untuk awal. Livia mengangguk. Mereka menambahkan keterangan bahwa kegiatan tersebut bukan pengganti kunjungan lanjutan dan orang yang memerlukan layanan lain akan diarahkan oleh tim medis. Dara tidak mencoba menyusun bagian itu. Ia menulis nomor yang bisa dihubungi warga dan jam kedatangan pada kertas terpisah.
Setelah Bima serta Livia pergi, Sari mengambil catatan stok. Dara mengira ia hendak menanyakan tambahan gula, tetapi perempuan itu menunjuk Sabtu yang dipilih untuk acara.
'Kalau saya mengurus daftar di depan, siapa yang membantu pesanan dapur, Mbak?'
Dara membuka mulut untuk mengatakan ia bisa mengerjakan keduanya. Sari menunggu dengan wajah yang telah menyaksikan terlalu banyak kalimat semacam itu berakhir menjelang tengah malam.
'Kamu tetap di pesanan,' kata Dara akhirnya. 'Aku pegang daftar. Kita minta bantuan pemilik kios untuk mengantar orang ke belakang.'
'Jangan semua orang dianggap sudah tahu. Tulis saja siapa melakukan apa.'
Dara mengambil kertas baru. Daftar sederhana itu justru membuatnya melihat pekerjaan yang terlupakan: mengambil kursi pinjaman, mengembalikan meja, memisahkan uang jualan dari sumbangan sukarela bila ada yang membawa. Ia memutuskan tidak membuka penerimaan uang sumbangan pada hari pemeriksaan agar pegawai tidak harus mengurus sesuatu yang belum mereka siapkan.
'Kamu bisa datang lebih pagi Sabtu?' tanyanya kepada Sari. 'Jam tambahannya kuhitung. Kalau tidak bisa, jangan ubah urusan rumahmu dulu.'
Sari memikirkan sebentar. Ia bisa datang pagi, tetapi perlu pulang sesuai jadwal karena ada keperluan malam. Dara menuliskannya di samping nama, bukan hanya mengangguk sambil mengingat pekerjaan lain.
'Kalau sudah waktunya, pulang saja. Kursi setelah acara aku yang urus bersama relawan.'
'Mbak jangan marah kalau masih banyak orang.'
'Kalau aku marah, tunjukkan kertas ini.'
Sari tersenyum. Ia mengambil salinan daftar untuk ditempel dekat rak bahan. Dara melihat jam pulang yang dilingkari dan mencatat kebutuhan tambahan sarapan. Kegiatan itu mulai menghabiskan uang sebelum seorang peserta pun datang; setidaknya sekarang ia tahu bagian mana yang memang sanggup ditanggung kedai.
Beberapa hari kemudian, Dara mengantar lembar pengumuman ke pasar. Seorang pemilik kios menanyakan apakah ia harus menutup dagangan sejak pagi. Dara menjelaskan pembagian waktu yang sudah disusun. Perempuan itu memanggil suaminya untuk bergantian menjaga kios, lalu menuliskan dua nama sekaligus.
'Jangan datang semua bersamaan,' kata Dara.
'Kalau dia dibiarkan sendiri, lupa berangkat.'
Suaminya memprotes dari balik timbangan. Dara tertawa, mencatat nomor telepon, lalu berjalan ke kios berikutnya. Dua puluh tempat terisi lebih cepat daripada perkiraannya. Ketika seseorang meminta tambahan untuk saudaranya, ia menahan godaan menjawab boleh begitu saja dan mengatakan akan bertanya kepada tim lebih dahulu.
Pada sore sebelum acara, halaman belakang dipenuhi kursi lipat. Ruang yang mereka sewa untuk persiapan di bagian belakang harus berbagi tempat dengan beberapa kardus bahan. Dara meminta semuanya digeser ke rak tinggi, jauh dari lintasan orang. Bagian depan kedai, bangunan keluarga yang selama ini ia pakai untuk berjualan, tetap disiapkan menerima pelanggan pada jam normal.
Bima datang setelah makan malam dan membantu menempelkan penunjuk arah. Satu poster miring. Ia mundur tiga langkah untuk memeriksa, lalu menggesernya lagi sampai Dara merebut selotip dari tangannya.
'Kalau pasien harus memiringkan kepala untuk membacanya, aku yang disalahkan,' katanya.
'Tulisanmu sudah jelas. Panahnya yang menunjuk lemari.'
Bima menatap poster itu dan tertawa. Mereka memperbaikinya bersama. Setelah kursi terakhir terlipat di tempat yang tepat, Dara menyodorkan segelas air. Ia baru teringat Bima akan selesai sif malam sebelum datang besok.
'Kamu bisa pulang tidur setelah bagianmu selesai?'
'Bisa. Ada Livia dan dua perawat. Aku tidak harus menangani semua orang.'
'Aku tidak mau acaranya berakhir dengan kamu ikut duduk di antrean.'
'Kalau aku duduk, aku mau sarapan saja.'
Dara menunjukkan daftar makanan yang sudah disiapkan Sari. Bima memilih dengan kesungguhan yang berlebihan, lalu membantu mengunci pintu belakang. Mereka berjalan keluar bersamaan. Bima mengantar sampai persimpangan dekat apartemen Dara sebelum menuju mobilnya. Ketika Dara menoleh, ia masih mengangkat tangan dari seberang jalan.
Pagi berikutnya, Dara tiba sebelum pukul tujuh. Sari sudah menyiapkan dua teko dan mengecek jumlah gelas. Livia datang bersama dua perawat tepat ketika papan penunjuk terakhir dipasang. Nama-nama di daftar masih rapi dalam baris, masing-masing mempunyai waktu yang sudah dipilih. Lalu tiga orang datang lebih awal, disusul seorang pemilik kios yang membawa tetangga. Dara mengambil pena, mendekati pintu, dan meminta mereka menyebutkan nama satu per satu.