Pukul delapan pagi, daftar Dara mempunyai tambahan nama di tepi kertas. Orang yang semula hanya mengantar istrinya meminta ikut diperiksa. Dua orang lain datang karena mendengar kabar dari kios sebelah. Dara menahan pena ketika menyadari bahwa ia terus menulis meski belum tahu apakah tim masih mampu menerima.
'Saya tanyakan dulu,' katanya kepada seorang perempuan yang sudah menarik kursi.
Ia mencari Livia di dekat meja pemeriksaan. Perempuan itu mendengarkan sebentar, memeriksa waktu, lalu menentukan berapa orang tambahan yang masih dapat dilayani. Sisanya diminta meninggalkan nomor untuk mendapat informasi kesempatan berikut. Dara kembali ke pintu dan menjelaskannya tanpa menjanjikan semua orang bisa masuk hari itu.
'Saya sudah meninggalkan kios,' protes seorang laki-laki.
'Saya mengerti, Pak. Tapi petugasnya terbatas. Kalau Bapak berkenan menunggu sebentar, saya bisa tanyakan pilihan tempat pemeriksaan lain.'
Laki-laki itu masih menggerutu, tetapi menerima air minum yang disodorkan seorang relawan dari pasar. Dara mencatat pertanyaannya, lalu mengembalikan perhatian kepada orang yang sudah terdaftar. Ia tidak menyukai mengecewakan orang di pintu kedainya sendiri. Hari itu ia harus melakukannya beberapa kali.
Bima datang membawa alat yang dipinjam dari rumah sakit. Wajahnya segar hanya pada menit-menit pertama. Setelah menyapa Dara, ia membantu pemeriksaan dan menjelaskan hasil kepada orang yang duduk di depannya. Dara mendengar suaranya berubah lebih pelan, kalimatnya lebih pendek, tidak sama dengan cara ia bercanda di meja dekat jendela.
Seorang perempuan lansia meminta penjelasan diulang karena tidak mendengar. Bima mengulang tanpa menunjukkan bahwa antrean di belakang sudah bertambah. Dara berdiri di dekat pintu, memegang daftar, dan untuk sesaat mengerti mengapa laki-laki itu sering kehilangan perhitungan waktu.
Kedai dibuka sesuai jadwal. Sari mengurus pesanan dan menaruh pengumuman kecil agar pelanggan tahu halaman belakang sedang dipakai kegiatan. Ketika ada yang meminta duduk di sana, ia menawarkan meja lain. Dari dapur terdengar suara loyang diletakkan. Aroma kue bercampur dengan kopi membuat beberapa peserta memutuskan membeli sarapan sambil menunggu keluarga.
Menjelang siang, Dara melihat botol minum Bima masih utuh. Ia hendak mengambilnya ketika Livia lebih dahulu berjalan ke meja dan menyodorkan botol itu kepada Bima.
'Minum dulu. Kami masih membutuhkanmu sadar sampai selesai.'
Bima mengangkat kedua tangan, lalu menurut. Dara menunduk pada daftar, menyadari sengatan kecil yang datang sebelum sempat dicegah. Ia melihat Livia mengambil botol lain untuk seorang perawat. Beberapa menit kemudian, perempuan itu mengingatkan Dara untuk makan. Dara menerima potongan roti dari Sari dan berhenti menghitung siapa yang lebih mengenal kebiasaan siapa.
Kegiatan melewati siang karena beberapa peserta memerlukan penjelasan lebih lama. Bima mengambil jeda singkat di kursi belakang, tetapi segera dipanggil ketika seorang laki-laki tua mengeluh pusing setelah pemeriksaan. Dara sedang mengantar air. Ia menaruh baki dan memberi ruang bagi tim untuk mendekat.
Livia meminta orang-orang lain tidak berkerumun. Bima membantu laki-laki itu tetap duduk, berbicara dengan suara tenang. Dara mendapat nomor keluarga dari barang yang dibawa peserta tersebut, lalu menelepon. Pada sambungan pertama tidak ada yang menjawab. Ia mencoba lagi sambil berdiri dekat pintu agar suara dari halaman tidak menutupi percakapan.
Ketika anak laki-laki itu menjawab, Dara menjelaskan tempat mereka berada dan bahwa tim medis sedang mendampingi ayahnya. Ia menyerahkan telepon kepada Livia untuk penjelasan yang bukan bagiannya. Sesudahnya ia mengantar keluarga yang tiba melewati pintu samping, menyingkirkan kursi dari jalan mereka.
Keadaan terkendali setelah tim melakukan pemeriksaan kembali dan menyampaikan langkah lanjutan kepada keluarga. Dara tidak menjanjikan bahwa semuanya sudah beres. Ia hanya membantu mengambil tas, mengembalikan gelas, dan menunjukkan jalan keluar. Laki-laki tua itu sempat menggenggam tangannya sambil mengucapkan terima kasih. Dara mengangguk, masih merasakan detak jantung yang terlalu cepat.
Peserta terakhir pulang ketika cahaya mulai condong di halaman. Bima duduk dengan kedua siku di lutut. Dara membawakan sup yang sudah disisihkan sejak siang. Laki-laki itu memakannya tanpa bercanda, sesekali berhenti untuk menunggu panasnya turun. Dara duduk di sebelahnya dengan roti yang belum sempat habis.
Sari mendekat membawa daftar pesanan. Jam pulangnya tiba sementara dua meja masih penuh barang. Dara memeriksa uang kas bersamanya, menyimpan bukti pengambilan kue siang tadi, lalu menyuruhnya membawa makanan yang sudah disisihkan.
'Ada pelanggan mengeluh menunggu minum lama,' kata Sari. 'Saya minta maaf dan pesanan berikutnya didahulukan. Bukan peserta acara.'
Dara mengangguk. Ia mencatatnya pada bagian belakang daftar yang kini kusut. Ia tadi terlalu lama di halaman dan lupa membantu ketika pesanan depan bertambah. Sesudah Sari pulang, ia meminta maaf kepada pegawai yang masih bertugas dan mengambil alih pencucian gelas sebelum kembali duduk.
'Lain kali mungkin aku tidak bisa menyediakan sarapan sebanyak ini,' katanya kepada Bima. 'Kalau bagian depan macet, orang yang bekerja di sini juga ikut menanggung.'
Bima meletakkan sendok. 'Katakan kepada Livia nanti. Aku bisa ikut mengurus pesanan makan petugas dari tempat lain.'
'Kamu juga belum makan benar,' kata Bima.
'Sari sudah marah dua kali. Jangan ditambah.'
Livia datang membawa map dan berterima kasih kepada Dara. Ia ingin mengadakan kegiatan serupa setiap tiga bulan, tetapi kali berikutnya perlu pembagian waktu dan petugas yang lebih baik. Dara mengatakan ia bersedia membicarakannya setelah kedai kembali seperti semula. Hari itu ia belum ingin menjanjikan kursi dan jam untuk tiga bulan mendatang.
'Wajar,' jawab Livia. 'Kita semua perlu mandi dulu sebelum punya gagasan bagus lagi.'
Mereka tertawa. Setelah para petugas pulang, Bima membantu membawa kursi sampai Dara menyuruhnya berhenti mengangkat yang berat. Mereka mengembalikan meja ke tempat semula, memeriksa barang pinjaman, lalu duduk di lantai dekat jendela yang sudah ditutup.
'Aku senang kamu mengenalnya,' kata Bima.
'Aku juga. Dia menyuruhku makan dengan nada yang sulit dibantah.'
'Sekarang kalian punya kesamaan.'
Dara menyandarkan bahu pada bahunya. Bima membiarkannya beberapa saat, lalu menoleh dan mencium pelipisnya. Mereka masih harus pulang, masih harus mengembalikan kursi besok, tetapi Dara tidak beranjak ketika kepala Bima bersandar perlahan di atas kepalanya. Di luar, langkah orang-orang pulang dari pasar terdengar melewati kaca.