Amplop itu tiba dua hari setelah pemeriksaan kesehatan. Tidak ada nama pengirim, tetapi Dara mengenali angka pada alamat sebelum membukanya. Ibunya selalu menulis nomor tujuh dengan garis kecil di tengah. Di dalamnya hanya ada satu lembar kertas, dilipat tiga dan berbau samar lemari tempat Ashila menyimpan alat tulis.
Ibu ingin bertemu tanpa membicarakan Raka, pekerjaan, atau siapa yang kamu pilih. Kita bicara sebagai ibu dan anak saja. Kalau kamu bersedia, beri tahu kapan.
Dara membaca sampai titik terakhir, lalu membalik kertas untuk mencari sambungan. Tidak ada. Ia meletakkannya di samping buku penjualan. Sepanjang pagi, benda itu terasa lebih mengganggu daripada kuitansi yang belum dibayar. Setiap kali hendak mengambil pena, ia membaca satu kalimat lagi.
Ia memotret surat itu untuk ayah. Balasannya datang menjelang siang: Ayah tahu Ibu menulis. Kamu yang memutuskan mau bertemu atau belum. Dara menunggu pesan berikut yang meminta agar ia tidak mengecewakan ibunya. Pesan itu tidak datang.
Malamnya ia memperlihatkan surat kepada Bima. Laki-laki itu mengembalikannya setelah membaca, lalu bertanya apakah Dara ingin datang. Dara mengaku tidak tahu. Ia merindukan beberapa bagian dari ibunya, tetapi tidak ingin menghabiskan satu sore lagi membela pilihan yang sudah dikatakan berkali-kali.
'Kalau aku pulang saat mulai tidak enak, apa terlalu cepat menyerah?'
'Kamu belum pergi,' jawab Bima. 'Kita sudah memikirkan cara kamu pulang.'
Dara tertawa kecil, lalu menyimpan kertas itu. Ia menelepon Ashila keesokan paginya dan menawarkan Sabtu pukul sembilan di taman umum. Ia punya satu jam sebelum perlu kembali ke kedai. Jika pembicaraan berubah menjadi pertanyaan yang sama tentang Raka atau Bima, ia akan mengakhiri pertemuan lebih awal.
'Ibu sudah menulis tidak akan membahas itu,' jawab Ashila.
'Aku tahu. Aku ingin bilang dulu supaya nanti tidak bertengkar soal kenapa aku pergi.'
Sabtu pagi, Dara datang dengan sepatu yang nyaman untuk berjalan. Ashila sudah menunggu di bangku bawah pohon, membawa termos dan dua cangkir kecil. Ia mengenakan baju yang dulu dibeli bersama Dara. Putrinya hampir mengomentarinya, tetapi kata-kata itu tertahan ketika melihat tangan ibunya sibuk membuka tutup termos.
'Teh,' kata Ashila. 'Tidak terlalu manis.'
'Terima kasih.'
Mereka duduk dengan jarak cukup untuk meletakkan tas di tengah. Di dekat jalur pejalan kaki, seorang anak mengejar bola yang terus lari menjauh. Ashila mengikutinya dengan pandangan sampai anak itu kembali kepada orangtuanya.
'Ibu tidak tahu mulai dari mana,' katanya.
Dara menunggu. Tangannya menghangat di sekitar cangkir. Teh itu memang tidak terlalu manis, berbeda dari yang biasa dibuat ayahnya.
'Ibu ingin kita dekat lagi.'
'Aku juga merindukan beberapa hal, Bu.'
'Apa kamu merasa Ibu tidak pernah melakukan apa pun yang baik?'
Dara menunduk sebentar. Pertemuan baru berjalan beberapa menit dan ia sudah merasakan kebutuhan menyusun daftar kebaikan agar ibunya mau mendengar bagian yang menyakitkan.
'Aku tidak bilang begitu. Aku ingat Ibu mengajariku membuat kue. Aku juga ingat Ibu bilang aku tidak akan sanggup mengurus usaha. Keduanya terjadi.'
Ashila memegang tutup termos. 'Ibu khawatir. Pekerjaanmu waktu itu sudah bagus.'
'Aku tahu Ibu khawatir. Tapi setiap aku memilih sesuatu, aku merasa harus membuktikan dulu bahwa aku bukan anak yang bodoh.'
'Ibu tidak pernah bilang kamu bodoh.'
'Waktu Ibu bilang Lani selalu lebih tahu apa yang harus dilakukan, aku mendengarnya begitu.'
Ashila mengalihkan pandangan. Dara membiarkan suara orang-orang lewat mengisi jeda. Ia tidak segera menjelaskan bahwa Lani juga pasti kesulitan, atau bahwa semua orangtua mungkin melakukan kesalahan. Ibunya perlu mendengar kalimat tentang dirinya tanpa ada orang lain yang menyelesaikannya.
'Ibu takut kamu susah sendiri,' kata Ashila akhirnya. 'Kalau kamu tidak mau mendengar, Ibu tidak tahu harus melakukan apa.'
'Tanya dulu. Kalau aku hanya ingin bercerita, dengarkan. Kalau aku minta pendapat, beri pendapat. Aku tidak selalu akan mengikuti.'
'Itu sulit untuk Ibu.'
'Aku tahu. Untukku juga sulit mengatakan tidak kepada Ibu.'
Ashila memandang seorang anak yang kembali mengejar bola. 'Lani tidak pernah bilang merasa dibandingkan.'
'Aku tidak bisa menjawab untuk Lani, Bu. Tapi Ibu bisa bertanya kepadanya tanpa mengatakan aku yang menyuruh.'
Ibunya tampak hendak membantah. Dara meneguk teh yang sudah hampir dingin. Ia tidak ingin sore berikutnya menerima telepon adiknya yang bingung mengapa namanya dibawa dalam pertengkaran. Selama bertahun-tahun mereka sama-sama mendapat cerita yang berbeda dari meja makan yang sama.
'Aku tidak marah kepada Lani,' tambahnya. 'Aku mau Ibu tahu itu.'
Ashila merapikan tali tasnya, kemudian mengangguk. Dara tidak yakin bagian mana yang disetujui ibunya, tetapi nama adiknya tidak disebut lagi.
Mereka minum lagi. Ashila menanyakan apakah Dara masih membuat kue dengan loyang lama. Pertanyaan itu membuat Dara berhenti menegangkan bahu. Ia menjelaskan gagangnya sudah diganti dan bagian bawahnya perlu dialasi lebih tebal. Ibunya mengeluh bahwa barang baru sekarang cepat rusak, lalu hampir menyarankan toko langganannya. Ia berhenti sendiri.
'Kalau kamu butuh, Ibu punya alamat tempat membeli yang kuat,' katanya.
'Nanti kalau perlu aku minta.'
Menjelang pukul sepuluh, Dara memasukkan cangkir kosong ke tas kain ibunya. Ashila tampak ingin memperpanjang waktu, tetapi ia tidak meminta Dara tinggal. Ia mengatakan akan mencoba mendengarkan sebelum memberi saran. Dara mengangguk tanpa mengatakan semuanya sudah selesai.
Mereka berpisah di persimpangan jalan taman. Dara mengirim pesan kepada Bima bahwa pertemuannya selesai dan ia ingin berjalan sendiri sebentar. Ia melewati jalur yang lebih panjang, membeli air, lalu duduk di bangku lain sampai tangannya tidak lagi terasa dingin. Tidak ada perasaan lega yang datang sekaligus. Ia masih marah pada beberapa kalimat dan senang pada teh yang tidak terlalu manis.
Malam itu, di apartemen, ia mengambil kertas kosong. Surat balasannya lebih panjang daripada surat Ashila, tetapi tidak berisi janji untuk menjadi dekat seperti dahulu. Ia menulis bahwa ia bersedia bertemu lagi. Di bagian bawah, sesudah ragu cukup lama, ia menambahkan satu kalimat: Loyangnya masih kupakai tiap minggu. Dara melipat kertas, memasukkannya ke amplop, lalu menaruhnya di dekat tas agar tidak lupa dibawa pagi nanti.