Bima membantu menumpuk cangkir ketika mengatakan bahwa ia mendapat tawaran memimpin program klinik keliling. Dara sedang mencatat bahan yang harus dipesan untuk pekan berikutnya. Ia menulis angka yang sama dua kali, lalu berhenti dan meminta Bima mengulang.
'Enam minggu,' kata Bima. 'Beberapa kota kecil. Aku mengurus tim di lapangan, bergantian dengan koordinator di tiap tempat.'
'Kapan berangkat?'
'Sekitar dua minggu lagi. Akhir April.'
Dara menutup buku. Ia melihat sisa air di wastafel, lampu dapur yang perlu diganti, tangan Bima yang belum lepas dari cangkir. Dua minggu mendadak terasa seperti waktu yang terlalu pendek untuk semua hal biasa yang belum mereka lakukan bersama.
'Kamu ingin mengambilnya?'
'Ingin. Aku merasa pekerjaannya cocok. Tapi kita baru mulai, lalu aku sudah pergi.'
'Kita tidak harus mengulang dari awal cuma karena kamu pergi.'
Bima tersenyum sedikit. Dara tidak membalas cepat. Ia memikirkan malam-malam ketika masih menunggu tanpa boleh bertanya, lalu membandingkannya dengan waktu sejak mereka menyebut hubungan itu dengan nama. Ia tidak ingin membatalkan semuanya karena takut merindukan seseorang. Ia juga tidak ingin menjadi perempuan yang selalu tersenyum setiap kali diminta memahami pekerjaan.
'Aku akan kesepian,' katanya. 'Aku tidak ingin bilang berangkat saja seolah aku tidak keberatan sama sekali.'
'Aku juga akan rindu.'
'Kamu bisa pulang?'
'Mungkin pada akhir pekan kedua. Tergantung tempat bertugas dan kendaraan tim. Aku belum bisa menjanjikan tanggal.'
Dara meraih agenda. Mereka memilih Rabu malam untuk panggilan video bila keadaan memungkinkan. Jika tidak, Bima akan memberi kabar dan menawarkan waktu lain, bukan meninggalkan janji menggantung sampai Dara tidur. Dara tidak perlu terus membalas pesan saat kedai ramai. Bima menulis jam biasanya kedai selesai dibereskan, lalu menunjukkan peta perjalanan yang masih berupa beberapa lingkaran.
'Jaraknya tidak semuanya dekat,' kata Dara.
'Iya. Itu sebabnya aku tidak mau bilang pasti pulang setiap akhir pekan.'
Mereka menghitung perjalanan dengan suara pelan. Tidak ada keputusan besar tentang masa depan. Dara hanya ingin tahu di kota mana Bima akan tidur, kapan perkiraan ia bisa menelepon, dan siapa yang perlu dihubungi jika benar-benar ada keadaan penting. Bima menjawab yang sudah diketahui, menandai bagian yang belum pasti untuk ditanyakan kepada tim.
Pekan berikutnya, persiapan mengambil lebih banyak waktu daripada yang mereka duga. Bima membatalkan makan pada Selasa. Kamis, ia menelepon ketika Dara sudah menutup kotak makanan untuk dibawa ke apartemennya. Ada pertemuan tambahan dan penyerahan tugas rumah sakit yang belum selesai.
Dara berdiri di dapur, menatap dua porsi lauk. Ia menjawab bahwa ia mengerti. Setelah telepon ditutup, ia menyadari kalimat tersebut belum menjelaskan seluruh perasaannya. Ia menunggu beberapa menit, mencuci tangan, lalu menelepon kembali.
'Aku mau bilang satu hal lagi.'
'Iya?'
'Aku tahu kamu banyak urusan. Tapi minggu ini kita belum makan bersama sekali pun. Besok jangan bilang akan datang kalau kamu masih punya tiga pekerjaan sebelum bisa berangkat.'
Bima diam. Dara mendengar suara orang berbicara di dekatnya, lalu langkah berpindah. Ia menunggu sampai suara itu lebih pelan.
'Kamu benar,' kata Bima. 'Aku terus menganggap sesudah pekerjaan ini pasti selesai. Ternyata ada lagi.'
'Aku tidak minta kamu datang malam ini.'
'Besok aku kosong setelah sore. Aku akan pastikan sebelum mengabarimu.'
'Kalau lelah, bilang juga. Aku tidak ingin kamu tertidur sambil minta maaf.'
Bima tertawa lemah. Dara ikut tersenyum, lalu menghabiskan satu porsi makan malamnya sendiri. Porsi lain ia simpan untuk besok, bukan untuk laki-laki yang mungkin mendadak muncul. Sesudah itu ia membaca beberapa halaman buku resep yang dibeli bersama Raka. Ada catatan pemilik lama di pinggirnya, peringatan bahwa ukuran gula perlu dikurangi. Dara menandainya dengan kertas, memutuskan mencobanya pada hari kerja yang lebih lengang.
Jumat sore Bima mengirim foto jadwal yang sudah dirapikan. Malamnya ia datang membawa makan dan dua lembar kertas. Dara baru selesai membantu Sari memeriksa persediaan. Ia menyuruh Bima menunggu sampai mereka menutup rak, lalu mengambil tempat di meja biasa.
'Ada satu hari yang kosong sebelum berangkat,' kata Bima.
'Benar-benar kosong?'
'Aku sudah memastikan tidak mengambil pengganti sif. Program belum dimulai. Kamu bisa meninggalkan kedai sehari?'
Dara memeriksa jadwal pegawai dan pesanan. Ia bisa pergi pada hari Minggu yang mereka pilih, asalkan persiapan selesai sehari sebelumnya. Mereka membicarakan pantai dekat kota yang pernah dilewati, belum pernah disinggahi bersama. Bima menawarkan berangkat pagi supaya tidak menghabiskan waktu di jalan.
'Aku bawa roti,' kata Dara.
'Aku bawa mobil.'
'Jangan merasa pembagiannya tidak adil. Rotiku belum tentu murah.'
Bima mengulurkan tangan melewati dua lembar jadwal. Dara menyambutnya, lalu menarik pensil yang hampir jatuh dari meja. Mereka menuliskan hari pantai dengan tinta berbeda. Sesudah makan, ia membiarkan Bima membantu mengeringkan piring, meski laki-laki itu perlu ditunjukkan dua kali rak untuk wadah plastik. Ketika pulang, Bima memeluknya di dekat pintu. Dara menempelkan wajah di bahunya sejenak, mengingat bau sabun dan kain bersih yang sebentar lagi harus digantikan suara dari telepon.
'Musik di mobil aku yang pilih,' kata Dara sebelum melepaskan pelukan.
'Ada yang salah dengan pilihanku?'
'Terakhir kita pergi, tiga lagu berturut-turut tentang ditinggal orang.'
'Aku punya lagu ceria.'
'Berapa?'
Bima berpikir dengan kesungguhan yang membuat Dara menyipitkan mata. 'Empat.'
'Kita perlu lebih dari empat. Perjalanannya bukan sampai toko sebelah.'
Ia menarik telepon dan mencari satu lagu lama yang dahulu sering mereka dengar selepas kuliah. Bima mengenalinya dari nada pertama, kemudian menyanyikan lirik yang salah. Dara membetulkan, Bima bersikeras versinya lebih masuk akal. Mereka berdiri di depan pintu yang belum terkunci, berdebat sampai seorang pejalan kaki menoleh sambil tersenyum.
Sesudah Bima pergi, Dara mematikan lagu itu sebelum bagian terakhir. Ia menyimpannya untuk perjalanan Minggu nanti, bersama dua lagu lain yang tidak berbicara tentang kehilangan. Di agenda, hari yang ditandai itu masih diapit pesanan dan jadwal belanja, tetapi Dara membiarkannya kosong dari pekerjaan lain.