Luka tapi tak berdarah, itulah yang dirasakan oleh Nadira. Gadis yang kini tengah duduk di bangku SMA kelas tiga itu merasakan luka yang hampir sama dalam sejarah hidupnya: dibuang orang tua kandung saat masih berupa bayi merah dan sedari dulu hingga kini harapannya memiliki orang tua angkat sirna kala pasangan suami istri itu urung mengangkat Nadira sebagai anak dengan alasan yang selalu sama, gadis remaja tahap akhir itu tak sempurna, pincang. Ya, gadis itu kaki kanannya pincang.
Nadira hendak menyerah dari kehidupannya yang ia yakini sebagai kutukan. Pilihan bunuh diri di rel kereta api menjadi jalan terakhir baginya.
Di saat peristiwa genting itulah Nadira bertemu dengan Samuel. Lebih tepatnya lelaki jakung itu menyelamatkan gadis yang berputus asa itu.
"Kamu gila, ya?" Napas Samu