"Jemput apa, Bang?" tanya Aisyah.
"Rania pulang besok. Dia minta jemput di bandara. Enggak apa-apa, 'kan?"
"Iya, enggak apa-apa," jawab Aisyah seraya tersenyum.
Entah kenapa mengingat tentang Rania, membuat perasaan Aisyah tak enak. Gadis berdarah Minang itu mencoba menepis pikiran buruk tentang seorang wanita yang diakui Samuel sebagai sahabatnya.
Bukan masalah persahabatan itu yang Aisyah risaukan, melainkan perkataan Rania kala ditelepon waktu itu: tentang Rania yang kini tengah berbadan dua tanpa ada yang bertanggung jawab pada janin di perutnya itu.
***
Pukul sepuluh pagi, Samuel sudah bersiap-siap untuk berangkat ke bandara, menjemput Rania.
Samuel meminta Aisyah untuk ikut, tetapi gadis berdarah Minang itu menolak. Kata Aisyah, hari ini ia ingin sekali untuk menemui Nad