Azan subuh berkumandang. Aku tidak tidur sama sekali. Setelah sekian jam bersandar pada dinding, aku hanya sesekali terpejam dan langsung terperanjat bangun setiap mendengar suara petir.
Setelah salat, hati menjadi lebih tenang. Tidak secemas sebelumnya.
Sekitar pukul setengah enam, hujan deras masih mengguyur. Tidak berhenti sedikit pun sejak semalam. Aku memberanikan diri untuk keluar.
Warga sudah ramai. Rupanya akan didirikan sebuah tenda posko pengungsian di depan rumah ini. Banyak warga dari bawah yang datang ke sini.
Banyak pria berseragam oranye dan loreng yang terlihat sibuk membangun tenda.
Penasaran, aku mempertipis jarakku dengan mereka untuk melihat lebih dekat. Aku bertanya kepada salah satu tentara yang sedang membangun tenda.
"Pak, ini beneran tsunami?" tanyaku sedikit berteriak.
Ia membalikkan badan. Menatapku sebentar kemudian mengangguk. Sedikit tertawa, ia menjawab "Buktinya banyak pengungsi, tuh".
Jadi benar, ya? Ini tsunami. Kulihat banyak pengungsi yang masih menangis tersedu-sedu. Dari pendengaranku, mereka banyak yang kehilangan anggota keluarganya. Entah terseret ombak, atau pun terpisah.
Sungguh, merinding nyata.
Tentara tadi kembali menatapku dengan pandangan menyelidik. "Kamu Iris, kan?"
Mataku mengerjap sebentar, kembali menatapnya. "Astaghfirullah, Kak Juna! Aku sampai nggak sadar"
Ia tersenyum tipis. "Rumahmu di sini?"
Aku menggeleng. "Aku habis liburan di pantai semalam"
Matanya melebar seketika. "Ya ampun, berarti kamu ngalamin kejadian ini dong semalam? Gimana? Kamu baik-baik aja?"
Aku mengangguk. "Seperti yang terlihat"
"Astaghfirullah, pantesan gamis bawahmu kotor banget tuh. Kamu seriusan nggak apa-apa? Mau diperiksain nggak? Ada tim PMI di sana"
Yaa Allah, Mas Juna sebaik ini ya kepada warga sipil. Baguslah kalau Mamas ditugaskan di sini. Lebih cocok. Karena Mamas sangat peduli sesama, hehe.
"Nggak apa-apa, kok, Kak."
"Kamu udah sarapan?"
Aku menggeleng. "Belum. Teman-temanku juga belum"
"Ambil sarapan di tenda sebelah sana. Nanti kalian sakit gimana? Pasti dari semalam belum makan apa-apa, kan?"
Ucapannya membuatku tersenyum. "Jangankan mikirin sarapan. Yang ada kita pengen cepat-cepat sampai ke rumah. Bebas dari rasa khawatir yang bahkan sampai sekarang pun masih terasa"
"Insyaa Allah sudah aman." Senyumnya membuatku berhenti berbicara.
Mas Juna melanjutkan pekerjaannya. Aku tidak ingin terlihat mengganggu, jadi aku memutuskan untuk kembali masuk ke dalam rumah tempatku mengungsi.
Sepertinya teman-teman masih betah di dalam. Mereka tidak ingin keluar sama sekali. Padahal aku merasa tidak nyaman terus-terusan berada dalam ruangan.
Aku masuk dan duduk di atas keramik putih ini. Seseorang tiba-tiba saja berbicara dengan nada tinggi. "Di sosmed beredar bakal ada gelombang susulan"
Astaghfirullahal'adzim. Lemas. Jantungku yang mulai tenang kembali memacu tak beraturan. Terlepas berita ini benar atau tidak, tetap saja membuat kami khawatir.
Dalam keadaan seperti ini, aku tidak bisa duduk diam. Aku tidak betah. Segera kuhampiri seorang alumni yang bisa disebut pimpinan kami karena ia adalah peserta yang paling dewasa.
"Kak, ini gimana? Kita mau pulang kapan?"
Kak Farhan menghela nafas. "Nanti, tunggu jalan raya kondusif. Sekarang itu jalan raya masih dibersihkan dari barang-barang sapuan tsunami semalam. Dan yang terpenting, kendaraan. Angkot yang kita tumpangi waktu berangkat kan sudah pulang lagi. Kita nggak tahu kita mau pulang pakai apa" jelasnya dengan tenang.
Aku memukul dahi dengan telapak tangan, tertunduk di hadapan Kak Farhan. "Katanya mau ada gelombang susulan" lirihku.
"Yang pegang HP, usahakan jangan buka sosmed dulu. Hemat baterainya buat menghubungi keluarga. Lagian sosmed itu benarnya belum tentu, tapi bikin kita semakin khawatir dan nggak jelas begini" saran Kak Farhan masih dengan kelembutan yang sama.
"Aku nggak nyangka kalau semalam itu tsunami. Serius, deh. Soalnya emang yang kita rasain tuh ... nggak kesentuh air sama sekali" aku mencoba mengalihkan topik.
Kak Farhan tersenyum. "Sama, saya juga kaget waktu lihat story-w******p orang-orang. Ternyata udah banyak bangunan di pesisir yang rata dan berantakan. Alhamdulillah Allah masih menyelamatkan kita"
"Iya, Kak. Alhamdulillah banget"
"Kamu tahu? Setelah kita naik ke atas waktu malam, itu ada gelombang selanjutnya yang lebih besar. Kalau kita nggak lari semalam, kita pasti udah kena. Banyak warga daerah bawah yang jadi saksi. Alhamdulillah pada selamat"
Aku sedikit kaget mendengarnya. "Allahu Akbar"
"Jadi, sekarang kamu tenang aja. Buktinya daerah ini dijadiin tempat pengungsian kan, berarti daerah ini dihitung aman dari gelombang"
Ah, iya. Aku tidak berpikir ke arah sana. Semoga saja memang tidak akan terjadi apa pun lagi. Semoga.
.
Tenda pengungsian telah selesai dibangun. Warga berbondong-bondong datang dan berebut tempat untuk tidur dan beristirahat.
Aku memerhatikan semuanya di depan teras sendirian. Teman-temanku masih syok. Mereka jadi lebih betah di dalam rumah karena tidak ingin menjadi lebih syok melihat aktivitas para pengungsi yang banyak kehilangan keluarganya. Ditambah guyuran hujan yang tak kunjung henti menambah suasana menakutkan bagi kami. Sudah kubilang, tidak tahu mengapa suara hujan deras terdengar seperti suara ombak.
Bahu kananku bersandar pada sebuah tiang penyangga rumah. Masih memerhatikan lalu-lalang keramaian warga.
"Hei! Jangan ngelamun!" Teriak seorang pria di depan gerbang rumah. Ia tersenyum dan mulai berjalan menghampiriku.
"Kalian rencananya mau pulang pakai apa?" Tanya pria bertopi loreng di depanku.
Ya, he is Mamas. Mas Juna-ku yang sedang bertugas di sini.
Aku menggeleng. "Nggak tahu. Bingung."
Kacang ijo itu menjentikkan jari dan tersenyum. "Saya dan beberapa tentara mau balik ke Yonif untuk mengumpulkan logistik pakai dua helikopter. Kalian bisa ikut kalau mau"
"Oh, serius? Kita ada sekitar empat puluh orang. Gimana, Kak?" Aku berharap, semoga ....
"Ya, bisa!"
Alhamdulillah. Akhirnya Allah beri jalan kita buat pulang.
"Cepat kasih tau teman-teman kamu. Sepuluh menit lagi kita berangkat. Helikopternya ada di lapangan sebelah sana" ujar Mas Juna menunjuk sebuah tempat.
Aku mengangguk mantap dan segera masuk memberitahukan kabar baik ini kepada teman-teman.
Setelah bersorak hamdalah, kami semua langsung berangkat mengikuti Mas Juna.
"Risti! Itu Mamas?" Adisti melebarkan matanya saat mengatakan itu.
Aku mengangguk menahan senyum. Disti langsung melayangkan pukulan bahu kepadaku.
"Dasar kamu! Nggak bilang-bilang, pengen diembat sendiri aja. Ngefans-nya bareng-bareng ya senangnya juga bareng-bareng, dong!"
"Ck, ya sudahlah. Kamu kan udah ada Letda Najmu Firdaus!"
Wajahnya langsung memerah. Ia tidak menjawab apa pun lagi. Eh, benarkah? Apa jangan-jangan ....
"Kamu pacaran sama Mumu?"
"Heii! Jangan sembarang omong. Kita nggak pacaran" ketus Disti.
Aku hanya bisa tersenyum meledek ke arahnya.
__
Helikopter telah mendarat di lapangan Yonif 320. Kami segera turun dibantu oleh bapak-bapak tentara di sana. Kami segera dibawa menuju suatu ruang terbuka oleh mereka.
Rupanya kami diberikan sedikit makanan dan minuman oleh personel 320. Baik sekali mereka.
Setelah beberapa menit beristirahat, kami berencana untuk segera pulang ke rumah. Kebetulan, rumah kami semuanya tidak terlalu jauh dari daerah Cadasari, tempat batalyon ini. Paling jauh jaraknya sekitar satu jam dari sini, yaitu rumahku.
Mereka semua akan dijemput oleh keluarganya masing-masing. Bagi yang beruntung menyimpan uang di dalam saku, mereka bisa pulang menggunakan angkutan umum.
Aku membuka ponsel. Tidak ada telepon dari Mumu. Ah, sepertinya benar, Mumu akan langsung ditugaskan mencari korban di daerah terdampak tsunami. Aku harus mengabarinya bahwa aku telah aman.
Kami telah berpamitan kepada tentara di sini. Satu persatu dari kami sudah mulai dijemput dan pulang sendiri ke rumahnya.
Tersisa aku dan beberapa alumni yang bersikeras untuk tetap di sana sebelum kami semua pulang.
"Iris, kamu pulang sama siapa?" Suara yang kukenal.
Aku mendongak. "Um, belum tahu. Kakak aku kayaknya lagi tugas, jadi nggak bisa jemput"
"Tugas apa? Masa nggak bisa ditinggal sebentar buat jemput adiknya yang lagi darurat ini" protes Mas Juna.
Aku tersenyum mendengarnya. "Tugas negara yang paling utama"
Dahinya berkerut manis. Eh. "Kakakmu abdi negara?"
Aku mengangguk. "Yes. Kacang ijo nyebelin tapi ngangenin"
"Ooh, kakakmu tentara juga. Wajar kalau begitu. Ya sudah, saya antar kamu ke rumah" ujarnya langsung melenggang pergi tanpa memberiku kesempatan untuk menjawab.
"Eh" Ya terserahlah.
"Itu tentara yang ketemu kamu di warung nasi kan?" Sebuah suara menyebalkan berbunyi tiba-tiba di belakangku.
"Kamu nguping, ya?"
Anam melotot. "Ya kedengeranlah. Pede banget sih kamu"
Aku mendecih. Masabodoh dia dengan urusannya, aku tidak peduli.
Pip pip.
Sebuah moge telah terparkir dengan seorang pemuda sok manis di atasnya. Ia menoleh dan memanggilku.
Aku langsung berpamitan kepada semuanya dan menghampiri kacang ijo di atas motor itu. Setelah naik, kami langsung tancap gas menuju rumah.
Selama perjalanan, kami tidak berbicara sedikit pun. Saat aku tidak sengaja melihat ke arah kaca spion kirinya, aku melihat matanya yang juga sedikit melirik ke arah spion. Kulihat bibirnya tersenyum tipis.
Ada sesuatu yang berdesir dalam tubuhku. Aku tidak tahu apa, mungkin pembuluh darah. Pokoknya sesuatu itu membuat jantungku lebih cepat memompa.
Aku memutuskan untuk menghindari menatap kaca spion. Nanti kalau jantungku copot bagaimana? Letda Dwi Arjuna mana mau tanggung jawab.
Kami pun sampai di rumah. Tetanggaku ramai menyambut saat aku tiba. Aku segera mencari Mama di rumah.
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumussalam, Putriii" Mama langsung memelukku erat. Erat sekali. Sudah jarang aku berpelukan seperti ini dengan Mama.
Mas Juna ikut masuk, kami segera mempersilakannya duduk di sofa. Mama mengambil air untuk kami berdua.
"Makasih, ya, Pak, udah nganter anak saya"
Mas Juna hanya mengangguk dan tersenyum. "Nggak apa-apa, bu. Ini emang tugas saya"
Seperti ada yang tersentil di dalam sana. Ya, Mas Juna mengantarku karena ini memang tugasnya.
Please, Iristi Putri, nggak usah baper. Ingat, kamu tuh siapa.
"Kamu yakin nggak ada yang luka?" Tanya Mas Juna kepadaku.
Aku mengangguk. Merasakan sedikit nyeri di bawah telapak kaki sana. Ah, padahal aku tidak merasakan apa pun waktu di sana.
"Tapi tadi kamu jalannya sedikit pincang"
Eh, iyakah? Aku tidak sadar tuh. Kulihat telapak kaki kananku yang terbungkus kaus kaki. Sudah robek, kaus kakinya. Dan kulitku di sana terlihat sedikit mengelupas.
Oh, ternyata luka ini yang membuatku terlihat pincang. Kenapa baru terasa sekarang?
"Cuma kegores sedikit. Kayaknya gara-gara aku nyeker waktu lari"
"Coba lihat" Mas Juna mengintip kakiku.
"Nggak apa-apa. Ini bisa langsung dikasih betadine"
Matanya menatapku ragu. Dahinya sedikit berkerut. Eh, tidak percayaan amat. "Yakin? Kalau kenapa-napa langsung ditindak, ya. Langsung hubungi saya aja"
"Hubungi gimana? Mas--eh, Kak Juna kan lagi tugas di sana"
"Apa? Mas?"
"Enggak-enggak. Aku salah ngomong tadi"
Ia tertawa kecil. Memamerkan gigi rapinya yang putih menawan. "Lucu juga kamu"
"Apaan sih" aku menahan senyum.
"Biasa aja, nggak usah blushing. Saya pergi dulu, ya"
Blushing? Oh, pipiku terasa panas ternyata.
Setelah berpamitan kepada Mama, ia segera beranjak menuju motor gedenya. Aku mengantarnya sampai teras.
"Makasih, ya, Kak" ucapku.
Ia balas senyum, mengangguk. Menyalakan motor, lalu membuka ponselnya sebentar. Setelah itu, ia segera tancap gas kembali ke batalyon.
Aku menghela nafas menatap kepergiannya. Peristiwa ini benar-benar meninggalkan pengalaman berkesan yang tak terlupakan.
Aku kembali masuk ke dalam, mengambil ponselku di atas meja dan segera masuk ke kamar. Ada notifikasi.
@dwijuna_
Get well soon, Iris. Syafakillah.