Liburan semester lima ini aku dan kawan-kawan satu organisasi pergi ke pantai di daerah Carita, Pandeglang. Pesertanya sekitar empat puluh orang. Acara kali ini bertujuan untuk Tadabbur Alam, atau singkatnya bisa diartikan mengagumi ciptaan Tuhan.
Ini adalah liburan semester terakhir bagiku dalam masa sekolah. Maka aku tak akan menyia-nyiakannya dengan tidak ikut. Mengapa aku berkata demikian, karena si Mumu awalnya tidak mengizinkanku untuk ikut acara ini.
Mendingan di rumah aja deh sekali-kali. Lagian ini tuh cuacanya lagi buruk, Put. Nggak baik di pantai.
Yaelah, Mu. Kan di sana kita mendirikan tenda, terus ada bapak ibu guru yang bertanggung jawab juga kalau kita sakit.
Lebih baik mencegah daripada mengobati.
Mumu... Ini liburan terakhir aku sama anak Rohis. Lagian Mumu biasanya juga fine-fine aja kalau aku mau main sama teman.
Ya gimana ya... Nggak enak aja gitu lihatnya. Cuaca lagi nggak bagus. Apalagi nginep segala.
Mumu, nginepnya cuma semalam, kok.
Tetap aja angin pantai tuh nggak bagus.
Terkahir, lho, Mu. Terkahir aku liburan sama teman-teman yang aku kenal.
Kayak nggak ada waktu lagi aja.
Itulah obrolan negosiasiku lewat chat dengan Mumu sebelum berangkat. Kalimat terkahir dari Mumu tidak kubalas. Karena aku sudah terlanjur siap-siap berangkat, sudah packing, dan pokoknya sudah tinggal angkat kaki saja. Jadi, aku tetap berangkat walau Mumu tidak terlalu mengizinkan.
Dan akhirnya, di sinilah aku berada sekarang. Berdiri di atas batu pesisir sembari menunggu sunset. Percikan air laut yang sedang pasang mengenai sepatuku. Eh, kencang sekali.
"Ayo semuanya persiapan salat maghrib" teriak salah satu temanku dari belakang.
Kami akan melakukan salat berjamaah di dekat tenda. Kami mendirikan tenda agak lumayan jauh dari air laut, sekitar lima puluh meter.
Setelah melaksanakan salat maghrib, kami masih duduk di tempat untuk menunggu waktunya tausiyah. Sambil menunggu, aku yang kebetulan duduk di samping Adisti mulai mengobrol.
"Disti, lihat deh gunung itu. Seram, ya" aku menunjuk sebuah gunung yang memuntahkan sesuatu berwarna merah api menyala tampak bergerak turun. Ditambah kepulan asap yang bergerak di atasnya. Gunung itu terlihat berada di tengah laut sana.
"Oh, itu gunung Anak Krakatau" jawab Adisti.
Aku mengangguk-anggukkan kepala. "Kalau meletus, dampaknya sampai ke sini nggak, ya?"
Adisti tampak berpikir. Namun jawaban yang kudapat hanyalah sebuah gelengan kepala. Adisti membuka HP-nya ketika ada nada dering notifikasi berbunyi.
"Kakakmu nanyain, Ris" ucap Adisti sembari mengetikkan sesuatu.
"Nanyain apa? Eh-eh tunggu jangan bilangin kalau aku--"
"Ud--ah"
Aku menghela nafas lemas. Pasti Mumu menanyakan perihal ini kepada Adisti. Yasudahlah, mau diapakan lagi.
"Kamu nggak diizinin sama Bang Najmu?"
Aku melirik Adisti ragu-ragu. Terkadang, dia suka mengomel juga kalau aku melanggar sesuatu. "Iya"
Adisti langsung menghela nafas. Tuh kan. "Tumben"
Eh?
"Nggak tahu deh. Tumben banget Mumu kayak gitu" aku mengendikkan bahu.
Adisti tersenyum melihat layar ponselnya. Sedetik kemudian, ia mengalihkan pandangan ke arahku. "Hati-hati cuaca buruk katanya. Pakai jaket, Ris. Perhatian deh kakakmu."
"Ini pakai mukena malah"
Adisti tertawa mendengar jawabanku. Ah, sepertinya Mumu dan Adisti akan dekat beneran. Haha.
Guru yang akan memberikan tausiyah sudah datang. Kami langsung ambil posisi mendengarkan hingga waktu isya tiba.
.
Bakda Isya, kami semua melakukan persiapan pensi. Yah, namanya anak Rohis, rata-rata pensi yang ditampilkan bertema solawat. Tidak masalah sih, justru bagus menurutku.
Tibalah saatnya temanku menampilkan pensi. Ia duet dengan seorang alumni yang juga memiliki suara indah. Ah, sepertinya bakal seru kalau dua orang bersuara emas melantunkan solawat di malam hening seperti ini.
Yaa Muhaiminu Yaa Salam. Salimna wal muslimin.
Suara indahnya terdengar begitu lembut. Dicampur dengan suara deburan ombak dan suara kapal.
Apa? Tunggu. Suara kapal? Di pantai? Yakin? Malam-malam seperti ini?
Brrrrr.
Suara itu terdengar semakin dekat. Para pendengar hening sejenak, bukan karena solawat yang dilantunkan, namun mendalami suara dari arah pantai yang bergemuruh seperti...
"Astaghfirullahal'adziiim! Lariiii!"
Suasana ricuh seketika. Tidak. Tidak ada suara jeritan. Hanya suara irama nafas semakin kencang mengiringi tempo lari yang terasa sangat ringan. Tidak ada alas kaki, kami hanya terus berlari tanpa melihat ke belakang.
Kami menanjak menuju jalan raya. Kami terus berlari dan berhenti di sebuah rumah di sisi jalan yang berseberangan dengan pantai.
Mulailah terdengar suara tangisan, jeritan, doa. Apa yang barusan terjadi? Tidak tahu, aku masih syok dengan semua ini.
Para laki-laki mulai berkumpul dan menanyakan kejadian barusan kepada pemilik rumah yang barusan kami singgahi.
"Kalau suara gunung sih sering, tapi kalau kejadian air naik itu baru kali ini" ujar lelaki paruh baya itu.
Astaghfirullahal'adzim, air naik rupanya. Yaa Allah ....
Seorang lelaki dari pantai berlari ke arah kami. "Itu motor kerendam air semua. Nggak bisa jalan, kecuali diangkat"
"Terus gimana? Siapa yang mau ngecek ke sana dan ambil kendaraan yang masih bisa dipakai?" Ujar Bapak Guru pembina kami.
"Udah, laki-laki turun sebagian ayo. Angkat celananya sampai lutut" ujar Anam memimpin.
Mereka pun berjalan menuju pantai kembali. Dan aku hanya bisa berjongkok lemas. Masih belum sadar sepenuhnya, apa yang terjadi.
"Pulaaang... Aku mau pulang..." suara salah seorang adik kelas yang terdengar semakin memperkeruh suasana.
Astaghfirullahal'adzim. Pengen pipis.
"Tenang semuanya tenang. Ingat Allah, yakin sama Allah. Berdoa semuanya" kalimat terlontar dari mulut entah siapa. Antara sadar dan tidak sadar. Mataku menerawang sesuatu yang... Entah apa.
"Mungkin air lagi pasang. Makanya airnya cuma sampai pantai kan, enggak naik ke jalan" ujar seseorang entah siapa.
Beberapa motor telah diangkat, entah masih bisa digunakan atau tidak. Setelah semuanya berkumpul, entah karena apa, tiba-tiba saja warga menyuruh kami berlari.
"Udah deh, ayo-ayo sini Neng semuanya lari aja ke atas, ke belakang"
Ayo-ayo, cepat-cepat.
"Lewat sini, Neng, cepat-cepat"
Yaa Allah, kita disuruh lari. Ada apa sih sebenarnya? Air naik, air pasang, ayo naik, cepat lari. Apakah yang ada di pikiranku sekarang itu benar-benar terjadi?
Aku berlari sekuat tenaga tanpa alas kaki. Apalah peduliku dengan sandal yang tertinggal. Yang ada di pikiranku saat ini hanyalah lari sejauh-jauhnya.
Yaa Allah, rombongan sudah terpisah-pisah. Semakin jauh, nafasku semakin memburu. Kakiku semakin lemas karena jalan yang terus menanjak. Lari sedikit lagi, maka rasa lemas akan hilang karena tubuhku telah menyesuaikan.
Di sampingku ada seorang adik kelas laki-laki dari rombonganku. Sesekali ia menaikkan kain sarungnya yang sedikit menghambat laju lari. "Pelan-pelan aja, Kak. Kita udah lumayan ada di atas kok ini" ujarnya sedikit menenangkanku.
Namun, tidak. Tidak sedikit pun aku merasa tenang dalam situasi mencekam ini. Terlebih ketika kami mulai memasuki pemukiman warga, dan melihat mereka yang mulai panik dan berteriak membangunkan sanak-saudara dari tidur lelapnya.
Air sudah sampai mana?
Hei, cepat jemput ibu di bawah.
Yaa Allah, banyak pengunjung pantai.
Suara-suara itu berseliweran di sekitarku. Namun tak sedikit pun mengurangi niatku untuk terus berlari sejauh mungkin, setinggi mungkin.
Entah berapa kampung sudah kami lewati. Sekarang, kami berada di sebuah jalan bebatuan rusak. Di kanan dan kiri jalan ini banyak pepohonan lebat yang kupikir adalah sebuah hutan.
Ponsel di dalam saku jaketku berdering. Mumu.
"Mumu maafin akuuu"
"Dek? Putri, kamu dimana sekarang? Gimana? Kamu selamat, kan? Aku udah lihat berita" Ah, rupanya Mumu telah mengetahui kabar ini.
"Iya, Mumu. Aku udah lari ke atas dan nggak tahu di mana. Rombongannya pisah-pisah" suaraku bergetar.
"Alhamdulillah. Udah, pokoknya sekarang kamu cari tempat paling aman. Tenang, ya. Tetap berjalan, oke? Sampai kamu nemuin tempat yang paling aman. Kamu sama siapa?"
"Aku sama teman rombonganku, satu orang, laki-laki"
"Oke, sedikit aman. Pokoknya tetap hati-hati, ya? Sebentar lagi aku pasti dikasih tugas buat berangkat ke sana"
"Mumu, ini tuh... Tsunami?"
"..."
"Mu? Jawab aku"
"Kamu tenang aja, ya. Cepat cari teman-teman rombonganmu yang lain. Irit baterai, jangan keseringan dipakai kecuali darurat."
"Iya, Mu. Jangan bilang Mama dulu, ya. Mama pasti sekarang masih tidur dan belum lihat berita"
"Oke. Stay safe, I love you"
"Love you too"
Aku menghela nafas kasar. Maafin aku, Mumu.
"Kak, tadi Kak Farhan sms, katanya diam di tempat. Kita bakal dijemput. Mereka udah nemuin tempat istirahat yang Insyaa Allah aman menurut Bapak Pembina"
Aku berpikir sebentar. Masih belum terlalu yakin dengan keputusan ini. "Yaudah. Tapi, gak bisa sambil jalan kah?"
"Kak Farhan nyuruh kita diam di tempat"
"Aku--"
"Airis!"
Anam muncul dengan sepeda motor entah milik siapa. "Ayo, kita kumpul sama yang lain. Tinggal kalian yang belum kumpul. Sisanya udah disusulin dan ketemu. Kebetulan kan jalannya cuma lurus."
"Kamu dari arah bawah?" Aku ragu untuk mengikutinya.
"Iya, kalian udah lari terlalu jauh. Ini udah tinggi banget. Kamu nggak usah ragu buat turun sedikit aja, daerahnya Insyaa Allah udah aman, kok"
Aku menarik nafas panjang. Mencoba percaya. "Oke"
Tubuhku yang masih terasa bertenaga ini menumpangi motor yang dikendarai Anam. "Adit gimana?" Aku teringat partner lari barengku hingga sejauh ini.
"Adit nanti dijemput Kak Hilman. Tunggu, ya. Nggak takut, kan? Hehe"
"Ish. Nggak lucu, Anam"
Ia nyengir. "Ya maaf"
"Lihat situasi, dong. Ayo jalan"
Motor mulai menuruni setiap jalan yang sebelumnya kutanjak dengan sepenuh tenaga dan sepenuh hati.
Kami pun sampai di sebuah rumah warga yang sudah ramai oleh rombonganku. Adisti dan Isti ada di sana.
"Iristi!" Mereka berdua langsung memelukku dengan erat. Entahlah, bertemu mereka sedikit menenangkanku.
"Kamu nggak apa-apa? Ayo duduk sini" mereka membawaku menuju teras rumah yang telah ramai.
Hingga tengah malam, lalu-lalang warga masih ramai. Masih banyak yang menjemput sanak-saudaranya yang berada di kampung di daerah bawah.
Hujan gerimis sedikit menyejukkan. Namun kepulan asap tebal begitu pekat terlihat di atas sana. Ya, itu pasti asap Anak Krakatau. Pemandangan itu semakin membuat malam ini terasa mencekam.
Kudengar bapak-bapak yang mulai mengobrol. Seseorang baru saja memarkirkan motornya setelah datang dari arah bawah.
"Di pasar udah banyak yang ngambang, udah puluhan yang meninggal"
Innalillahi. Perutku semakin terasa mulas mendengarnya. Alhamdulilah kami masih diberi keselamatan sejauh ini. Bahkan kupikir, aku akan menyusul Papa malam ini.
Langit semakin gelap. Bahkan kilatan petir beserta suaranya sudah mulai mendominasi. Hujan deras langsung mengguyur kami. Aku yang sedang di luar, langsung memilih masuk ke dalam rumah yang di dalamnya telah terdapat teman-temanku.
Malam mencekam ini dihiasi dengan zikir dan solawat tanpa henti dari mulut kami semua. Tak ada yang dapat tidur dengan tenang.
Suara hujan dicampur angin terdengar seperti suara ombak. Entahlah sebenarnya itu suara apa.