Hari ini aku berangkat bareng Mumu. Sekalian pergi ke Bogor katanya. Ah, aku sebenarnya tidak begitu rela melepas Mumu berangkat dinas lagi.
Nanti kalau aku pulang, nggak ada yang iseng lagi. Dan hal yang paling sulit kurelakan adalah ... kalian tahu sendiri. Tethering-hotspot-portable-nya itu! Yaaah, padahal selama ada Mumu aku bisa menghemat kuota di rumah. Namanya anak sekolah, uang jajan pas-pasan, ya paket internet juga pas-pasan.
Mumu menurunkanku di depan gerbang sekolah. Kebetulan sekali, saat aku datang, Adisti juga baru tiba.
"Disti, tunggu!" Teriakanku menghentikan langkahnya. Ia pun menoleh dan menghampiriku. Bisa kulihat, matanya sedikit kaget melihatku turun dari moge tentara. Karena ia memang tidak tahu bahwa aku memiliki kakak berprofesi sebagai seorang tentara.
Aku menyodorkan tangan untuk menyalimi Mumu. "Mu, hati-hati, ya"
Namun mata Mumu tidak menatap ke arahku. Tatapannya tertuju kepada orang di belakangku. Yap, Adisti. Entah apa yang dipikirkannya. Mungkin ia terpesona oleh kecantikkan sahabatku.
"Hah? Iya. Kamu juga" jawab Mumu dua detik kemudian.
Aku pun segera berjalan melewati gerbang bersama Adisti di sampingku. Sesekali, matanya masih melirik-lirik jalan raya yang ada di belakang kami.
"Ris, tadi siapa?" Matanya begitu tajam saat bertanya.
"Hm? Pacarku" aku mengulum senyum dengan alis dinaikkan.
Ia memukul bahu kiriku dengan perasaan. "Ish, serius napa kalau ditanya"
"Yeeh tumben serius amat, biasanya juga bercanda. Kamu naksir sama dia? Apa jangan-jangan mau nikung aku?"
Matanya terbelalak mendengar kalimat terakhir. "Iiih apaan sih! Lagian aku nggak percaya kalau dia itu pacarmu"
Aku memajukan bibir, "kenapa? Aku terlalu jelek buat dapatkan hati tentara?"
"Ya bukan gitu, kamu cantik kok. Masalahnya, kamu nggak mungkin pacaran dan nggak mungkin salim, cium tangan sama laki-laki bukan mahram kamu. Iya, kan? Jadi aku penasaran"
Eh, seperti itukah aku di mata Adisti? Hey, hatiku sedikit menghangat mendengar ucapannya. "Ya tapi bisa aja, kan? Aku nggak sebaik itu, lho"
"I see. Tapi, maaf. Aku tetap nggak percaya kalau yang tadi itu pacarmu"
Setelah melewati resepsionis, kami segera berbelok ke tangga yang menuju komplek kelas XII.
"Kenapa nggak percaya? Kamu masih nggak bisa nerima kenyataan kalau orang yang kamu sukai tuh pacar aku?"
Disti menghentikan langkahnya, menoleh dan menatap tajam ke arahku. "Risti, dengar, ya. Kamu jangan ngaco! Kenal juga enggak, baru lihat mukanya juga cuma pas tadi. Gimana bisa kamu nyimpulin aku naksir dia?"
Aku melanjutkan langkah, diikuti oleh Adisti. "Dari sikap dan ekspresi kamu waktu lihat dia. Terus dari tatapan mata kamu waktu nanyain dia itu siapa. Cukup jelas?"
"Sangat jelas tetapi tidak akurat"
"Up to you, Dipsyyy! Hahaha"
"I hate you, Lalaaa!" Teriak Disti.
"Waduh, kayaknya Po ketinggalan berita, nih" Isti muncul di depan ambang pintu kelas.
Kami mengobrol sepanjang jalan hingga tak terasa kami telah tiba di kelas. Aku sudah masuk duluan meninggalkan Disti yang sedang diwawancara oleh Isti.
Setelah beberapa menit berbincang, mereka berdua menghampiri mejaku. Aku menatap Disti dengan senyum penuh kemenangan.
"Apa kamu lihat-lihat?!" Ketus Disti sambil meletakkan tasnya di kursi sebelahku.
"Love you too, Dipsy!"
"Nggak jelas!"
Aku tertawa di dalam hati. Membayangkan Adisti dengan Mumu yang ditakdirkan bertemu. Hahaha.
****
Ketika bel berbunyi, aku langsung bangkit mengajak kedua temanku menuju mushola. Istirahat pertama memang biasa digunakan untuk salat dhuha.
Setelah berwudu, aku langsung mengambil mukena yang tersedia dalam lemari gantungan. Ada seseorang lain yang juga hendak mengambil mukena.
Dari beberapa mukena yang berderet menggantung, aku menjatuhkan pilihan kepada satu mukena putih bercorak bunga. Ketika aku mengulurkan tangan untuk mengambilnya ... hap! Pilihanku jatuh di tangan orang lain.
Reflek, aku menoleh ke arahnya. Eh, wajah cantik nan manis itu ... Putri Fabiola.
"Eh? Kakak mau pakai yang ini?" tanya siswi yang merupakan adik kelasku itu.
Aku tersenyum. "Ehm, enggak, buat kamu aja. Aku ikhlas kok"
Mana ada ikhlas bilang-bilang. Iristi bodoh! Iristi polos! Ketahuan banget ambigunya. Dia ngeh tidak ya dengan pernyataanku tadi? Ya memang itu sebenarnya tidak mengarah ke topik mukena.
Ia mengatupkan kedua bibir ke dalam, canggung. "Oh, o-oke. Makasih, Kak"
Isti dan Disti sudah memilih tempat duluan, karena mereka sudah membawa mukena masing-masing. Aku lupa tidak memasukkan mukena ke dalam tas gara-gara Mumu yang mengajak buru-buru.
.
Usai salat, entah kenapa udara terasa lebih sejuk. Semilir angin lebih terasa menerpa masuk ke dalam mukena yang kami pakai.
Kebiasaan. Selonjoran sebentar sebelum masuk kelas kembali. Adisti membuka ponselnya. Tak lama kemudian, ia heboh sendiri setelah melihat notifikasi di ponselnya.
"Astaghfirullahal'adziiim" suaranya hampir berteriak. Membuat Isti yang tertidur di pangkuanku langsung terbangun.
"Kenapa, he?"
Matanya langsung menyorotku begitu tajam. "Risti! Lihat, nih" Adisti langsung meyerahkan ponselnya kepadaku.
Kulihat disana. Oh, rupanya DM dari Mumu!
@firdaus_najmu
Kamu sekolah dimana?
@adisti.wigiii
Di SMK 1
@firdaus_najmu
Pandeglang?
@adisti.wigiii
Iya, abang orang pandeglang juga?
@firdaus_najmu
Jadi, yg tadi saya lihat itu beneran kamu?
@adisti.wigiii
Abang yg tadi nganterin Risti?
@firdaus_najmu
Iya, adik saya. Yang ngisengin kamu.
Duh pantesan tadi muka kamu nggak asing. Ternyata pernah liat di i********:.
@adisti.wigiii
Oh, jadi ulah Risti.
Hm, sama. Aku juga nggak asing lihat abang, nanya ke Ristii malah gak dijawab bener.
@firdaus_najmu
Haha, bilang apa dia?
@adisti.wigiii
Katanya, itu pacarnya.
@firdaus_najmu
Bilang ke dia, JOMBLO MAH JOMBLO AJA, GAUSAH NGAKUNGAKU ABANG JADI PACARNYA.
@adisti.wigiii
Haha siap bang.
Pesan terakhir belum dibaca oleh Mumu. Dasar, barusan dia menurunkan harga diri adiknya sendiri di depan temannya. Bicara kok seolah-olah dia laku saja. Padahal setahuku dia lebih jomblo ngenes daripada aku.
Kuserahkan kembali pondel Adisti. Ia mulai menghujamiku dengan tatapan mautnya. Ah, kayaknya sih sebentar lagi aku habis di tangan algojo kami.
"Eh, ayo bangun. Sebentar lagi masuk, lho" ucapku seraya melepas mukena.
"Mau kabur, ya?" Pertanyaan Adisti mengeluarkan cengiran innocent dari wajahku.
"Iristiii! Tahu nggak sih aku tuh penasaran banget sama tentara ini, dan tiba-tiba dia nge-DM, katanya itu dibajak sama adiknya yang iseng. Ternyata itu kamu! Dasaaar!"
Aku dan Isti yang mendengarnya langsung terbahak. Tanpa menjawab apa pun, kami langsung merapikan mukena bekas kami pakai.
"Oi, Risti! Jawab!"
Aku masih belum bisa menahan tawa, akhirnya Isti mewakiliku. "Yaudahlah, Dis. Artinya kan Risti udah bukain jalan untuk kamu bisa dekat sama tentara yang bikin kamu penasaran itu. Kenapa harus marah-marah coba?"
Aku yang mendengarnya langsung menambahkan. "Lagian kan sekarang kamu bisa ada bahasan buat chat sama kakak aku. Harusnya kamu berterimakasih sama aku, Dis"
"Cih, terimakasih udah diisengin gitu maksudnya"
"Terimakasih udah didekatin sama tentara cakep, dong" Isti menyahut.
"Kalian ini yaaa!"