"Samlekom!"
"Samlekom!"
"Ini rumah gede doang, isinya zonk," gumam Mia yang lelah berteriak.
Bodohnya ia tidak menyadari kalau ada bel yang bertengger di sebelah pintu utama rumah tersebut.
Ya, meskipun dia menyadari ada bel pula, Mia tetap tidak bisa menjangkaunya karena letaknya terlalu tinggi sedangkan badannya pendek.
Mia menghembuskan napas kasar. Kesal.
Ceklek ...
Suara kunci dibuka membuat Mia menegapkan badannya. Sejujurnya ia was-was untuk tahu siapa yang membukakan pintu.
Lima detik Mia menunggu, akhirnya pintu besar itu terbuka dan langsung menampilkan wajah pria tua dengan rambut sudah memutih seluruhnya.
"Assalamualaikum," kata pria tua itu, mengoreksi ucapan salam Mia yang salah.
"Eh?" Mia nyengir. Baru sadar kalau pria tua itu baru saja mengoreksi ucapannya. "Waalaikumsalam, Akhi," lanjut Mia.
Pradana—pria tua itu menggelengkan kepalanya ketika melihat kelakuan anak muda yang kini berdiri di hadapannya.
"Siapa yang datang, Opa?" Seorang perempuan datang dari balik punggung Pradana.
"Nggak tau."
"Ah, aku lupa memperkenalkan diri." Mia berbicara lagi, lalu menjulurkan tangannya pada perempuan yang baru saja datang. "Namaku Mia, calon pacar Yoga."
Mendengar penuturan Mia, perempuan yang baru datang itu langsung tergelak sambil menyambut uluran tangannya. "Gue suka gaya lo!"
"By the way, nama gue Syanin—kakak Yoga," lanjut perempuan itu. "Yang sebelah gue ini Opa Pradana—kakek Yoga."
"Salam kenal," ujar Mia ramah, disambut anggukan oleh Pradana dan Syanin.
"Ya sudah, Syanin ajak Mia masuk ke dalam. Opa mau balik ke atas lagi." Pradana lebih memilih menjauh dari kedua orang itu. Dia tidak ingin ambil pusing dengan bergabung karena sejak awal berinteraksi dengan Mia tadi, ia langsung tahu karakternya. Heboh.
"Ayo masuk!" Suara Syanin masih bisa didengar oleh Pradana saat ia baru menaiki tangga rumahnya untuk menuju ruang keluarga di lantai dua.
Syanin langsung mengajak Mia duduk di ruang tamu rumah itu. Ruang tamu yang sangat luas dengan lampu gantung raksasa di atasnya.
"Sayang banget Yoga lagi nggak di rumah, sore gini biasanya dia belum pulang, malas-malasan dulu di sekret. Sok banget anak organisasi satu itu." Syanin membuka obrolan.
"Emang sok dia, Kak! Sok ganteng mentang-mentang banyak yang suka!" ujar Mia menggebu-gebu, membuat Syanin tertawa lagi.
"Percuma banyak yang suka kalau nggak bisa milih mana yang pantas dijadiin pacar."
"Setuju. Eh, tapi nanti dia pilih aku kok, Kak."
"Aih, jadi nggak sabar lihat adik gue bucin," gumam Syanin kemudian.
"Kak, sebenarnya aku ke sini bukan mau cari Yoga." Mia mengalihkan pembicaraan ke inti permasalahan. Dia memang bukan datang untuk Yoga, melainkan untuk Syanin.
"Loh? Terus?" tanya Syanin bingung.
"Kemarin tuh aku kesal sama Yoga karena dia nggak balas chatku, jadi aku mau samperin ke fakultas dia. Eh, nggak sengaja ketendang kaleng, kalengnya kena mobil kakak yang lagi dibawa Yoga. Maaf ya, Kak?" Mia menjelaskan ulang kejadian kemarin.
"Oh, jadi lo?"
Tubuh Mia menegang mendengar nada bicara Syanin yang berubah. Dia takut diusir dengan cara ditendang oleh Syanin mengingat raut wajah cemas Yoga kemarin saat melihat mobil kakaknya baret. Sepertinya Syanin menyeramkan saat marah.
Dalam hati Mia membayangkan adegan pembantu yang diusir paksa oleh majikannya. Apakah setelah ini Mia akan mengalami hal tersebut?
Mia menggeleng pelan, berusaha mengusir pikiran buruknya tentang Syanin.
"Iya, aku yang udah bikin mobil kakak bar—"
"Mata adik gue juling kali, ya?" tanya Syanin, memotong ucapan Mia.
Dahi Mia berkerut bingung. "Juling? Yoga juling?!"
"Iya, masa katanya yang baretin mobil gue itu orang gila. Mana ada orang gila secantik lo," jujur Syanin.
"Kakak nggak marah?"
"Ngapain marah?"
"Aku udah bikin mobil Kakak baret. Kata Aarav dan Cakra gini ..." Mia menjeda sebentar ucapannya untuk kemudian berbicara lagi, menirukan gaya bicara kedua teman Yoga padanya kemarin, "Mampus lo, Mia. Itu mobil kesayangannya Kak Syanin, hilang deh harapan lo jadi adik iparnya."
Lagi-lagi Syanin tertawa. Fix, Syanin menyukai karakter Mia. Syanin dan Mia. Klop. Sifat mereka mirip, pasti mereka akan cepat akrab.
Sepertinya habis ini Syanin akan mulai benar memaksa Yoga untuk menjadikan Mia sebagai pacarnya agar dia punya teman perempuan di Jakarta karena kedua adiknya laki-laki dan semua sahabat perempuannya ada di Bandung.
Setelah sedikit meredakan tawanya, Syanin berbicara lagi, "Gue nggak marah karena pulang dari kampus kemarin Yoga langsung bawa mobil itu ke bengkel dibantu sama pacar gue. Untung pacar gue bisa bujukin gue buat sabar, kalau enggak udah nggak ada kepala tuh anak."
"Tapi, itu 'kan salah aku?"
"Bukan, ini salah Yoga. Perempuan selalu benar," sahut Syanin santai sambil menyenderkan bahunya di sofa tempat mereka duduk.
Mia sedih seketika. "Yah, padahal aku mau ganti pakai hati biar bisa pacaran sama Yoga."
***
Yoga turun dari mobil BMW i8 milik Alkana—pacar Syanin yang baru saja terparkir di pekarangan rumahnya.
Mereka berdua baru kembali dari bengkel tempat mobil Syanin dibetulkan. Ternyata pengerjaannya belum selesai, butuh satu hari lagi karena bagian yang baret lumayan banyak.
"Masuk dulu, Bang. Kak Syanin ada di dalam," kata Yoga pada Alkana yang akhirnya memilih turun dari mobilnya juga.
Dua laki-laki berbeda usia itu berjalan berdampingan untuk masuk ke dalam rumah. Namun, saat baru sampai di teras rumah, mereka sama-sama mengernyitkan kening bingung karena mendengar suara tawa menggelegar dari dalam.
Karena kepalang penasaran, mereka berdua berjalan cepat untuk masuk ke dalam.
Dan ... betapa terkejutnya Yoga ketika melihat kakaknya sibuk bercerita sambil tertawa dengan Mia. Iya, Mia si pengganggu yang selalu menempelinya di kampus.
Tidakkah cukup Mia menempeli Yoga di kampus hingga sekarang dia datang ke rumahnya pula?
Kepala Yoga mendadak pusing dan bedenyut-denyut. Kedua perempuan itu tidak menyadari kehadiran mereka, Mia dan kakaknya terlalu larut dalam pembicaraan yang entah apa itu.
Yoga berjalan mendekat. Saat sampai di depan keduanya, Yoga langsung menunjuk-nunjuk Mia. "Heh, kunti! Ngapain lo di rumah gue?!"
"Eh, siapa yang ngajarin lo kasar sama perempuan?!" sentak Syanin, membuat nyali Yoga menciut seketika. Di belakangnya, Alkana terkekeh pelan meski tidak tahu apa yang sedang terjadi. Hanya saja, ekspresi Syanin selalu lucu baginya.
Seolah menghiraukan perilaku Yoga sebelumnya, Mia malah melempar senyum lebar pada laki-laki itu sebelum berkata, "Calon pacarku udah pulang?"
Yoga mengedikkan bahunya. Ngeri.
Dalam hati Yoga berdoa, jangan sampai ia jatuh cinta dengan spesies bernama Mia ini. Bisa gila dia menghadapi perempuan itu setiap hari.
Namun, yang tidak diketahui oleh Yoga adalah semua orang terdekatnya diam-diam berdoa agar dirinya dan Mia bisa dipersatukan.
Doa Yoga kalah telak. Dia kalah suara. Kini iblis di sekitar Yoga sedang menertawakannya karena tidak ada yang mengaminkan doanya.