Setelah berbincang-bincang mereka berdua memutuskan untuk pergi mandi, kedua wanita itu pergi mandi bersama-sama, dan saling membantu mengeringkan rambut, dan memakai pakaian.
Setelah itu keduanya turun ke ruang makan untuk makan siang, dengan Calista yang merasa khawatir akan bertemu dengan Eiden.
Calista berjalan dengan sangat berhati-hati, sampai pada akhirnya mereka tiba di ruang makan dan di sana sudah ada tuan dan nyonya Wiryawan orang tua dari Ester.
"Huft ... untung saja pria itu tidak ada," ucap Calista dalam hatinya dan dia langsung duduk di samping Ester dan memulai makan siang mereka.
Saat mereka sedang menyantap makan siangnya, Ester menggunakan kesempatan itu untuk meminta akan segera di berangkatkan ke luar negeri pada malam itu juga dan meminta izin untuk membawa Calista bersama dengannya.
Karena kedua orangtua Ester Sudah sangat mengenal Calista dengan baik, maka mereka pun langsung mengiyakan permintaan putri mereka, dan ayahnya Ester mengatakan akan mengurus semua yang di butuhkan Calista untuk pergi bersama Ester.
"Terimakasih Ayah, Ibu kalian sudah mengizinkan Calista ikut." Ester terlihat sangat bahagia.
Calista juga melakukan hal yang sama dengan Ester dia berterimakasih kepada Tuan dan Nyonya Wiryawan.
"Terimakasih sudah mengijinkan ku untuk pergi bersama Ester, aku janji pasti akan menjaga Ester dengan baik disana nanti," ucap Calista dengan tulus, dan di balas dengan senyum oleh nyonya Wiryawan, dan wanita itu memegang tangan Calista dengan penuh kehangatan.
"Maaf kalau kami jadi merepotkan kamu untuk menjaga putri kami," ucapan nyonya Wiryawan, dan hal itu langsung di tanggapi dengan gelengan kepala dari Calista.
"Tidak ... saya tidak merasa di repotkan kok, malah saya senang, karena saya bisa selalu berada di samping Ester, karena Ester adalah sahabat saya dan saya sudah menganggap dia seperti adik saya sendiri." Perkataan Calista itu membuat Ester sangat bahagia dan dia langsung memeluk Calista dengan erat.
"Aku sangat bahagia, aku pun merasa sangat senang kau akan ada bersama dengan ku, pokoknya kamu itu adalah sahabat terbaik sekaligus Kakak terbaik!!!" Ester berseru dengan sangat bahagia, membuat seorang pria yang baru saja masuk ke ruang makan berdehem.
"Ehm ... Kakak terbaik yah?" ucapan pria itu membuat Ester langsung melepaskan pelukannya dengan Calista dan duduk terdiam dengan perasaan gelisah.
"Eiden jangan seperti itu kepada adikmu, biar bagaimanapun kalian berdua itu kakak beradik," ucap Bu Wiryawan kepada kakaknya Ester yang memang setiap perkataannya bisa membuat Ester tertekan.
Eiden tidak menanggapi perkataan ibunya, malahan dia hanya duduk di kursi yang berhadapan dengan Calista dan memulai makan siangnya.
Calista dan Ester makan dalam ketegangan memikirkan masalah yang terjadi kemarin malam, seolah-olah masalah itu tidak akan pernah berakhir dan akan terus menghantui pikiran mereka.
Hal itu terlihat jelas oleh Eiden, tapi dia tidak mau membahas semua itu di meja makan karena di sana ada ibu dan ayahnya, jadi dia tetap berusaha untuk bersikap tenang dan berpura-pura tidak mengetahui kegelisahan kedua wanita itu.
Setelah selesai makan siang, Ester cepat-cepat mengajak Calista masuk kedalam kamar dan meminta dia menunggu sebentar di dalam kamar.
"Kamu tunggu aku didalam kamar, aku mau keluar sebentar," ucap Ester
"Baiklah, kau boleh pergi, aku mau istirahat dulu."
"Istirahatlah aku akan segera kembali," Ester kemudian meninggalkan Calista di kamarnya, sebelum pergi Ester menoleh melihat Calista dengan perasaan bersalah.
Sepeninggalan Ester, Calista langsung naik ke tempat tidur dan membungkus dirinya dengan selimut, di dalam selimut tubuhnya gemetaran karena dia merasa sangat takut saat dia bertemu Eiden saat makan siang.
"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja, dia adalah kakak dari sahabat ku, kenapa aku harus takut kepadanya, semua akan baik-baik saja," ucap Calista dalam hatinya sembari menenangkan perasaannya yang sedang ketakutan.
Sementara itu Ester pergi menemui kakaknya Eiden di ruang kerja pria itu, saat tiba di depan pintu Ester ragu-ragu untuk mengetuk pintu tapi akhirnya dia tetap melakukannya, setelah mendengar jawaban dari dalam Ester pun masuk kedalam.
Melihat yang datang Ester adiknya, Eiden menyuruhnya duduk, Ester pun menuruti perkataan kakaknya dia duduk dengan perasaan penuh ketakutan, sesekali dia menatap kakaknya dengan takut-takut dan kemudian kembali menundukkan kepalanya melihat kebawah.
"Semoga saja kakak tidak mengungkit masalah kemarin, dan jangan sampai dia juga mendapatkan petunjuk dari semua yang terjadi, bisa tamat aku kalau sampai itu terjadi," ucap Ester dalam hatinya yang begitu sangat gelisah.
Bagaimanapun semua yang terjadi kemarin malam semua karena kecerobohan dirinya, seharusnya dia memperhatikan dengan baik semuanya, agar hal yang buruk seperti sekarang tidak akan pernah terjadi.
Awalnya dia hanya akan membiarkan Calista tidur sendiri dalam kamar itu dan membohongi Adiva dengan mengatakan kalau Calista sudah tidur dengan pria asing, tapi terjadi hal yang terduga terjadi, ternyata kakaknya malah tidur di kamar yang sudah dia sediakan untuk Calista.
"Ada apa Ester? Kenapa kamu kelihatan sangat ketakutan seperti itu di depan ku? Apakah kau sudah melakukan suatu kesalahan?" tanya Eiden yang pertanyaannya itu membuat Ester langsung mengangkat kepalanya dan menggeleng.
"Tidak kok, Kakak selalu bersikap dingin padaku bagaimana aku tidak merasa takut dengan Kakak, me ... memangnya Kakak mau berbicara apa denganku? Apakah Kakak akan memarahi aku, karena kemarin malam aku sudah pergi ke pestanya Calista tanpa izin dari Kakak?" tanya Ester pada kakaknya, karena memang kemarin malam dia dilarang untuk pergi keluar karena keadaannya yang kurang sehat tapi karena paksaan dan ancaman dari Adiva sehingga dia terpaksa harus pergi tanpa sepengetahuan kakaknya.
"Tidak bukan itu, aku bukan akan memarahi kamu karena itu, aku hanya ingin bertanya apa benar kamu Kemarin pergi ke pesta yang dia adakan oleh temanmu itu, yang bertempat di hotel milik keluarga kita?" tanya Eiden membuat Ester benar-benar semakin merasa panik.
Kakaknya memang sangat pintar untuk berpura-pura tidak tahu dengan beberapa hal, tapi apabila Ester ketahuan berbohong oleh dirinya, maka dia akan memberikan hukuman kepada Ester, sifat kakaknya itu yang sangat di takuti oleh Ester.
"Aduh Kakak rupanya sudah curiga kepada diriku," ucap Ester dalam hatinya penuh dengan kekhawatiran.
"I ... iya, Kakak," ucap Ester dengan sangan gugup dan dia berkeringat dingin yang membuat bajunya basah, sehingga dia kembali merasa pengap walaupun dia baru saja mandi.
"Dan apakah kamu juga memesan kamar nomor 909 di hotel itu?" tanya Eiden yang membuat Ester semakin merasa takut, karena semua pertanyaan Eiden menandakan dia mulai curiga dengan apa yang terjadi, dan semua pertanyaan itu mulai mendekati kepada hal yang dia rahasiakan.