"Dan apakah kamu juga memesan kamar nomor 909 di hotel itu?" tanya Eiden yang membuat Ester semakin merasa takut karena semua pertanyaan Eiden menandakan dia mulai curiga dengan apa yang terjadi, dan semua pertanyaan itu mulai mendekati kepada hal yang dia rahasiakan.
Kamar 909 adalah kamar yang memang di desain khusus, karena kamar VIP itu memang menjadi kamar keluarga Wiryawan saat mereka berkunjung ke hotel itu.
Dan saat itu Ester hanya ingin Calista aman dari gangguan siapapun jadi dia memesan kamar khusus itu untuk Calista, karena tak ada yang akan memasuki kamar itu kecuali keluarga Wiryawan.
Tapi siapa yang bisa menduga, niat Ester untuk melindungi sahabatnya malah berakhir dengan kejadian buruk.
"Eh ... ii ... iya Kak, awalnya aku memesannya untuk ku gunakan bersama Calista jika nanti acara selesai dan kami mau beristirahat di situ, tapi saat kami masuk Kakak sudah berada didalam dan sedang mabuk jadi kami mengurungkan niat kami dan pergi ke kamar lainnya," ucap Ester yang masih merasa sangat gugup karena di interogasi oleh kakaknya.
Eiden memperhatikan adiknya itu, dan kelihatan sekali kalau adiknya Sangat ketakutan saat berhadapan dengan dirinya.
Tapi itu bukan hal yang aneh lagi untuk seorang Ester yang memang selalu seperti itu apabila berhadapan dengan Eiden kakaknya, bahkan saat dia melakukan hal kecil sekalipun dia akan sangat takut untuk berhadapan dengan kakaknya.
Maka tidak ada sedikitpun kecurigaan Eiden terhadap adiknya itu, dia tidak mencurigai kalau adiknya itu terlibat dalam masalah rumit yang saat ini sedang dia hadapi.
"Lalu saat kau masuk apa kau melihat ada orang lain di dalam kamar ku itu," tanya Eiden.
Ester tidak menjawab, dia hanya menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Hmm ... kalau begitu pergilah, dan beristirahatlah," ucap Eiden dan langsung pergi meninggalkan Ester, di ikuti oleh Ester yang kemudian langsung berlari kembali ke kamarnya.
Eiden pergi ke taman belakang dan duduk di bangku taman, dia terlihat sedang memikirkan sesuatu, dan yang dia pikirkan adalah kejadian yang terjadi kemarin malam.
"Sebenarnya siapa yang melakukan semua ini, siapa yang sudah memberikan ku obat, dan juga membawa seorang perempuan ke kamar itu, dan perempuan itu ..." Eiden seketika merasakan kepalanya sakit di saat dia ingin mengingat apa yang terjadi pada malam itu, dimana seorang wanita yang memberontak dan menolak untuk disentuh oleh dirinya.
Apalagi saat dia mengingat, saat dia melihat ada noda darah di seprei yang di gunakan, membuat dia yakin kalau perempuan itu juga sudah di jebak agar tidur bersamanya, Eiden menyandarkan tubuhnya ke bangku taman dan memijit keningnya yang terasa sakit.
"Aku harus menemukan perempuan itu, dan bertanggung jawab atas apa yang sudah terjadi, tapi bagaimana caranya sedang bahkan CCTV pun telah di hapus dan tak bisa di pulihkan lagi," Eiden merasa sangat frustasi karena dia pun sudah bertanya pada seluruh staf hotel dan memarahi mereka tapi tak ada satupun yang mau mengakui kalau mereka tau akan kejadian itu.
Bahkan dia juga sudah memeriksa semua tamu hotel dan tak menemukan kalau ada yang mencurigakan.
Oleh karena itu Eiden menjadi sangat kebingungan karena dia tidak bisa menemukan orang yang telah menjebaknya dan orang itu harus bertanggungjawab atas apa yang terjadi.
Sementara itu Ester langsung kembali ke kamarnya dan tidur di samping Calista, membuat Calista yang sedang tidur terbangun karena dia merasakan getaran di tempat tidur.
"Ada apa denganmu? Apa terjadi sesuatu?" tanya Calista sembari membalikkan badannya menghadap kepada Ester.
Calista memeluk Ester dikala dia merasakan kalau sahabatnya itu sedang ketakutan saat dia kembali setelah bertemu kakaknya.
Ester menggelengkan kepalanya.
"Tidak apa-apa, aku hanya heran kenapa setiap kali aku bicara dengan kakakku aku selalu saja takut kepada dirinya, sekalipun aku tidak bersalah, aku tetap takut saat bertemu dengannya, dan pastinya aku akan gemetaran."
"Aku merasa, kami berdua seperti dua orang asing yang tidak saling kenal, padahal kami adalah saudara kandung," ucap Ester sambil menarik nafas panjang.
Sejenak Calista melupakan apa yang telah terjadi sebelumnya dan dia fokus kepada Ester untuk menenangkan sahabatnya itu.
"Yah aku tahu, kamu dan Kakakmu memang jarang ketemu, apalagi mengenai rumor yang beredar kalau Kakakmu itu mempunyai sifat yang sangat dingin."
"Mungkin kamu hanya terlalu terbawah dengan rumor-rumor di luar, padahal sebenarnya kakakmu sangat menyayangi dirimu, apakah kamu lupa, setiap kali kamu sakit orang pertama yang akan khawatir dengan keadaan mu adalah kakakmu"
"Bahkan pernah saat itu sedang hujan lebat, dia menggunakan motornya menembus hujan di tengah malam hanya demi membawakan kamu obat, dia begitu menyayangi mu, tapi kamu sudah terlanjur takut kepadanya."
Ucapan Calista itu membuat Ester menganggukkan kepalanya dan dia langsung memeluk Calista dengan erat.
"Aku harap suatu saat nanti aku akan mempunyai keberanian untuk menghadapi kakakku," ucap Ester
"Dan aku juga berharap suatu hari nanti aku akan berani untuk mengungkap kebenaran yang sedang aku tutupi saat ini," ucap Ester dalam hatinya.
"Dan aku berharap saat kalian mengetahui akan hal itu, kalian tidak akan membenci diriku," ucap Ester dalam hatinya penuh dengan rasa bersalah atas apa yang terjadi.
"Baiklah kalau begitu sebaiknya kita istirahat saja dulu, karena nanti malam kita akan berangkat dan memulai hidup baru di kota lain," ucap Calista
"Kamu istirahat lebih dulu, aku harus mempersiapkan beberapa hal untuk kepergian nanti," ucap Ester meminta Calista untuk beristirahat terlebih dahulu.
"Baiklah," Calista pun kembali menutupi dirinya dengan selimut dan memejamkan matanya.
Sementara itu Ester menuju ke lemarinya dan mengeluarkan beberapa pakaian yang akan dia bawah, setelah memasukkan semuanya kedalam koper dia pun naik ketempat tidur untuk beristirahat.
Tapi dia bahkan sulit untuk memejamkan matanya, dia terus memandangi Calista, rasa bersalah dalam dirinya begitu besar.
Ingin rasanya dia jujur, tapi dia takut kalau Adiva akan membongkar rahasia dirinya.
"Aku tak tahu setelah ini apa yang akan terjadi pada dirimu Cal, semoga saja setelah pergi dari sini tak akan ada lagi hal buruk yang akan menimpah dirimu," ucap Ester dalam hatinya sambil menatap wajah Calista yang sudah tertidur nyenyak.
"Aku berjanji akan menjagamu Cal, dan tak akan melakukan hal ceroboh yang akan merugikan dirimu lagi," kini air mata lolos mengalir dari mata Ester.
Tanpa dia sadari dirinya sudah menodai persahabatan mereka, bahkan dia sudah merusak kehidupan seorang sahabat yang selalu ada untuknya, dan selalu menyayangi dengan tulus, bahkan rasa bersalah pun tak dapat menebus semua kesalahannya.