Setelah Calista dan Ester beristirahat, pada malam harinya mereka berdua di antar oleh Pak Wiryawan dan Istrinya ke bandara, karena pada malam ini mereka akan berangkat ke luar negeri di sebuah kota kecil yang kurang akan polusi dan baik untuk kesehatan Ester.
Setelah menempuh perjalanan selama sembilan jam akhirnya mereka sampai di sebuah villa yang terletak di sebuah pegunungan, udara di tempat ini memang sangat cocok untuk kesehatan Ester.
"Wah tempat ini begitu indah, saat kita berdiri di atas balkon seperti ini aku dapa melihat taman bunga yang indah di sebelah sana, udaranya sangat sejuk, dan juga masih banyak pohon-pohon yang rindang."
"Pokoknya di sini aku akan memulai hidup yang baru dan aku akan melupakan semua masalah yang telah terjadi," ucap Calista yang saat sedang berdiri di balkon bersama Ester.
"Aku pun sama, mulai hari ini aku akan memulai hidup baru ku di sini, dan aku tidak akan pernah mengingat lagi semua hal buruk yang pernah aku alami," ucap Ester yang saat ini sedang bersandar di bahu Calista.
Mereka berdua sedang memandangi pemandangan taman bunga yang sangat indah di pegunungan itu.
Setelah puas menikmati pemandangan dari balkon, keduanya pun masuk kedalam rumah dan beristirahat .
Keesokan harinya, setelah mereka menyantap sarapan pagi mereka, kemudian mereka berdua pergi berjalan-jalan di pasar yang tak jauh dari villa yang mereka tempati.
Mereka menikmati melihat aktivitas para penjual di pasar itu, sesekali mereka membeli sesuatu seperti makanan atau juga aksesoris.
Tapi saat mereka sedang asik berjalan mereka tak sengaja melewati sebuah bangunan universitas yang sangat besar.
"Wah ini seperti sebuah universitas," ucap Ester menghentikan laju sepeda motor yang mereka kendarai.
"Bukankah ini Universitas The World of Modeling, Universitas modeling yang terkenal itu?" ucap Calista yang duduk di belakang Ester.
"Ha! ... ternyata disini tempatnya, Universitas misterius yang selalu mengeluarkan lulusan terbaik setiap tahunnya, tapi tak ada yang tau dimana letak Universitas tersebut, bahkan dalam perekrutan mahasiswanya Universitas ini langsung memilih orang-orang yang di anggap mampu, dan sebelum masuk di Universitas ini calon mahasiswa harus menandatangani kontrak rahasia," ucap Ester dengan mata yang berbinar karena dia memang selalu mendengar tentang Universitas ini dan bermimpi suatu saat nanti dia juga bisa terpilih masuk ke Universitas ini.
Ester dan Calista sangat menyukai dunia permodelan, bahkan mereka pernah mengikuti latihan kursus modeling untuk memperdalam bakat mereka.
"Tapi aku bingung, kalau Universitas ini begitu rahasia, kenapa mereka harus mengukir nama Universitas ini di depan bangunannya, bahkan itu sangat besar dan jelas" ucap Calista yang merasa heran melihat ukiran nama yang sangat besar itu.
"Aku pun tak tahu, tapi ayah ku sempat bilang, kalau kota tempat kita tinggal saat ini bukan sembarang kota, untuk dapat tinggal di kota ini, kita harus menyelesaikan berbagai prosedur, dan harus membayar sejumlah uang," ucap Ester
"Ah, kalau begitu mintalah pada ayahmu untuk membantu kita masuk kedalam universitas ini," pinta Calista dengan penuh semangat.
"Benar-benar aku akan mencoba untuk membicarakan dengan ayahku," Ester mengangguk dengan bahagia.
Setelah puas berjalan-jalan mereka berdua pun kembali ke villa yang mereka tempati.
Mereka berdua sudah memutuskan untuk masuk ke Universitas itu, dan akan mengembangkan bakat mereka di dunia permodelan.
Sebulan sudah mereka tinggal di tempat itu, tiba-tiba saja saat mereka sedang asiknya makan, Calista yang mencium bau masakan yang menyengat langsung saja muntah-muntah di kamar mandi.
Calista memang selalu pilih-pilih makanan dan dia tidak menyukai makanan dengan bau yang menyengat.
Tapi yang membuatnya aneh adalah Spaghetti yang menjadi makanan kesukaan Calista saat ini malah menjadi makanan yang berhasil membuat dia mual.
"Cal apa kamu baik-baik saja?" tanya Ester yang menyusul Calista ke kamar mandi.
Wajah Calista terlihat begitu pucat, hal itu membuat Ester begitu khawatir.
"Aku tidak apa-apa, Es." Jawab Calista sambil mengatur nafasnya.
"Sebaiknya kamu memeriksakan dirimu, aku akan memanggil Dokter untuk datang," ucap Ester dan di Calista hanya mengangguk.
Tak lama kemudian seorang dokter perempuan paru baya datang dan langsung memeriksa Calista, saat dia memeriksa Calista dokter itu tersenyum kepada Calista, dan dokter itu mengatakan kepada Calista, kalau dirinya sedang mengandung dan usia kandungannya sudah lima Minggu.
Ucapan dokter membuat Ester dan Calista kaget dan mereka hanya bisa ternganga menatap sang dokter, mereka berdua tak percaya dengan apa yang dokter itu katakan.
"Tapi Dok bagaimana mungkin usia kandunganku sudah 5 Minggu sedangkan aku melakukan hal itu sebulan yang lalu," ucap Calista terbata-bata sambil menatap sang dokter dengan tatapan tak percaya.
Melihat Calista yang sepertinya tidak menginginkan kehamilannya membuat Sang dokter bergeming.
"Iya Bu, memang kalau menurut perhitungan Ibu seperti itu, tapi kalau dalam perhitungan kami dalam kedokteran, itu di hitung sesuai tanggal terakhir Ibu datang bulan."
Dan perkataan dokter itu membuat Calista terkejut, dia menatap kearah Ester, dia tidak percaya dengan apa yang terjadi.
Hamil !!!
Calista tidak dapat berkata-kata lagi, dirinya begitu shock mendengar apa yang di katakan dokter.
Sama halnya dengan Ester yang semakin merasa bersalah dengan apa yang di alami Calista saat ini.
Ester menatap Calista dengan tatapan prihatin, dia mendekati Calista dan memeluk sahabatnya itu.
"Es, sebaiknya kamu mengantarkan Bu Dokter keluar," Calista meminta Ester untuk pergi mengantarkan dokter itu.
Ester mengangguk pelan, dan langsung mempersilakan sang dokter.
"Terimakasih kasih karena Dokter sudah mau datang memeriksa keadaan saya," ucap Calista tulis kepada sang dokter.
Dokter itu mengangguk.
"Sebaiknya Ibu lebih banyak beristirahat, dan mengkonsumsi makanan yang bergizi, jangan terlalu lelah," ucap dokter menasehati Calista.
"Saya akan memberikan Vitamin dan obat pengurang mual."
"Baik dok, terimakasih banyak."
Kemudian dokter itu pun pergi meninggalkan Calista di dalam kamarnya, sementara Ester mengantarkan sang dokter keluar.
"Tolong di jaga dengan baik wanita itu, karena dapat dilihat kalau keadaannya tidak baik-baik saja," Dokter pun mewanti-wanti Ester
"Kalau terjadi sesuatu segera hubungi saya."
"Baik Dok, saya akan mendengarkan apa yang Dokter katakan," ucap Ester.
Sementara itu Calista sedang menangis didalam kamarnya, dia sangat bingung bagaimana nanti dia melanjutkan hidupnya dengan anak yang ada didalam kandungannya ini.
Dia tidak dapat berpikir lagi, semua pikirannya sudah buntu.
Yang ada di pikiran Calista saat ini, apa yang harus dia lakukan kepada perutnya, dia pertanyaan begitu banyak tapi dia tidak ada satupun jawaban yang bisa dia dapatkan untuk solusi masalah yang sedang dia hadapi saat ini.