Setelah mengantarkan dokter sampai ke depan, Ester kembali ke kamar Calista, saat dia baru membuka pintu, dia melihat Calista yang terlihat begitu hancur, dia terus menangis matanya terlihat sudah bengkak.
Ester mendekati Calista dan langsung memeluk Calista.
"Es ... katakan padaku kalau semua ini cuma mimpi semata," tanya Calista kepada Ester, dia seakan tak percaya dengan apa yang terjadi, dia sulit membedakan ini mimpi atau kenyataan.
Ester menatap Calista dengan tatapan penuh rasa bersalah, dia kembali memeluk Calista dan tangisan Calista terdengar semakin keras.
"Hiks ... hiks ... bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan, bagaimana aku menghadapi semua ini? Bagaimana nasib anak ini jika dia terlahir tanpa seorang ayah? Apa yang harus aku katakan padanya nanti," Calista terus menangis, Ester yang mendengar perkataan Calista sudah tidak dapat berkata-kata lagi.
Ester bingung apa yang harus dia lakukan, apakah dia harus bahagia atau dia harus merasakan rasa bersalah atas apa yang terjadi pada sahabatnya itu.
Bagaimanapun anak yang ada dalam kandungan Calista adalah anak dari kakaknya dan itu artinya anak itu adalah keponakannya.
Tak mungkin dia meminta Calista untuk menggugurkan kandungannya, tapi kalau terus mempertahankan kandungannya Calista akan menanggung malu seumur hidupnya.
Terlebih lagi saat anak itu lahir nanti, dia harus menanggung semua kesalahan yang pernah Ester lakukan, anak itu akan tumbuh tanpa seorang ayah, dia akan menjadi bahan ejekan anak-anak lainnya.
"Bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan, kenapa menjadi seperti ini," Ester bertanya pad dirinya sendiri, sampai-sampai dia lupa dengan Calista yang sedang menangis.
Ester baru menyadari kalau Calista sedang tidak baik-baik saja, dia terlalu terpukul dengan kejadian ini, sehingga tubuhnya saat ini menjadi lemas, dan hampir terjatuh.
"Astaga ... Calista!" dia begitu terkejut melihat Calista yang saat ini sudah tak sadarkan diri, dia langsung membaringkan Calista ke tempat tidur, dia begitu panik.
"Cal ... bangun Calista" Ester menepuk pipinya Calista berusaha untuk membangunkan Calista, tapi wanita itu tak juga bangun karena saat ini dia sudah pingsan.
Ester yang panik pun memanggil pelayan dan meminta mereka untuk mengambilkan minyak angin, tak lama kemudian pelayan sudah datang membawa minyak angin.
Ester menggosokkan sedikit minyak ke hidung Calista.
"Astaga kenapa malah jadi seperti ini, apa yang harus aku lakukan sekarang," Ester terus berusaha untuk membangunkan Calista, dia menggosok tangan dan kaki Calista.
Kepala Ester sudah sangat sakit, dia sudah tidak tahu bagaimana untuk menyelesaikan semua masalah yang terjadi, semua keputusan yang menjadi pilihannya memiliki resikonya masing-masing.
"Calista ayo bangun lah, jangan membuatku takut, aku tak bisa melihat mu menjadi seperti ini," Ester terus memandang wajah Calista yang sedang terbaring tak sadarkan diri dengan wajah yang pucat.
Yang ada di pikiran Ester saat ini adalah memastikan kondisi Calista saat ini baik-baik saja.
Dia kembali memanggil pelayan untuk mengambilkan air hangat dan juga kompres, dan kemudian dia mengompres tubuh Calista yang sangat dingin, dia juga memakaikan selimut ketubuh Calista.
"Please Cal ... Please ... bertahan lah, kamu harus kuat Cal," Ucap Ester dalam hatinya dan dia masih terus mengompres dahi Calista.
Ester terus saja gelisah, sampai akhirnya Calista mulai mengerjapkan matanya, dan perlahan dia membuka matanya, dan menatap Ester yang sedang melihat dirinya dengan cemas.
"Ester," Calista memanggil wanita yang ada dihadapannya itu dengan suara yang parau.
"Aku disini Cal, akhirnya kamu bangun juga, kau membuat ku ketakutan setengah mati, aku sampai kebingungan." Ucap Ester yang merasa sangat senang melihat Calista yang sudah sadar.
Calista berusaha untuk bangun dan duduk, tapi kemudian dia kembali menangis saat dia mengingat apa yang telah terjadi.
"Sekarang apa yang harus aku lakukan," tanya Calista kepada Ester sambil memegang perutnya yang masih rata, tapi saat ini diperut itu sudah berisi sebuah nyawa kecil yang entah itu anak siapa, siapa ayah dari anak ini Calista pun tak tau.
Air mata menggenang di mata Calista, melihat itu membuat Ester terpaku menatap Calista, bibirnya bergetar tapi dia tak mampu mengatakan apapun.
"Ester ... apa kau dengar apa yang aku katakan, hiks ... hiks ..." tanya Calista saat melihat Ester yang terlihat linglung, sedangkan saat ini dia sangat membutuhkan dukungan dari wanita itu.
"Cal ... bagaimana kalau kau ..." Ester tidak melanjutkan perkataannya dia menutup mulut yang hampir saja salah bicara.
"Sebentar aku akan mengambilkan air untuk mu," ucap Ester dan langsung pergi keluar meninggalkan Calista di kamarnya, dia tidak bisa terus menerus melihat wajah menyedihkan Calista.
"Ya Tuhan, apa yang aku pikirkan, aku bahkan hampir saja menyuruh Calista untuk menggugurkan anak yang bahkan tak berdosa itu, dan parahnya lagi anak itu calon Keponakan ku," langkah Ester terhenti di depan pintu kamar Calista.
Tubuhnya seketika lemas dan dia pun terduduk lemas di lantai, dia memukuli dirinya sendiri.
"Bodoh, dasar aku bodoh, bagaimana mungkin aku menyuruh Calista untuk menggugurkan calon keponakan ku sendiri, aku hampir saja membunuh calon anak kakakku."
"Kalau sampai itu terjadi aku bukan saja menjadi seorang sahabat dan adik yang buruk, tapi aku akan menjadi seorang tante yang jahat bahkan sebelum keponakan ku terlahir kedunia ini," ucap Ester sembari menangis tersedu-sedu menyadari kesalahan yang hampir saja dia perbuat.
"Aku tak bisa menambah daftar kesalahan ku lagi, tapi apa yang harus aku lakukan saat ini, tak mungkin aku mengatakan yang sebenarnya kepada Calista, dia akan membenci diriku," Ucap Ester kepada dirinya sendiri.
Tak hanya Calista yang menemukan jalan buntuh tapi Ester pun sama.
Apapun keputusan yang akan dia ambil nanti semua tidak ada yang akan mendapatkan hasil yang baik untuk dirinya, semua akan berdampak buruk pada dirinya, persahabatannya, dan juga pada hubungan dirinya dan kakaknya.
Ester merasa begitu frustasi, dia terus saja menyesali dirinya yang begitu lemah, yang tak bisa menyimpan rahasianya sampai harus di ketahui oleh Adiva, kalau saja itu tidak pernah di ketahui Adiva semua ini tidak akan menimpah Calista pasti saat ini gadis itu sedang bahagia.
Dan setelah melakukan kesalahan kepada Calista dan kakaknya bagaimana mungkin dia berpikir untuk menyakiti calon keponakannya, calon anak dari kakaknya dan calon cucu dari orang tuanya.
"Ya Tuhan, saat ini aku merasa sudah seperti seorang penjahat, aku merasa kalau aku seorang yang sangat buruk, tolong berikan aku petunjuk apa yang harus aku lakukan, dan apapun itu jangan sampai aku melukai perasaan orang lain lagi," ucap Ester dalam hatinya, saat ini dia terlihat begitu terpukul.