Cahaya senja merembes masuk melalui tirai rumah sakit, menciptakan bayangan-bayangan yang bergerak perlahan di dinding putih. Maya merasakan perubahan suasana bahkan sebelum dia mendengar langkah kaki mereka—Arya dan Sari kembali, tapi kali ini ada keintiman berbeda dalam cara mereka bergerak bersama. Seperti dua orang yang sudah mulai terbiasa dengan kehadiran satu sama lain.
"Kamu lelah sekali," suara Sari terdengar lebih dekat dari biasanya. "Kapan terakhir kamu tidur dengan nyenyak?"
"Tidak ingat." Arya menarik kursi dengan gerakan yang berat. "Mungkin... tujuh tahun yang lalu."
Keheningan yang sarat dengan makna. Maya bisa merasakan beban dari pengakuan itu—cara Arya mengaitkan ketidakmampuannya untuk tidur dengan malam kecelakaan. Malam yang mengubah segalanya.
"Ceritakan padaku lebih banyak tentang dia," kata Sari dengan lembut. "Tentang kalian. Aku ingin tahu seperti apa Maya sebelum... sebelum semua ini."
Maya merasakan detak jantungnya berubah ritme. Jarang sekali ada orang yang meminta Arya untuk bercerita tentang mereka. Kebanyakan orang menghindari topik itu, tidak tahu bagaimana cara merespons tragedi yang berkelanjutan seperti ini.
Arya diam cukup lama hingga Maya hampir berpikir dia tidak akan menjawab. Kemudian dia mendengar suara napas yang dalam, seperti seseorang yang sedang mengumpulkan keberanian untuk membuka kotak kenangan yang sudah lama tertutup.
"Maya adalah... energi murni." Suara Arya berubah tekstur, menjadi lebih hangat, lebih hidup. "Dia tidak bisa diam. Selalu ada proyek, selalu ada ide, selalu ada tempat yang ingin dia kunjungi atau hal yang ingin dia coba. Kadang aku berpikir dia punya dua kali lipat energi dari orang normal."
Maya ingat. Dia ingat bagaimana dulu dia selalu membangunkan Arya dengan rencana-rencana mendadak—piknik ke gunung, perjalanan ke kota sebelah, atau sekedar percobaan memasak menu baru di dapur mereka yang kecil.
"Dia suka menari di dapur sambil masak. Musik apa saja—pop, jazz, bahkan lagu anak-anak yang dia dengar dari televisi tetangga. Dan dia akan memaksaku untuk ikut menari, meskipun aku tidak bisa menari sama sekali."
"Kamu ikut menari?" Ada nada senyuman dalam suara Sari.
"Selalu. Dia punya cara untuk membuat orang tidak bisa menolak kebahagiaan yang dia bawa. Seperti... seperti gravitasi perasaan. Kamu tidak bisa tidak tertarik pada energi itu."
Maya merasakan sesuatu yang hangat dan menyakitkan sekaligus. Dia hampir lupa bahwa dulu dia seperti itu—bahwa dulu dia adalah sumber kebahagiaan untuk Arya, bukan sumber rasa bersalah dan kesedihan seperti sekarang.
"Kami bertemu di perpustakaan," lanjut Arya, dan Maya bisa mendengar nostalgia yang kental dalam suaranya. "Dia sedang mencari buku tentang arsitektur tradisional untuk tugas kuliahnya—Maya kuliah desain interior. Aku kebetulan sedang membaca buku yang sama untuk proyek kantorku. Kami mulai berdebat tentang filosofi ruang dan fungsi..."
"Dan kamu langsung jatuh cinta?"
"Tidak langsung. Tapi aku langsung... terpesona. Cara dia berbicara tentang kegemarannya, cara matanya menyala ketika dia menjelaskan visinya tentang ruang yang bisa mempengaruhi suasana hati manusia. Dia percaya bahwa lingkungan bisa menyembuhkan, bisa membuat orang merasa lebih baik tentang hidup mereka."
Ironi yang menyakitkan. Maya yang dulu percaya pada kekuatan penyembuhan lingkungan, sekarang terjebak dalam lingkungan yang steril dan dingin, tidak bisa melakukan penyembuhan apa pun—baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain.
"Kencan pertama kami berlangsung selama dua belas jam," Arya melanjutkan dengan suara yang semakin bernostalgia. "Kami mulai dengan makan siang, lalu jalan-jalan di taman, lalu makan malam, lalu duduk di kedai kopi sampai tutup, lalu ngobrol di mobil sampai jam tiga pagi. Maya bilang dia tidak percaya ada orang yang bisa membuatnya lupa waktu seperti itu."
Maya ingat kencan itu dengan kejernihan yang menyakitkan. Dia ingat bagaimana mudahnya percakapan mengalir antara mereka, bagaimana Arya membuatnya merasa didengar dan dipahami dengan cara yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Dia ingat bagaimana dia pulang dengan perasaan bahwa hidupnya baru saja berubah secara mendasar.
"Kami menikah setahun kemudian," kata Arya. "Pernikahan yang sederhana, tapi Maya membuatnya terasa seperti dongeng. Dia mengatur setiap detail sendiri—dari dekorasi sampai daftar putar musik. Dia bilang dia ingin pernikahan kami mencerminkan kepribadian kami berdua."
"Bagaimana rasanya? Menikah dengannya?"
"Seperti... seperti akhirnya menemukan rumah. Maya bukan hanya istri, dia juga sahabat terbaik, rekan dalam semua hal. Kami punya mimpi yang sama, rencana yang sama. Kami ingin punya anak, ingin bepergian keliling dunia, ingin membangun bisnis desain bersama-sama..."
Suara Arya mulai bergetar di akhir kalimat. Maya merasakan sakit yang familiar dari mimpi-mimpi yang tidak akan pernah terwujud.
"Malam sebelum kecelakaan," Arya melanjutkan dengan suara yang hampir seperti bisikan, "kami sedang merencanakan bulan madu kedua. Maya bilang kita perlu perayaan untuk ulang tahun pernikahan ketujuh kami. Dia sudah mencari hotel di Bali, sudah membuat rencana perjalanan lengkap dengan tempat-tempat yang ingin dikunjungi."
Maya ingat malam itu dengan detail yang menyayat hati. Mereka duduk di sofa dengan laptop, Maya bersemangat menunjukkan foto-foto resort dan pantai, Arya memeluknya dari belakang sambil sesekali mengusulkan kegiatan yang bisa mereka lakukan. Mereka tertidur di sofa itu, laptop masih terbuka di halaman pemesanan hotel.
"Kecelakaan terjadi keesokan harinya," kata Arya. "Kami sedang dalam perjalanan ke agen perjalanan untuk menyelesaikan pemesanan. Maya sangat bersemangat, dia tidak bisa berhenti bicara tentang bagaimana dia ingin melihat matahari terbenam di Tanah Lot bersamaku. Dia bilang dia ingin kita berdua membuat janji baru di sana, janji untuk... untuk selalu bahagia bersama."
Maya merasakan monitor detak jantungnya mulai berbunyi lebih cepat. Dia ingat percakapan itu di mobil, ingat bagaimana dia merasa bersyukur memiliki Arya, ingat bagaimana dia bilang bahwa dia tidak bisa membayangkan hidup tanpa suaminya itu.
"Truk dari arah berlawanan kehilangan kontrol," lanjut Arya dengan suara yang semakin serak. "Benturannya di sisi penumpang. Maya tidak sadar sejak saat itu."
Keheningan yang kental, dipenuhi dengan duka yang sudah berumur tujuh tahun tapi masih terasa segar.
"Aku tidak pernah memaafkan diriku sendiri," bisik Arya. "Seharusnya aku yang menyetir. Seharusnya aku yang..."
"Arya, jangan." Suara Sari tegas tapi lembut. "Kamu tidak bisa menyalahkan diri sendiri untuk sesuatu yang benar-benar di luar kendalimu."
"Tapi bagaimana aku tidak menyalahkan diriku? Maya ada dalam kondisi seperti ini karena dia sedang bersamaku. Karena kami sedang merencanakan masa depan bersama. Karena aku membiarkannya bersemangat tentang sesuatu yang tidak akan pernah terjadi."
Maya ingin berteriak bahwa dia tidak menyalahkan Arya, bahwa kecelakaan itu bukan salah siapa pun, bahwa dia tidak pernah—bahkan untuk satu detik—menyesal karena berada di mobil itu bersamanya. Tapi dia tidak bisa mengatakan apa pun, dan Arya harus hidup dengan rasa bersalah itu sendirian.
"Maya tidak akan ingin kamu menyalahkan diri sendiri," kata Sari dengan keyakinan yang mengejutkan Maya. "Dari cara kamu bercerita tentang dia, aku tahu dia adalah orang yang akan ingin kamu bahagia. Bahkan tanpa dia."
"Bagaimana kamu bisa begitu yakin?"
"Karena orang yang bisa membuat orang lain jatuh cinta seperti cara Maya membuatmu jatuh cinta—orang seperti itu punya kemampuan mencintai yang tak mementingkan diri sendiri. Dia pasti lebih peduli pada kebahagiaanmu daripada pada ego atau rasa memilikinya sendiri."
Maya merasakan sesuatu yang rumit—campuran antara rasa syukur karena Sari memahami karakternya dengan ketepatan yang mengejutkan, dan patah hati karena pemahaman itu datang dari wanita yang perlahan mengambil tempatnya dalam hidup Arya.
"Kadang aku merasa seperti aku mengkhianati semua kenangan indah itu dengan merasakan... dengan merasakan hal yang aku rasakan untukmu," kata Arya dengan suara yang penuh konflik batin.
"Perasaan baru tidak menghapus kenangan lama, Arya. Cinta tidak bekerja seperti permainan satu menang yang lain kalah. Kamu bisa menghormati masa lalu sambil tetap membuka diri untuk masa depan."
Maya mendengar suara kain bergesekan—mungkin Sari bergerak lebih dekat ke Arya, mungkin menyentuh tangannya dengan gerakan yang menghibur.
"Maya beruntung pernah dicintai seperti itu," lanjut Sari. "Dan kamu beruntung pernah merasakan cinta seperti itu. Tapi sekarang... sekarang kamu juga berhak merasakan jenis cinta yang berbeda. Cinta yang bisa kamu jalani, bukan hanya cinta yang bisa kamu kenang."
Kalimat itu menancap dalam di jantung Maya. Cinta yang bisa kamu jalani, bukan hanya cinta yang bisa kamu kenang. Itulah yang tidak bisa dia berikan lagi untuk Arya—cinta yang hidup, yang berkembang, yang bisa dibagi dalam bentuk nyata, bukan hanya dalam bentuk kenangan.
"Aku takut," bisik Arya. "Takut bahwa aku akan melupakan dia. Takut bahwa kebahagiaan baru akan menghapus kebahagiaan lama."
"Cinta tidak menghapus cinta, Arya. Cinta hanya... menambah. Dan aku yakin, jika Maya bisa berbicara sekarang, dia akan mengatakan hal yang sama."
Maya merasakan air mata yang tidak bisa keluar membakar matanya. Karena Sari benar. Jika Maya bisa berbicara, jika Maya bisa memilih, dia akan mengatakan hal yang sama. Dia akan memberitahu Arya bahwa dia boleh bahagia, bahwa dia boleh mencintai lagi, bahwa dia tidak perlu terjebak dalam rasa bersalah dan kesetiaan yang merusak.
Tapi mengetahui apa yang benar secara moral dan merasakan apa yang benar secara perasaan adalah dua hal yang benar-benar berbeda.
Dan Maya tidak tahu apakah hatinya cukup kuat untuk melepaskan satu-satunya cinta yang masih dia miliki, meskipun dia tahu bahwa itulah hal yang terbaik untuk semua orang.