Hari Kamis membawa aroma yang berbeda ke ruangan Maya—aroma masakan rumah yang hangat dan akrab, berbeda dari kemandulan antiseptik yang biasa memenuhi udara. Maya mengenali aroma itu sebelum dia mendengar suara langkah kaki: sup ayam dengan jahe, rempah-rempah yang dimasak dengan sabar, makanan penghibur yang berbicara tentang perhatian dan ketelitian.
"Kamu tidak makan dengan benar," suara Sari terdengar dengan nada yang khawatir tapi tidak menghakimi. "Kapan terakhir kamu makan sesuatu yang bukan dari mesin penjual otomatis atau kantin rumah sakit?"
"Tidak penting," jawab Arya, tapi suaranya terdengar lelah, pasrah. Maya menangkap nada kehampaan yang semakin dalam di balik kata-katanya. "Aku tidak lapar."
"Kesedihan bukan alasan untuk merusak kesehatan, Arya. Maya tidak akan ingin kamu jatuh sakit karena tidak merawat diri sendiri."
Maya merasakan sesuatu yang melilit di dadanya. Sari menggunakan namanya dengan cara yang alami, tanpa kecanggungan atau ragu-ragu. Seperti dia sudah menerima Maya sebagai bagian dari kenyataan yang harus dia hadapi, bukan sebagai rintangan yang harus dia hindari.
Suara wadah plastik yang dibuka, aroma yang semakin kuat. Maya bisa membayangkan Sari mengeluarkan kotak makan dari tas, mungkin masih hangat, mungkin dibuat pagi ini sebelum dia berangkat kerja. Ada kehangatan dalam bayangan itu yang membuat Maya merasakan kerinduan akan hal-hal sederhana yang dulu dia lakukan untuk Arya.
"Ini sup ayam dengan resep ibuku," kata Sari. "Tidak istimewa, tapi selalu membantu ketika aku merasa... kewalahan."
"Kamu tidak perlu repot-repot—"
"Bukan repot. Aku ingin melakukannya."
Ada ketulusan dalam suara Sari yang membuat Maya merasakan campuran perasaan yang rumit. Di satu sisi, dia bersyukur bahwa ada seseorang yang peduli pada Arya dengan cara yang praktis seperti ini. Di sisi lain, dia merasa tergeser—dulu dialah yang memasak untuk Arya, dialah yang memastikan suaminya makan dengan baik, dialah yang mengkhawatirkan kesehatan Arya ketika dia terlalu fokus pada pekerjaan.
"Makanlah," kata Sari dengan kelembutan yang tegas, akrab bagi Maya. Nada yang biasa digunakan perawat untuk membujuk pasien yang keras kepala. "Kamu tidak akan bisa merawat Maya jika kamu tidak merawat diri sendiri terlebih dahulu."
Suara sendok yang menyentuh mangkuk, Arya yang akhirnya menyerah pada desakan Sari. Maya mendengar suara makan yang pelan, enggan pada awalnya, kemudian lebih teratur. Ada sesuatu yang melegakan dalam mendengar Arya akhirnya mau makan dengan benar.
"Enak," kata Arya setelah beberapa menit. "Terima kasih."
"Ibuku selalu bilang, makanan adalah bahasa cinta yang paling universal. Tidak peduli seberapa rumitnya situasinya, sup hangat tetap bisa memberikan kenyamanan."
Maya ingat filosofi yang sama yang dulu dia pegang. Dulu dia sering memasak untuk Arya ketika suaminya sedang stres atau lelah, percaya pada kekuatan penyembuhan makanan buatan rumah. Ada ironi yang menyakitkan dalam mendengar Sari mengungkapkan kepercayaan yang sama.
"Kamu sangat baik padaku," kata Arya dengan suara yang lembut. "Aku tidak mengerti kenapa."
"Karena kamu orang baik yang sedang dalam situasi sulit. Kamu tidak seharusnya melewati ini sendirian."
"Tapi aku bukan tanggung jawabmu. Kamu punya hidup sendiri, masalah sendiri—"
"Arya." Suara Sari menjadi lebih tegas. "Ketika aku memutuskan untuk... untuk peduli padamu, aku tahu apa yang aku hadapi. Aku tahu bahwa ini rumit, aku tahu bahwa kamu punya sejarah yang berat, aku tahu bahwa tidak ada jaminan untuk masa depan. Tapi aku memilih untuk tetap di sini karena aku... karena aku peduli."
Keheningan yang sarat dengan perasaan yang tak terucap. Maya bisa merasakan ketegangan di udara, chemistry yang sudah tidak bisa disangkal lagi antara Arya dan Sari. Ada arus emosi yang mengalir di antara mereka, sesuatu yang kuat dan tak terelakkan.
"Aku tidak ingin kamu terluka," bisik Arya. "Aku tidak ingin kamu berharap pada sesuatu yang mungkin tidak bisa aku berikan."
"Aku tidak berharap apa-apa, Arya. Aku hanya... ada. Untuk saat ini, itu sudah cukup."
Maya merasakan kekaguman yang enggan terhadap Sari. Wanita ini memiliki kematangan emosional yang langka—kemampuan untuk mencintai tanpa syarat, untuk memberikan tanpa harapan yang langsung. Sifat-sifat yang membuat Maya semakin sulit untuk membencinya.
"Kamu terlalu baik untuk situasi seperti ini," kata Arya.
"Tidak ada yang terlalu baik untuk cinta, Arya. Bahkan cinta yang rumit."
Cinta. Kata itu diucapkan secara tegas untuk pertama kalinya antara mereka, dan Maya merasakan dampaknya seperti pukulan fisik. Selama ini mereka menari-nari di sekitar perasaan mereka dengan kiasan dan sindiran. Sekarang Sari sudah mengakui dengan terang-terangan: ini adalah cinta.
"Sari..."
"Aku tahu kamu tidak siap untuk mendengar ini. Aku tahu kamu masih bergulat dengan perasaan bersalah dan kesetiaan terhadap Maya. Tapi aku perlu kamu tahu bahwa apa yang aku rasakan untuk kamu adalah nyata. Dan aku akan menunggu—selama yang kamu butuhkan—sampai kamu bisa memutuskan apa yang kamu inginkan."
Maya mendengar suara kursi yang bergeser, langkah kaki yang mendekat. Mungkin Sari berdiri, mungkin bergerak ke arah jendela atau ke arah tempat tidur Maya. Ada keberanian dalam gerakan itu, keputusan untuk mendekat bahkan dalam situasi yang tidak pasti.
"Halo, Maya," kata Sari dengan suara yang lembut. "Aku tahu kamu bisa mendengar kami. Aku tahu ini harus sangat sulit untukmu—mendengar percakapan seperti ini, merasa tidak bisa berbuat apa-apa."
Maya terkejut. Sari berbicara langsung padanya, mengakui kehadirannya dengan cara yang tidak pernah dilakukan orang lain—bahkan Arya—ketika mereka membicarakan tentang Maya di hadapannya.
"Aku ingin kamu tahu bahwa aku tidak mencoba menggantikan tempatmu. Tidak ada yang bisa melakukan itu. Cinta yang kamu dan Arya miliki adalah sesuatu yang indah dan unik, sesuatu yang akan selalu menjadi bagian dari siapa dia."
Maya merasakan detak jantungnya berubah, monitor yang mencatat tanggapan perasaannya terhadap kata-kata Sari. Ada pengakuan dalam pernyataan itu, rasa hormat yang tulus terhadap hubungan yang sudah ada sebelum Sari datang.
"Tapi aku juga ingin kamu tahu bahwa aku akan merawat dia. Aku akan memastikan dia makan dengan benar, tidur yang cukup, tidak terlalu keras pada diri sendiri. Aku akan mencintainya dengan cara yang berbeda dari caramu, tapi tidak kurang tulus."
Ada kekuatan dan kerentanan sekaligus dalam suara Sari. Dia berbicara pada Maya seperti kepada sesama, seperti kepada wanita yang bisa memahami kerumitan dari situasi mereka.
"Dan jika suatu hari kamu bisa pulih, jika suatu hari kamu bisa kembali padanya, aku akan mundur. Tanpa drama, tanpa dendam. Karena aku tahu bahwa dia mencintaimu terlebih dahulu, dan cinta seperti itu... cinta seperti itu seharusnya dihormati."
Maya merasakan air mata yang tidak bisa keluar membakar matanya. Sari tidak hanya baik—dia luar biasa. Dia memiliki kemampuan untuk mencintai yang tak mementingkan diri sendiri, kemampuan untuk menerima ketidakpastian dengan anggun, kekuatan untuk menghadapi situasi yang kebanyakan wanita tidak akan bisa tangani.
"Terima kasih," bisik Arya dari arah kursinya. "Terima kasih sudah... sudah berbicara padanya. Tidak banyak orang yang mengerti bahwa dia masih... ada."
"Dia ada," kata Sari dengan keyakinan. "Aku bisa merasakannya. Kehadirannya, cintanya untukmu. Itu sebabnya aku tahu aku harus sabar. Itu sebabnya aku tahu ini tidak sederhana."
Maya merasakan sesuatu yang bergeser di dalam dirinya. Selama ini dia melihat Sari sebagai ancaman, sebagai saingan, sebagai seseorang yang mencoba mengambil apa yang menjadi miliknya. Tapi sekarang dia mulai melihat Sari sebagai apa yang dia sebenarnya: seorang wanita baik yang jatuh cinta pada pria yang baik dalam situasi yang tragis.
"Aku harus pergi," kata Sari. "Jaga sore hari ini. Tapi aku akan kembali besok. Dan Arya—habiskan sup-nya. Semua."
"Iya, Bu Perawat," jawab Arya dengan sedikit humor yang pertama kali Maya dengar dalam berminggu-minggu. Ada kehangatan dalam lelucon kecil itu yang membuat Maya merasakan sekilas dari Arya yang dulu—pria yang bisa tertawa meski dalam kesulitan.
Suara langkah kaki yang mendekat ke tempat tidur Maya, kemudian sensasi yang halus—mungkin Sari menyentuh tangannya.
"Sampai jumpa, Maya. Jaga diri."
Setelah Sari pergi, Arya duduk dalam keheningan yang panjang. Maya bisa mendengar suara sup yang masih dimakan, lebih lambat sekarang, lebih merenung. Ada sesuatu yang meditatif dalam cara dia makan, seperti dia merenungkan setiap suapan.
"Dia luar biasa, ya?" kata Arya akhirnya, berbicara pada Maya dengan cara yang sudah lama tidak dia lakukan—tidak sebagai monolog satu arah, tapi sebagai percakapan yang nyata, seolah mengharapkan tanggapan.
Maya ingin menjawab: Ya, dia luar biasa. Dan kamu beruntung menemukannya. Dan aku... aku mulai berpikir bahwa mungkin aku juga beruntung bahwa dialah yang menemukan kamu.
Tapi tentu saja dia tidak bisa mengatakan itu. Yang bisa dia lakukan hanya mendengar Arya menghabiskan sup buatan Sari, mendengar suaminya makan dengan nafsu makan yang pertama kali dia dengar dalam berbulan-bulan, dan merasakan sesuatu yang rumit tapi tidak sepenuhnya tidak menyenangkan—campuran dari patah hati dan lega, dari kehilangan dan rasa syukur.
Karena untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, Maya tahu bahwa Arya akan baik-baik saja.
Bahkan tanpa dia.