Kain Putih
SEMENJAK langit dilumati gelap, Cika belum keluar kamar. Tadi sore, ia menelepon Ray dan meminta saudara sepupunya itu untuk datang. Namun Ray belum juga muncul, padahal janjinya paling lambat pukul sembilan belas. Malah katanya, Ray bersedia menginap di pondokan tempat Cika bernaung kini. Ada beberapa kamar kosong. Bahkan, Angga pun siap mengajak Ray tidur di kamarnya.
Gawainya yang tergeletak di samping bantal, berdering. Diambilnya. Suara Ray terdengar nyaring di telinganya. Cika bernapas lega. Ia snagat berharap, Ray sudah berada di pintu gerbang pondokan. Namun, bibirnya yang hendak tersenyum mendadak kecut ketika Ray bilang jika ia tak jadi menemuinya ke pondokan. Apalagi menginap. Rencana semula batal. Ray sibuk di counter HP, banyak gawai yang harus diperbaiki.
“Ng