Lelaki Penabur Sukma
“APA kabar, Ray?” tanya suara dalam telepon dari nomor tak dikenal. Ray tak kenal nomor asing itu. Namun Ray tahu betul suara penelepon yang tiada lain Wak Dulah.
“Baik, Bah. Bagaimana juga… kabar Abah?” ucap Ray dan balik bertanya. Ia tengah berada di kampus. Menunggu jadwal mata kuliah berikutnya. Hari begitu panas. Mentari seperti tepat di atas ubun-ubun. Ray melangkah menuju bangku yang tak jauh dari pohon palem. Di situ, lumayan rindang terlebih ada dua pohon yang meski tak begitu tinggi tapi rimbun. Cukup nyaman untuk berteduh.
“Abah juga dalam keadaan baik, Ray. Kamu… lagi di kampus, ya?”
Ray menelan ludah. Wak Dulah kerap tahu keberadaan Ray bahkan sampai pernah tahu Ray tengah melakukan kegiatan apa. Seperti tengah makan, baru bangun tidur, lagi mandi, kul