bukan Didi namanya kalau hanya puas sekali putaran, Dwi yang tampak sudah lemas masih berbaring di sebelah Didi tanpa sehelai benang di tubuhnya. begitu juga dengan Didi yang saat ini masih belum menggunakan pakaian. Dwi tampak memejamkan matanya sambil mengatur nafas nya yang masih terengah-engah. melihat tubuh Dwi yang masih terekspos cahaya Lampu yang masih menyala di kamar itu, muncullah ide m***m Didi kembali saat melihat bukit kembar yang masih tegak di d**a Dwi. kali ini Didi tanpa minta ijin dari Dwi, ia langsung melahap bukit kembar yang berdiri tegak di d**a Dwi. merasa seperti ada yang menghisap bukit kembarnya, Dwi membuka matanya dan melihat sosok kepala pria yang sudah ia kenal. siapa lagi kalau bukan Didi yang sedang bermain di bukit kembar Dwi.
"ahhh mas... geli mas... ahhh " erang Dwi yang masih mengatur nafasnya.
"kamu mau apa lagi mas" ucap Dwi.
"aku belum puas sayang, sekali lagi yah" ucap Didi memohon sambil menyeringai menatap dari bawah bukit kembar.
"tapi mas aku masih ahhhh..." belum Dwi menyelesaikan ucapakan Didi tampak tidak peduli dan melanjutkan permainannya. kali ini tubuh Dwi sudah menggeliat merasakan gairah yang ada di tubuhnya. menurut Dwi saat ini ia juga masih menginginkan sentuhan manja Didi. tangan Dwi mulai meremas rambut Didi seakan memberi isyarat untuk lebih dalam lagi. Didi yang mendapat kan respon dari Dwi melancarkan tangannya menuju sumur yang ada di bawah sana. mulut Didi masih bermain di bukit kembar itu, ia seperti Bayi yang kehausan melihat bukit kembar itu. tangannya pun tak henti-hentinya bermain di dalam sumur. 3 jarinya kini mulai masuk ke dalam sumur itu.
"ahhh mas..." erang Dwi.
kini kedua lutut Didi bertompang di sisi kepala Dwi dingga Dwi kini di hadapkan dengan kejantanan Didi yang bergantung di atas wajahnya. kepala Didi berada di posisi antara kedua paha mulus Dwi.
dan kini Didi siap bermain ke sumur dengan penjelajahan litahnya.
tepi tepi sumur pun di jilat bersih oleh lidah nya. entah kenapa sumur itu juga menjadi candu Didi untuk mencium dan menjilat ya. karena mencium aroma bunga mawar yang sudah menjadi ciri khas sumur itu.
Dwi yang masih terpana melihat benda yang bergantung di atas wajahnya tampak tak kuasa melihatnya.
benda itu pun di raihnya dengan jeri lentiknya dan kini Dwi pun ikut memainkan benda yang tergantung di atas wajahnya dengan tangannya lalu menarik pelan benda tersebut untuk di masukkan nya ke mulut nya. Dwi seakan sudah mulai lihat mengulum dan menjilati kejantanan Didi.
" ahhhh...."kali ini didi yang merasakan tubuhnya menggelinjang hebat karena perlakuan Didi kepada junior nya.
merasakan hal itu Didi benar-benar tidak bisa menahan nafsu hebatnya saat ini. Didi membalikkan badannya dan bertumpu dengan kedua lututnya diantara wajah Dwi. dan menghadapkan junior nya ke arah mulut dwi. dengan lahat Dwi mendorong kepalanya untuk memasukkan junior Didi ke mulutnya. semakin cepat Dwi mendorong kepalanya maju mundur, Didi merasakan hampir sampai pada pelepasannya. kali ini Didi langsung ambil alih permainan panasnya, Didi mengarahkan bor nya ke sumur yang sudah menjadi candu nya saat ini. tanpa mengulur waktu didi pun membor kembali sumur itu dengan kecepatan penuh hingga menanamkan benih nya di dalam sumur Dwi dan menjatuhkan badannya diatas badan Dwi.
***
selama berhubungan dengan Didi, didi tidak pernah pakai pengaman dan dwi pun tidak meminum pil anti hamil. ketukan tiba-tiba muncul di benak Dwi saat ia sedang membersihkan dirinya di pagi hari.
"bagaimana kalau aku hamil" gumam dwi dalam hati.
"aggghhhh" prustasi Dwi sambil menjambak rambutnya sendiri di bawah shower.
"tapi apa benar mas Didi akan serius menikah dengan ku" gumam Dwi kembaki dalam hati.
Dwi pun menghembuskan nafas kasarnya.
lalu keluar dari kamar mandi mengunakan handu yang menutupi area tertentu saja. Didi tampak masih tidur dengan pulas dengan menutupi badannya dengan selimut.
Dwi pun segera berganti pakaian dan menuju dapur untuk menyiapkan sarapan untuk ia dan Didi.
kali ini Dwi akan bikin nasi goreng dan masaka buat bekal yang akan di bawa nya ke kantor.
untuk bekal nya kali ini Dwi akan masak ayam goreng Kalasan, cah kangkung dan sambel terasi. berbuhung di apartement tidak ada ulekan jadi ia menghaluskan sambelnya pake coper yang sudah ia beli tadi malam. karena Didi ngak menginginkan nya buat ngulek sambel dengan tangannya sendiri. alasan Didi mah aneh, takut kalau kalau tangan Dwi terluka nantinya. sebenarnya Dwi sudah terbiasa dengan ulekan di rumah saat bantu ibu nya masak. kali ini ia harus nurut sama Didi yang sudah mulai overprotektif. setelah selesai menyiapkan sarapannya, kini Dwi menuju ke kamar untu membangunkan Didi. setiba di kamar Dwi tidak mendapati didi di ranjang empuknya. namun terdengar suara percikan air dari kamar mandi.
"mas, kamu mandi mas" teriak Dwi untuk memastikan.
"iya sayang, bentar lagi kelar kok" sahut Didi.
Dwi pun menyiapkan baju yang akan di gunakan oleh Didi. dan dwi juga segera mengganti baju nya dengan pakaian kerja nya. hari ini mereka akan me kantor bersama.
setelah selesai berpaian dan make up sederhana, Dwi pun ikut membantu didi dalam merapaikan dasi nya.
"udah rapi mas, sekarang kita sarapan dulu yuk" ucap Dwi sambil menggandeng lengan Didi.
"kamu udah masak sayang?" ucap didi yang menatap senang dengan sikap Dwi.
"udah dong mas" ucap Dwi sambil berjalan menuju meja makan.
ada kopi dan nasi goreng dengan telur ceplok setengah matang. Dwi sangat tau kalau Didi sangat menyukai kopi buatannya.
"wah... buatin kopi buat aku sayang" ucap Didi yang tak percaya melihat meja makan nya saat ini.
"ia mas, kan mas sendiri yang bilang kalau mas suka sama kopi buatan aku, makanya aku buatin" ucap Dwi.
"itu yang di dalam paperbag apa" kali ini mata Didi tertuju ke arah paperbag yang di atas meja makan itu.
"ini bekal aku mas, jadi mulai sekarang aku akan bawa bekal buat makan siang mas, jadi aku juga bisa lebih hemat juga dalam keuangan mas" ucap Dwi.
"buat mas ngak di buatin bekal juga" tanya Didi.
"mas mau juga makan bekal kayak aku" ucap dwi.
"mau dong, apalagi makanan bisa bareng kamu" ucao didi yang menatap wajah dwi dari dekat.
seketika wajah dwi merona merah karena malu.
"kamu masih malu-malu aja sama mas ya yank" ucap didi kali ini Didi udah Pasih banget panggil dwi dengan panggilan sayang. "sama suami sendiri malu-malu" ucao Didi.
"mas...kamu beneran serius sama aku mas" ucap Dwi pelan.
"maksud kamu apa sayang? kalau mas ngak serius mas ngak mungkin lakukan semua hal udah jauh kita lakukan sayang" terang Didi. "kenapa kamu tanya tiba-tiba seperti itu. kamu ngak percaya kalau mas serius" ucap Didi.
"bukan gitu mas, kita udah jauh melangkah, aku takut kalau kamu hanya mau tubuhku saja mas" ucap Dwi.
didi meraih wajah Dwi. dengan kedua tangannya. "sayang, mungkin mas belum bisa nyatakan cinta sama kamu, tapi mas sayang sama kamu, mas janji akan belajar mencintai kamu seutuhnya mulai saat ini. mas juga janji mas akan selalu ada buat kamu yah" ucap Didi dengan lembut dan Dwi hanya mengangguk kan kepalanya. Didi mengecup bibir mungil Dwi dan puncak kepala Dwi.
***
kali ini Didi sengaja tidak menggunakan supir pribadi nya untuk mengantarkannya ke kantor. Didi ingin berduaan saja dengan Dwi di perjalanan menuju kantor.
"sayang hari ini kamu pergi sama mika ya. kamu pergi belaja kebutuhan kamu dan beli juga beberapa perhiasan dan cincin buat nikah kita juga, oh iya mika akan tunjukkan juga gedung untuk resepsi kita dan mencoba makanan nya juga sayang, kalu ada yang ngak kamu suka, kamu bilang ke mika aja buat di ganti ya" ucap didi panjang lebar.
"mas,tapi hari ini aku ada metting dengan buk siska mas" ucap Dwi. "kerjaan kamu udah di handle Dito kata Siska, jadi mulai hari ini kamu fokus sama persiapan pernikahan kita aja sayang, mas udah minta siska juga buat atur cuti buat kamu selama 1minggu stelah kita nikah, mas mau ajak kamu honeymoon biar kamu cepat kasih mas anak" ucap Didi menggoda.
"emangnya mau honeymoon kemana mas, jangan jauh-jauh deh, kasin anak-anak di tinggal jauh-jauh mas" ucap Dwi. entah kenapa Dwi kepikiran anak-anak didi saat ini. padahal ia belum pernah bertemu dengan anak-anak Didi.
"oh iya ngomong-ngomong soal anak-anak, sore ini mas janji sama anak-anak buat kenalin kamu ke mereka" ucap Didi.
"oh iy mas, kalau gitu nanti aku sekalian beli kan mereka hadiah ya mas" ucap Dwi antusias ingin bertemu anak-anak Didi yang akan jadi anak-anakny juga dalam beberapa hari lagi.
"iya sayang boleh, tanya mika aja mereka suka nya apa ya, mika lebih tau dari mas, karena mika dan Theo yang sering bawa anak-anak jalan" ucap Didi.
"Theo siapa mas?" tanya dwi.
"Theo itu tunangan mika, kita sama-sama satu sekolah dulu waktu SMA. mereka pacaran sejak SMA, mungkin abis kita nikah mereka juga akan menikah, Theo itu teman basket mas dulu sewaktu SMA" ucap Didi. Dwi pun hanya mengangguk.
sesampainya di loby , Didi turun dan membukakan pintu untuk Dwi. tak lupa paperbag berisi bekal makan siangnya dengan didi pun di bawa Dwi.
sambutan dari beberapa karyawan kini menyambutmereka dengan ramah. kini semua karyawan sudah mengetahui rencana pernikahan keduanya. sehingga semua karyawan sangat menghormati Dwi sebagai calon istri CEO.