setelah tiba di loby Didi pun segera keluar dari lift berjalan menuju loby, Didi pun tidak menyangka melihat penampilan Raisya putri Atmaja atau yang biasa di panggil Icha yang tidak lain adalah mantan istri Didi, tidak seperti biasanya. penampilannya justru kini seperti orang tidak terurus. badan kurus, rambut pendek dan memakai baju lengan panjang dengan rok panjang yang agak kusam. Didi terkejut melihat mantan istrinya saat ini. sudah 5 Tahun mereka berpisah dan tidak ketemu.
" Ada apa ini?" tanya Didi dengan suara Tegas.
semua mata beralih memandang Didi dari arah lift. sambil berjalan menuju reseptionist di lobby kantornya tak lepas mata Didi memandang ke arah Icha dengan tatapan ingin membunuh.
"begini pak, ibu ini memaksa ingin ketemu bapak, kita udah cegah namun ini memaksa untuk masuk pak" ucap salah satu petugas keamanan di lobby.
Didi memang berpesan kepada semua karyawannya kalau ia tidak mau menerima tamu yang ada hubungannya dengan mantan istri nya itu.
"mas, aku mau ketemu anak-anak ku mas. aku mohon mas, ijinkan aku ketemu dengan anak-anak kita. aku merindukannya mas" lirih Icha dengan nada memohon.
"anak-anak kita? setelah apa yang sudah kamu perbuat dulu, kamu masih bilang anak-anak kita? " Didi sambil melerai tangan nya yang di peluk Icha.
"tapi mereka memang anak aku mas, mereka lahir dari rahim aku mas" lirih Icha dengan air matanya yang tidak lagi mampu di bendung nya.
" mereka sudah terbiasa tanpa kamu, dan saat ini juga mereka sudah terbiasa dengan calon ibu baru nya" ucap Didi tanpa memikir kedepannya apa yang ia ucapkan.
"sekarang sebaiknya kamu pergi dari sini dan jangan pernah coba-coba dekati anak saya lagi" ucap Didi sambil memberi isyarat kepada petuga s keamanan untuk mengusir Icha dari kantornya.
"apa, ibu baru? aku gak akan terima kalau posisi ku di gantikan gitu aja sama orang lain mas" ucap Icha sambil menahan badannya yang berusaha di dorong oleh petugas keamanan.
dari arah belakang Didi , Dwi melihat ada keributan yang membuat orang-orang disana menatap ke arah wanita itu. Dwi pun mencoba menghampiri kerumunan. dan ia tiba di belakang kanan Didi. tanoa ia ketahui siapa lelaki yang sedang ribut dengan wanita itu.
"aku akan menikah 2 Minggu lagi, aku mohon jangan pernah mengganggu kehidupan aku dan anak-anakku lagi" ucap tegas Didi dan langsung memegang tangan wanita sebelah kanannya itu untuk mengajaknya ke dalam lift.
Dwi pun gak bisa berbicara apa-apa lagi dengan apa yang di lakukan oleh lelaki ini yang tiba-tiba saja menarik tangannya untuk masuk ke arah lift. mika yang berada di belakang nya pun terkejut dengan tindakan yang di lakukan oleh atasan sekaligus sahabatnya itu.
sesampai di lift Didi menekan tombol lantai 10 dimana ruangan Didi memang terletak di lantai 10.
Didi menghela nafas dalam " sorry mik, gue terpaksa ngelibati Lo dalam masalah ini" ucap Didi yang belum juga menoleh kebelakang. Dwi pun seperti tidak bisa bernapas mendengar ucapan laki-laki itu. "nama saya Dwi , bukan mik" ucap Dwi dengan rasa takutnya.
mendengan suara wanita yang berbeda dari suara sahabat nya Didi segerah menoleh kebelakang.
ia tak menyangka lagi- lagi harus bertemu dengan wanita yang sudah menghina nya kemarin.
"HAh.... " jerit Didi bersamaan dengan Dwi.
"mau ngapain Lo lagi disini? kurang uang yang di kasih kmarin, atau Lo sengaja mau ngerampok gue? ucap Didi dengam tatapan emosi.
"heh, Lo yang narik tangan gue duluan. dan siapa yang mau ngerampok Lo? " ucap Dwi dengan mengangkat tangan di pinggangnya.
"jadi Lo mau coba jadi penghibur gue, seperti wanita tadi gitu? berapa yang yang Lo butuhkan buat jadi penghibur gue? ucap Didi dengan mengejek
PLAKKK...
tamparan keras melayang ke pipi Didi saat itu juga.
"tolong jaga ucapan Lo, gue bukan wanita rendahan seperti yang Lo ucapkan" ucap Dwi disertai air mata yang sudah lolos dari mata indahnya.
lift sampai di lantai 10. Didi pun segera keluar dari lift tersebut sambil memegang pipi nya yang masih terasa perih akibat tamparan yang diberikan Dwi. Dwi segera menutup pintu lift dan menuju lobby untuk segera pergi dari gedung itu.perasaan nya hancur ketika di katakan wanita penghibur oleh orang asing. karena selama ini tidak ada laki-laki yang pernah menghinanya seperti itu.
***
stelah masuk ke ruangannya Didi seperti orang prustasi. setelah menghindari Icha ia justru terjebak sama wanita yang sudah menghina nya kemarin.
"agghhhh..." teriak Didi sambil mengusap wajahnya dengan kesal.
tok...tok...tok.. suara ketukan pintu.
"masuk" ucap Didi
"Lo gak papa di?" tanya mika sambil berjalan menuju depan meja didi.
"gue gak papa kok" ucap Didi.
"cewek tadi calon istri Lo? kok Lo gak pernah cerita sih sama gue?" ucap mika dengan senyum datar nya.
"tapi bukannya dia cewek yang kemarin itu ya, aaaahhh iya benar, jadi dia calon istri Lo, duh maaf di gue gak tau di" ucap mika dengan rasa bersalah nya.
Didi yang terdiam sambil berpikir dengan kata-kata yang sudah menghina wanita itu. "kenapa gue jadi mikirin dia?" gumam Didi dalam hati.
"di..di...pak Didi..." panggil mika yang menyadarkan nya dalam lamunannya.
"eh iya.. kenapa? Lo tadi ngomong apa?"
ucap Didi yang wajah datarnya.
"gue tanya kenapa Lo gak cerita ke gue kalau cewek kemarin itu calon istri Lo" ucap mika dengan tatapan menyelidik.
"oh itu, gue juga berencana mau kasih tau Lo, tp waktunya belum ada" ucap Didi sambil tersenyum.
"gak...gak... mika sebaiknya gak usah tau apa yang udah gue katakan sama cewek tadi. gue harus kejar cewek itu, karena saat ini cuma dia yang bisa bantu gue dari Icha dan papa" gumam Didi dalam hati.
beranjak dari tempat duduknya , Didi segera mengambil kunci mobil meninggalkan ruangan nya dengan tergesa-gesa.
" eh...mau kemana Lo?" ucap mika.
"gue mau makan siang di luar sama calon bini gue" ucap Didi sambi berlari keluar.
"dasar ABG Tua. masih aja kyk anak ABG yang dimabuk cinta" gumam mika sambil tersenyum melihat sahabatnya.
Didi mencoba mencari keberadaan wanita itu namun ia tidak melihat keberadaan wanita itu di sekitar kantor.
"kemana perginya dia?" gumam Didi sambil meliha kekanan dan kiri sepanjang jalan.
DRTtttt..
ponsel Didi pun berdering. terlihat nomor telphone sekolah rian.
"hallo selamat siang pak ? saya atika guru nya Rian pak." ucap atika dari seberang sana.
"oh iya Bu, ada apa Bu, apa rian bikin kesalahan buk?" ucap Didi penasaran.
"bukan pak, ini pak, Rian tiba-tiba mimisan dan badannya panas tinggi pak. saya saat ini di jalan membawa rian ke rumah sakit pak" ucap atika.
"apa, baik Bu saya segera kesana" ucap Didi dengan khawatir .
tanpa berpikir panjang Didi langsung melajukan mobilnya menuju ruma sakit.
***
Di tempat lain Dwi yang sedang dalam perjalanan pulang mendapatkan telphone dari adiknya Rio.
Drrtttt....
"assalamualaikum dek?" ucap Dwi.
"walaikumsalam kak, kak ibu jatuh di kamar kamar mandi kak. aku di jalan bawa ibu ke rumah sakit dekat rumah kak, kakak langsung kesana aja ya kak" ucap Rio khawatir.
"apa. oh iya. kakak segera kesana" ucap Dwi dan mematikan telepon nya.
sesampai di rumah sakita Dwi tak kuasa melihat Aminah yang terbaring tak sadarkan diri di UGD. dokter pun selesai memeriksa keadaan Aminah.
"dok, bagaimana keadaan ibu saya?" tanya Dwi.
"saat ini kami masih memantau keadaan ibu anda, karena setelah saya lihat hasil beberapa tes saya bisa menyimpulkan kalau ibu anda mengalami penymbatan pembuluh darah di jantung. dan kami harus melakukan tindakan operasi untuk memasang cincin di jantung ibu Aminah"
terang dokter Farhan yang menangani Aminah.
"apa dok, harus operasi?" tanya Dwi Kembali.
"iya mba, harus di operasi secepatnya, melihat keadaan Bu Aminah saat ini kita tidak bisa menund operasi nya lagi, dan mba bisa hubungi bagian administrasi untuk menyetujui operasi ini" ucap dokter fahran.
"baik dokter. terima kasih dok" ucap Dwi sambil membungung sedikit.
"kak, uang dari mana kita buat operasi ibu kak?" tanya Rio dengan sedih.
"kamu gak perlu khawatir, kakak akan Carikan uang buay kesembuhan ibu. kamu jaga ibu dulu kakak mau ke bagian administrasi ya" ucap Dwi sambil menepuk Pelan bahu Rio.
"iya kak." jawab Rio sambil mengangguk pelan.
"mba, saya mau tanya administrasi atas nama Bu Aminah" tanya Dwi ke bagian administrasi.
"oh iya mba sebentar mba, untuk biaya ada disini rinciannya mba. sambil mengarahkan kertas administrasi ke arah Dwi" ucap perawat bagian administrasi itu.
"135.000.000 semua nya mba?" tanya Dwi dengan kaget.
"iya mba, karena Bu Aminah harus di operasi mba" terang perawat itu kembali.
"mba, saya sekarang ada 5jt mba. apa boleh saya DP 5jt dulu mba" ucap Dwi.
"boleh Bu, baik Bu, saya buatkan kwitansi nya dulu ya Bu. "
uang sisa beli handphone nya kmarin masih ada 3jt, di tambah tabungan nya dari hasil kerja sampingannya menjadi pengajar private masih ada 2,5jt. 500rb nya untuk uang saku nya dan Rio.
"ini kwitansi nya mba"
"oh iya mba. makasih mba" ucap Dwi sambil meraih kwitansi itu.
***
Didi yang baru sampai di IGD masih mencari keberadaan putra nya.
"pak Didi ?" sapa Atika
"iya buk, dimana anak saya buk" tanya Didi
"disana pak, sedang tidur pak, kata dokter Rian cuma demam aja pak.tapi Rian harus di rawat 1-2hari pak agar demamnya turun dulu pak" terang Atika.
"oh iya gak papa buk, saya ucapkan terima kasih banyak buk udah mau bawa anak saya ke sini buk" ucap Didi.
"sudah kewajiban saya pak melihat muridnya sakit pasti saya langsung akan membawanya ke rumah sakit pak, kalau gitu saya permisi dulu ya pak" ucap atika sambil berpamitan.
"sekali lagi saya ucapkan terimakasih buk" ucap Didi.
***
malam pun tiba, Rian yang sudah terlelap di temani mbok ati di ruangannya.
"den. sebaiknya den Didi makan malam dulu pak, biar mbok yang jagain den Rian disini" ucap mbok ati.
"ia mbok. kalau ada apa-apa segera hubungi saya ya mbok" ucap Didi yang masih khawatir terhadap anaknya.
di tempat lain Dwi yang masih menunggu ibu nya di depan ruang operasi masih berpikir bagaimana membayar 130jt lagi kepada rumah sakit.
"dek, kakak mau beli makanan dulu ya. kamu belum makan kan." ucap Dwi.
"ia kak. operasi ibu masih lama juga seesainya." ucap Rio.
untungnya kantin masih buka.
dan tanpa sengaja Didi dan Dwi Kemabli bertemu di kantin itu.
"kamu lagi?" ucap Dwi sambil meninggalkan kantin. karena Dwi gak mau ketemu sama orang yang udang menghina nya.
Didi gak bisa berkata lagi. sejak kejadian tadi siang memang membuat nya merasa bersalah dengan apa yang ia katakan.
"hei tunggu" ucap Didi sambil meraih tangan Dwi.
"lepasi tangan saya" ucap Dwi dengan tatapan musuh.
"soal tadi siang, saya minta maaf sama kamu? saya benar2 emosi dengan kejadian tadi siang, gak seharusnya saya ngomong kasar dengan kamu tadi. sekali lagi saya minta maaf" ucap Didi dengan memohon.
Dwi melihat tatapan lelaki kepadanya sangat tulus.
"sepertinya ia memang bersungguh-sungguh meminta maaf, mungkin tadi siang ia punya masalah pribadi " gumam Dwi dalam hati.
Dwi menghela nafas panjang. "aku udah maafi kamu kok, aku harap kamu gak lagi seperti itu ke orang lain, karena wanita itu merasa terhina kalau di katanya kotor seperti tadi" ungkap Dwi dengan nasehat.
"iya , aku sadar. apalagi aku juga punya anak perempuan. gak kebayang kalau anak aku di hina seperti itu juga" ucap Didi dengan senyum datarnya.
"oh iya kenalkan saya Didi" ucap Didi sambil menjulurkan tangannya untuk di jabat.
"nama saya Dwi" Dwi pun membalas jabatan tangan nya.
"kalau gitu saya ucapkan terima kasih ya karena kamu udah maafin saya" ungkap Didi.
" kamu mau makan juga? kayaknya cuma kantin ini yang masih buka" ucap Didi sambil menatap sekitar.
"iya aku mau makan, sekalian beli makan buat adek aku juga" ucap Dwi.
"kebetulan aku juga mau makan, kalau gitu aku aja yang traktir kamu ya. samb menebus rasa bersalah aku ke kamu, bolehkan?" ucap Didi sambil menatap memohon.
"hmmm.... ya udah boleh" jawab Dwi dengan senyum manis nya.
"cewek ini kalau senyum cantik juga" gumam Didi dalm hati.
setelah selesai makan, Didi dan Dwi juga beranjak dari tempat duduknya berjalan menuju ruang rawat inap dan ruang operasi.
Dwi terdiam sambil memikir mencari uang 130jt itu.
"wi.. ?" panggil Didi sambil menyentuh bahu nya.
"eh iya .. kenapa ?" seketika lamunannya buyar.
kamu lagi mikirin apa?" tanya Didi dengan tatapan menyelidik.
"gak papa kok, aku gak mikirin apa-apa? ucap Dwi.
ba-tiba ucapak Didi terhenti.
"ya elah aku udh bilang uku udah maafin kamu kok" potong Dwi.
"tapi semua orang tau soal aku akan menikah 2minggu lagi?" terang Didi.
"maksud kamu? bukannya kamu udah punya anak?" tanya Dwi.
"ceritanya panjang. dan maaf sekali lagi kalau semua orang di kantor tadi menggap kamu adalah pacar aku" ungkap Didi sambil menundukkan kepalanya
"apa? pacar?" kaget Dwi.