"gimana bisa mereka mengira aku ini pacar kamu? terus cewek yang ribut sama kamu itu siapa? dia pacar kamu?" kata Dwi dengan pertanyaan bertubi-tubi.
"dia mantan istri aku, aku udah bercerai sama dia sejak 5tahun yang lalu karena dia berselingkuh di rumah aku". "dia berusaha untuk mendekatkan diri sama anak-anak tetapi selalu aku cegah, karena aku gak mau anak-anak ku akan terpengaruh olehnya". terang Didi.
"dan sekarang aku juga di posisi yang gak aman buat mempertahankan perusahaan, papa meminta aku untuk menikah dalam 2 bulan ini, kalau tidak perusahaan semuanya akan jatuh ketangan sepupu aku Bagas" ungkap Didi.
"nah, urusan sama aku apa? kenapa aku yang di bawa-bawa?" tanya Dwi yang masih enggan paham
"tadi aku mengatakan bahwa anak-anak sudah terbiasa dengan calon ibu baru nya ke pada Icha. agar dia berhenti mendekati anak-anak lagi. lalu aku mengira kalau tangan yang aku tarik itu adalah tangan mika sekretaris aku. ternyata tangan kamu. sejak itu orang-orang mengira kamu lah calon istri aku" terang Didi
Dwi pun menepuh dahi nya sendiri.
"mau taruh dimana muka gue? padahal besok hari pertama gue kerja" gumam Dwi pelan namun terdengar oleh Didi.
"hah? apa? kamu bekerja disana? tanya Didi memastikan dengan tatapan menyelidik.
Dwi langsung mengarahkan pandangan nya ke Didi. dan menghela nafas dalam. "iya , aku baru keterima bekerja disana. besok hari pertama aku bekerja disana. aku gak bisa bayangkan gimana orang-orang akan ngegosip Tetang aku di hari pertama aku bekerja. pasti aku langsung di pecat deh,padahal aku harus cari uang demi bayang pengobatan ibu sekarang" ungkap Dwi dengan menghela nafas dalam.
"biaya pengobatan ibu?" tanya Didi
" iya, ibu aku sekrang lagi operasi jantung, dan biaya nya sangat mahal sekali. dan aku masih kasih DP 5jt tadi" ungkap Dwi dengan rasa pasrah.
Dwi dan didi terdiam sejenak mereka sama-sama memikirkan bagaimana kedepannya harus mereka hadapi. dan Didi mulai buka suara. "oh iya, aku bisa jamin kamu di perusahaan itu untuk tidak di pecat, dan aku jamin semua orang di sana tidak akan ngegosip tentang kamu dan juga aku bakal biayain semua pengobatan ibu kamu. asalkan kamu mau menikah dengan aku" ucap Didi yang santai
"apa? menikah? kamu gila ya" ucap Dwi dengan kesal.
"ya kali aja kamu mau ikut usulan aku" ucap Didi yang masih aja santai.
"usia ku masih 22 Tahun. dan aku belum wisuda, gimana bisa aku menikah sebum lulus kuliah" terang Dwi.
"banyak kok yang masih kuliah tapi udah menikah, gimana? aku juga akan jamin semua kebutuhan kamu nantinya " ucap Didi sambil memohon.
"sebenarnya kalau gue terima ajakan Didi buat nikah ada baiknya juga, paling gak untuk biaya ibu bisa selesaikan, dan gue juga gak perlu menikah sama si rubah tua sialan itu" gumam Dwi dalam hati.
"oke. aku terima tawaran kamu tapi aku punya syarat? " ucap Dwi tegas.
" aku gak mau berhenti bekerja, jadi stelah menikah aku mau tetap bekerja?" ucap Dwi.
"oke. saya setuju. kalau gitu besok kita ketemu keluarga aku. aku akan bawa kamu ke keluarga aku" ucap Didi yang merasa senang akhirnya menemukan jalan keluar dari tantangan yang di berikan papa nya.
"oke "
****
pagi hari.
hari pertama buat Dwi bekerja, dengan menggunakan blazer kemeja putih dengan blazer putih , dan rok span selutut berwarna hitam membuat penampilan nya berubah tidak seperti mahasy pada umunya. gak lupa dia juga menggunakan sepatu Hells 7cm berwana hitam. rambutnya ia biarkan tegurai dan dengan polesan make up minimalis mengantarkan Dwi memasuki ruangan dengan menuju lift ke lantai 8. semua mata tak lepas tertuju padanya. Dwi dengan santai berjalan menuju ruangannya. karena dia tidak Langi menghawatirkan orang- orang akan menggosip tentang nya.
"selamat pagi" sapa Dwi saat tiba di lantai 8.
"selamat pagi. Hay wi. kamu udah datang?" sapa Siska selau kepala departement Legal officer.
"oh iya .. perkenalkan ini Dwi dia adalah staff baru di depertement kita." ucap Siska yang memperkenalkan Dwi kepada para staf nya.
"hallo salam kenal semuanya. perkenalkan saya Dwi, semoga saya bisa bekerja sama dengan baik dengan semuanya" pekenalan Dwi.
"oh iya wi. meja kamu di sebelah Dito ya, kita udh siapin meja buat kamu tempati disana" terang Siska
"baik buk, terima kasih buk"ucap Dwi.
Dwi pun berjalan menuju mejanya, dan tanpa hitungan menit para staf langsung menuju meja Dwi.
"hai wi kenalkan aku Melda, aku Dito, aku cici, aku Riko, aku Widya" ucap para staf yang menyambutnya dengan baik.
"eh iya salam kenal" sapa Dwi.
"wi kami cantik banget..." ucap Widya yang memuji penampilan nya.
"oh ya... makasih mba" ucap Dwi sambil tersipu malu.
"beneran wi, o iya entar siang kamu gabung sama kita ya makan di kantin bawah" ajak Widya kembali. "iya wi, hari ini menunya enak-enak wi" ucap Dito senyumnya.
"baiklah... ntr siang kita makan bareng yah" ucap Dwi bahagia.
Dwi senang sekali terlihat di raut wajahnya karena ia kini memiliki orang-orang yang menyukai kehadirannya di kantor. "kayak nya mas Didi nepati janjinya tadi malam" gumam Dwi dalam hati. "eh...kok mas?" tanya nya dalam hati.
seketika lamunannya buyar
"Dwi, kamu bisa ikut saya ke ruang CEO? saya akan kenalkan kamu dengan CEO kita." ucap Siska di depan pintu ruangannya.
"baik Bu" Dwi beranjak dari kursinya.
setiba nya di ruang CEO , Siska mengetuk pintu ruang CEO.
pintu di buka oleh sosok perempuan yang menampilkan senyum ramah.
"selamat pagi, silahkan masuk mba Dwi, silahkan masuk" ucap mika.
Dwi pun melangkah masuk ke dalam.
"oke. saya tinggal ya wi" ucap Siska. "baik Bu" kata Dwi.
"silahkan duduk mba Dwi" mika mempersilahkan Dwi untuk duduk.
"pak, mba Dwi sudah datang pak" ucap mika kembali.
sosok lelaki dengan membelakangi meja kerja nya itu memberi kode kepada sekretarisny untuk keluar.
"saya permisi dulu pak" ucap mika sambil meninggalkan ruang CEO .
setelah mika meninggalkan ruangan CEO, soso CEO yang duduk dari balik kursi yang membelakangi mejanya itu berbalik. dwi merasa gugup dirasakan saat ini. sambil melihat sosok CEO itu.
dan sosok yang ia kenal membuatnya membulatkan mata nya saat itu.
ya siapa lagi kalau bukan Didi.
"loh kamu ngapain disini?" ucap Dwi yang masih gak percaya.
"ini ruangan saya" ucap Didi sambil tersenyum.
"hah... apa? dengan rasa terkejut. lalu Dwi melihat nama di atas meja itu. dan terlihat CEO - Didi Mahardika Setiadi.
"jadi kamu? CEO di sini?" tanya Dwi yang masih tidak percaya. karena Dwi mengira kalau Didi juga adalah staff di sini.
tiba-tiba Dwi mengingat ucapan Didi tadi malam. kalau harus mempertahankan perusahaan. "jadi perusahaan yang kamu maksud tadi malam adalah perusahaan ini?" tanya Dwi menyelidik.
"yup. dan beberapa perusahaan keluarga Setiadi yang lain" ungkap Didi.
Didi pun beranjak dari kursi nya menuju sofa yang saat ini berada di dekat Dwi duduk.
" o iya aku gak bilang ke sekretaris aku tentang kesepakatan kita, aku gak mau kamu jadi risih nanti saat bekerja disini. jadi aku juga bilang ke Siska , bahwa kamu memang di rekomendasi oleh papa aku untuk bekerja disini tanpa menilai kalau kamu calon istri aku. jadi kamu gak perlu khawatir." terang Didi.
"oh iya, aku gak menggap pernikahan kita adalah sebuah permainan. bagiku pernikahan adalah hal yang skral. dan aku akan sepenuhnya bertanggung jawab dengan kamu dan keluarga kamu, saya benci dengan penghiatan. satu yang aku minta sama kamu, kamu harus bersedia menerima kedua anak-anak sebagai anak-anak kamu juga. saya minta kamu untuk bantu saya juga mengasuh anak-anak. apa kamu bisa?" tanya Didi.
"tapi kita menikah tanpa cinta" bantah Dwi.
"saya gak perlu cinta wi. saya udah gak percaya sama cinta" ucap Didi.
Dwi hanya bisa diam dan mengangguk pelan mengikuti apa kata didi.
senyum merekah terpanjang di wajah tampan Didi. dan tiba-tiba Didi memeluk Dwi. tanpa bisa menolak Dwi hanya pasrah. rasanya ia ingin menolah pelukan ini hatinya enggan menolak.
dan tiba-tiba mika membuka pintu rungan dengan membawa segelas teh buat Dwi. namun mika melihat raut wajahnya sahabatnya yang sangat bahagia dengan memeluk Dwi, hingga mika mengurungkan niatnya untuk membawakan teh ke dalam.
"kalau udah cinta dunia milik berdua yang lain mah ngontrak" gumam mika pelan.
" ya udah sekarang kamu ikut aku ya" ucap Didi sambil menarik tangan Dwi keluar ruangan.
sambil mengatakan kepada sekretarisnya. "mika, semua janji hari ini kamu atur ulang ya. saya ada hal penting yang harus saya urus hari ini" ucap Didi yang tidak lepas memegang tangan Dwi.
"baik pak" ucap mika.
Didi dan Dwi memasuki lift khusus milik nya. dan lansung menuju bassmend khusus CEO.
di dalam lift Didi masih enggan melepaskan tangannya yang menggenggam tangan Dwi. tanpa Didi sadari kalau kini pandangannya fokus menatap Dwi yang terlihat sangat cantik. kayaknya ia pun gak perlu bawa Dwi ke salon lagi. karena baginya penampilan nya kini sudah sempurna.
saat Didi mau membukakan pintu mobil untuk Dwi tanpa ia sadari tangannya yang masih menempel. didi pun melepaskan tangan Dwi ketika hendak masuk ke mobil.
selama di perjalanan mereka hanya diam tanpa satu kata. dan Dwi akhirnya buka suara.
"mas, kita mau kemana?" tanya Dwi.
Didi membulatkan matanya kaget mendengan Dwi memanggil nya dengan sebutan mas. udah gak pake aku kamu lagi. "ke rumah orang tua saya wi" ucap Didi dengan foku mengemudi.
kurang dari 45menit mereka tiba di kediaman setadi.
rumah megah dengan halaman yang luas yang di hiasi berbagai tanaman hias dan kebun kecil itu tampak Dwi melihat takjub rumah besar berlantai 3 tersebut.