Didi dan Dwi yang baru saja turun dari mobil dan melangkah kan kaki ke anak tangga di depan rumah seketika terpana dengan sosok pria muda , tampan, berkacamata seperti seorang pria genius membuka pintu rumah. senyum ramah yang di berikan oleh pria tampan tersebut membawa Dwi ke lamunan yang mengingatkan ia dengan sahabat kecilnya dulu. Dwi dulu pernah punya sahabat namanya lucky, mereka tumbuh dan besar bersama karena memang rumah mereka bersebelahan. namun sejak lulus SMA lucky dan keluarganya pindah ke London untuk melanjutkan kuliah disana, dan papa nya juga pindah kerja disana. papa nya lucky kerja di KBRI di London, jadi papanya memutuskan untuk membawa kelurga kecilnya pindah kesana semua.
"loh, ruang operasi Lo pindah ke rumah sekarang?" tanya Didi yang heran melihat adiknya masih menggunakan seragam scrub (seragam ruang operasi) di rumah.
"hah..." sambil melongo menatap ka bawah, tanpa sadar ia lupa mengganti baju nya.
"astaga, kok gue sampe lupa begini ya" ucap Aldo sambil menepuk dahinya. kali ini Dwi memang tidak tau siapa sosok pria tampan di depan nya ini. seketika Didi melihat Dwi yang menatap Aldo tanpa berkedip. tangan Aldo menepuk pelan bahu Dwi , "kamu kenapa?" tanya Didi yang berhasil membuyarkan lamunan Dwi.
"eh, ia kenapa mas?" tanya Dwi Balik.
Didi menatap Dwi menyelidik, sambil bergantian menatap Aldo. namun iya langsung menggenggam tangan Dwi dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.
"Lo gak dinas do?" tanya Didi sambil berjalan menuju ruang tamu yang terdapat sofa tamu disana.
"baru aja pulang, tadi malam gue jaga malam bang" ucap Aldo yang juga sambil duduk di hadapan Didi.
"rumah kok sepi, papa sama Mama kemana?" ucap Didi.
"mama sama Keysha tadi baru aja berangkat ke Jogja di antar mang Udin ke bandara, kalo papa ada di halaman belakang lagi main sama ikan cupang nya" ungkap Aldo yang sedikit tertawa melihat papanya yang punya hobi main dengan ikan cupang.
"mama sama Keysha kok ngak ngabarin gue kalau mau ke Jogja" tanya Didi.
" dadakan aja bang, Oma sakit tadi pagi om Helmi telpon ngabarin Oma masuk rumah sakit lagi" terang Aldo.
sambil mengangguk Didi beranjak dari tempat duduknya menuju ke halaman belakang untuk memanggil papa nya.
"kamu tunggu disini dulu ya, mas panggil papa dulu" ucap Didi sambil mengusap lembuh kepala Dwi.
"iya mas" ucap Dwi dengan senyum manisnya.
"oh iya lupa kan. do, nih kenalin calon kakak ipar Lo " ucap Didi memperkenalkan Dwi ke pada Aldo.
" wi ,ini adek mas no 2 namanya Aldo, dia dokter spesialis jantung, kalau Keysha itu adek mas paling bungsu masih SMA tapi sekarang dia ikut mama ke Jogja" terang Didi kepada Dwi.
"saya Aldo mba" ucap Aldo dengan menjulurkan tangan nya.
"saya Dwi" ucap Dwi yang membalas jabatan tangan Aldo.
Didi berjalan menuju halaman belakang,
"pa....papa...pa..." Didi menaggil papa nya. tampak raut wajah hagian terlihat dari sosok pria paruh baya yang memandangi aquarium Besar yang berisikan puluhan ikan cupang di dalamnya.
"ya elah,,, aku cariin ternyata papa disini" ucap Didi.
"loh kamu gak ngantor? kok jam segini kamu disini, ini masih jam 11 belom jadwalnya makan siang" ucap setiadi yang tidak lain adalah papa kandung dari didi.
"aku kesini bawa hadiah buat papa" ucap Didi.
"kamu belikan papa ikan cupang lagi?" tanya Setiadi seakan menggoda anaknya.
"ya elah pa, papa masa mainnya sama sih kayak mainan anak aku pa" ungkap kesel Didi yang selalu melihat tingkah papa nya hampir sama dengan putranya.
"aku bawa bidadari pa" kata didi seraya menggoda Setiadi.
PLAK...
Setiadi memukul bahu Didi.
"awww...sakit pa" rintih Didi sambil mengusap bahu nya.
"kalau tau mama mu bisa habis kamu di omelin mama mu, enak aja kamu bilang bawa bidadari buat papa" ucap setiadi.
"yeee.. bidadari nya buat aku pa, aku juga gak mau bagi sama papa" ucap Didi sambil tersenyum seringai.
"susah payah aku buat dapetin bidadari masa iya aku bagi ke papa, papa kan udah punya bidadari surga yang cantik dalam hidup papa" terang Didi kembali.
"ayok pa, aku kenalin sama calon mama anak-anak" ucap Didi yang mencoba mengajak papa nya ke ruang tamu.
"kamu lagi gak ngibuli papa kan di?" tanya Setiadi seakan menyelidik.
"ya elah pa, ngapain juga ngibuli papa, rugi dong kalau ini cuma bohongan pa"
terang didi yang mencoba meyakinkan papa ya.
"tapi pa, wanita ini bukan dari keluarga seperti kita pa, dia wanita sederhana pa, apa papa keberatan pa?" tanya Didi.
"kamu sudah mantap sama pilihan kamu?" tanya Setiadi sambil mengusap punggung anaknya.
"insyaallah pa, aku siap dan mantan dengan pilihan aku saat ini pa" ungkap jujur Didi.
"kenapa perasaan gue beneran mantap begini ya mau nikahin Dwi" gumam Didi dalam hati.
"jika kamu memang sudah mantap dengan pilihan mu, papa mendukung, papa dan mama gak keberatan dengan status sosial. yang penting dia baik dan bisa menyayangimu dan mencintaimu, serta bisa menjadi ibu yang baik bagi cucu-cucu papa" terang Setiadi.
Didi pun berjalan menuju ruang tamu bersama Setiadi.
"wi, ini papa mas wi, namanya papa Setiadi" ucap Didi yang memperkenalkan papa nya kepada Dwi.
"pa , ini Dwi pa. insyaallah akan jadi menantu papa nanti pa" ucap Didi kembali.
Setiadi menatap dari bawah hingga ke atas tubuh Dwi dengan tatapan hangat layaknya seorang ayah.
"hallo om, saya Dwi om" ucap Dwi sambil menjulurkan tangannya dan langsung disambut oleh Setiadi. tanpa berlama Dwi mencium punggung tangan Setiadi seperti ia mencium tangan ayahnya sendiri. seketika Setiadi kaget melihat sikap Dwi yang sangat sopan kepadanya. karena sudah sangat jarang melihat anak muda saat ini yang bersikap seperti Dwi.
"mari silahkan duduk" ucap setiadi yang menyuruh semua orang duduk.
"kamu kegiatannya saat ini apa wi?" tanya Setiadi
"saya sedang nyusun skripsi saya om, insyaallah 1bulan lagi bimbingan saya selesai om, wisuda masih ada waktu 5 bulan lagi om, saat ini saya baru bekerja di perusahaan mas Didi juga" ungkap Dwi jujur.
"oh iya. kamu bekerja di kantor Didi? di departement apa?" tanya Setiadi kembali.
"saya di departement Legal om, dibawah Bu siska" ucap Dwi.
"kamu Mahasiswa Hukum?" tanya Setiadi kembali.
"iya om" ucap Dwi sambil menganggukkan kepalanya.
"wah kebetulan sekali keluarga kita memang belum ada yang bergelud di bidang hukum, tapi bagaimana bisa kamu bekerja di perusahaan didi, karena kan departement Legal belum pernah menerima mahasiswa?" tanya Setiadi yang sambil menoleh ke arah Didi.
"gini pa, kebetulan bulan lalu Siska sempat mengajukan ke aku buat program magang di perusahaan pa. Siska bilang agar kita lebih bisa siap menerima calon karyawan baru setiap tahun nya pa, jadi sudah ada bekal buat terjun ke perusahaan nantinya pa. nah, kebetulan Siska yang interview Dwi pa, dan siska melihat hasil tugas akhir Dwi dalam menyusun perjanjian perusahaan pa. jadi Siska memutuskan untuk langsung mengontrak Dwi selama 1tahun pertama ini pa. kata Siska susunan perjanjian yang di buat Dwi tersusun sempurna" terang Didi.
"Didi juga gak tau kalau Dwi ikut program magang di kantor pa, jadi emang Dwi bisa kerja karena hasil nilai murni dari dirinya sendiri pa, tanpa embel-embel aku di belakang nya pa" mencoba meyakinkan papanya.
"papa percaya sama kamu, lalu, kapan berencana kalian akan menikah?" tanya Setiadi.
"aku gak mau lama-lama pa, aku juga gak mau nanti akan timbul fitnah juga di kantor pa, apalagi Dwi juga baru mulai bekerja hari ini pa, aku sama Dwi sepakat buat nikah Minggu depan pa, gimana menurut papa? " ungkap Didi.
Dwi hanya diam dan ia hanya mengikuti apa kata Didi saja. karena dari awal ia dan Didi sudah sepakat menjalani pernikahan ini dan tidak akan mempermainkan pernikahan yang sakral ini.
"kalau papa gak masalah, lebih cepat lebih baik. benar kamu bilang dari pada nanti ya akan menimbulkan fitnah, tapi sebaiknya kamu juga omongin ke mama mu, takutnya dia kaget mendengar dari papa" ucap setiadi.
"nanti siang aku coba telpon mama di kantor pa" kata Didi
"wi, om cuma berpesan 1 kepada kamu, tolong sayangi dan cintai anak om dan cucu-cucu om ya nak, mereka salah satu harta berharga om saat ini" ungkap Setiadi dengan tatapan hangat kepada Dwi.
"insyaallah om, wi akan berubah menjadi istri dan ibu yang baik muat suami dan anak-anak om" ucap Dwi.
"oh iya pa, untuk resepsi udah diatur sama mika jadi papa jangan banyak pikiran ya" ucap Didi.
"kalau begitu aku sama Dwi Balik ke kantor ya pa.gak enak bawa anak baru keluyuran di hari pertaman" bisik Didi ke arah telinga Setiadi.
Setiadi hanya bisa menggeleng dengan menahan senyum nya.
"ya udah kalian hati-hati ya. " ucap setiadi.
Aldo yang tidak terlihat dari tadi tiba-tiba turun dari lantai 2 sambil berlari.
"eh ... Lo main lari aja, mau kemana?" tanya Didi yang mencegat tangan Aldo.
" gue harus ke rumah sakit bang, pasien yang abis operasi tadi malam keadaan nya memburuk" ucap Aldo.
" gue harus balik ke rumah sakit, pa aku pergi dulu ya pa" ucap Aldo sambil mencium punggung tangan papa nya.
"hati-hati kamu do" ucap setiadi.
" gimana mau punya pacar, setiap hari yang di otaknya nasib pasien Mulu, nasib sendiri gak di pikirin" gumam Didi saat melihat adiknya itu pergi.
"gitu lah adekmu" ucap Setiadi sambil menepuk bahu Didi.
***
setelah meninggalkan kediaman Setiadi, mobil Didi melaju ke arah yang bukan arah kantor.
"loh mas. ini kan bukan arah kantor" tanya Dwi.
"emang bukan, kamu tenang aja aku gak bakalan ngapain-ngapain kamu" ucap Didi sambil tersenyum menatap arah jalan.
tiba-tiba suara HP Didi berdering.
Drtttt....
mengambil handphone di dalam saku celana nya. lalu mengeser tombol hijau di layar ponselnya.
"hallo .. oke setengah jam lagi gue sampai sana" ucap Didi lalu menaruh ponselnya di dashboard tempat ia biasa meletakkan ponselnya.
" kita mau kemana mas?" tanya Dwi
"mau makan dulu, saya udah laper" ucap Didi sambil menatap sekilas wajah imut Dwi.
"tapi aku gak bawa dompet mas , tas aku tinggal di kantor tadi" ucap Dwi.
setelah memarkirkan mobil nya. Didi menatap Dwi dengan tatapan hangat.
"wi, kamu jangan bikin saya jadi gemesh sama kamu dong. kenapa kamu yang harus bayar, kamu pergi sama calon suami mu Lo wi" ungkap Didi dengan menggenggam tangan Dwi.
mereka pun beradu tatapan tanpa menghindari tatapan masing-masing. seketika pipi Dwi merona merah.
"kamu gugup wi?" ucap Didi sambil memegang pipi Dwi yang merah dengan sebelah tangan nya. sebelah tangan lagi masih belum enggan melepas genggaman tangan dwi.
"ayo mas, katanya tadi laper" Dwi mencoba mengalihkan situasi nya dengan debaran jantung nya yang udah gak terkontrol lagi.
Didi pun tersenyum melihat wajah Dwi yang tiba-tiba lucu saat gugup di depannya.