memasuki restoran, Didi dan Dwi Duduk berhadapan. Dwi yang merasa canggung
ia tak bisa menyembunyikan rona merah pipi nya yang terlihat oleh Didi.
"kenapa jadi panas begini ya" gumam Dwi pelan namun terdengar oleh Didi.
mendengar celotehan Dwi, Didi pun berusaha menahan senyum nya sambil menggelengkan kepalanya. tak lama kemudian pelayan di restoran itu datang sambil membawa daftar menu.
"selamat siang pak, Bu. silahkan menu nya" ucap pelayan restoran sambil memperlihatkan buku menu ke Didi dan Dwi.
"kamu mau makan apa sayang?" ucap Didi sambil fokus membaca buku menu makanan.
mendengar kata Sayang yang keluar dari mulut Didi membuat Dwi mendongak kan kepalanya dengan mata membulat ke arah Didi. merasa ditatap oleh Dwi, Didi pun kembali menatap Dwi dengan wajah datar yang lagi-lagi membuat Dwi menjadi salah tingkah.
"maaf, pak buk, mau pesan apa jadinya?" ucap pelayan restoran itu yang sudah menunggu tadi.
cckk... Didi membunyikan jarinya di depan mata Dwi sehingga membuyarkan lamunan Dwi.
"hei... kamu mau makan apa, mas nya udh nungguin dari tadi loh" ucap Didi sambil tersenyum.
Dwi yang masih salah tingkah menatap mas pelayanan nya dengan wajah polosnya. "hmm.. apa aja yang ada mas?" tanya Dwi yang polos.
"sayang itu menu nya di depan kamu loh" ucap Didi yang kembali membuat wajah Dwi merah merona.
"eh.. iya. saya pesan capcay seafood aja mas" ucap Dwi sambil menatap menu " sama es teh aja satu ya" ucap Dwi sambil memberikan buku menu ke pelayanan Restoran.
"saya sama aja mas pesanan nya, oh iya nasi putihnya dua Ya mas" ucap Didi .
"baik pak Bu" ucap pelayan sambil pergi untuk menyiapkan pesanan nya.
"kamu apaan sih mas? kok panggil sayang-sayang gitu" ucap Dwi sambil melilitkan ujung bajunya.
"emangnya kenapa gak boleh?" ucap Didi sambil menahan senyum nya.
"gak.. eh..bukan gitu maksudnya" ucap Dwi yang gugup.
"kalau begitu berarti boleh dong" ucap Didi menggoda.
"maksudnya aku tu, ya....jangan di depan umum, malu" ucap Dwi yang menundukkan kepalanya.
Didi yang tertawa kecil melihat tingkah gugup Dwi sangat gemes.
"kan semua orang juga udah pada tau kalau kamu itu calon istri aku, jadi ya gak masalah kalau panggil sayang di depan umum" ucap Didi. " atau mau di panggil my wife , my honey, Beby gimana?" ucap Didi yang kembali menggoda Dwi.
"mas...ihhh kok nyebelin" rengek Dwi sambil menepuk lengan Didi.
seperti tak terima di pukul seakan menggodanya, Didi dengan cepat meraih tangan Dwi dan menggenggam nya di atas meja. sampai akhirnya genggaman itu terlepas karena makanan yang mereka pesan sudah datang.
mereka pun menyantap makan siang mereka dengan fokus tanpa ada pembicaraan.
setelah selesai makan siang Didi dan Dwi kembali melanjutkan perjalanan nya. "mas kita mau kemana lagi?" tanya Dwi.
"jumpai orang bentar, mika udah nungguin kita juga disana" ucap Didi sambil menyetir.
"loh urusan kerjaan kenapa aku harus ikut mas?" tanya Dwi yang masih bingung melihat sikap calon suaminya.
"ya kamu emang harus ikut, karena ini ada hubungannya sama kamu" ucap Didi.
kurang dari 20menit mobil berhenti di depan Butik bridal terkenal di Jakarta.
"loh ..loh .. kita ngapain mas kesini mas?" tanya Dwi yang masih bingung.
Didi yang langsung turun dan segera membuka pintu untuk Dwi.
"silahkan my wife" ucap Didi yang mempersilahkan Dwi untuk turun ala pangeran-pangeran.
sambil menggandeng tangan Dwi memasuki butik bridal itu, Tampak mika yang sudah menunggu di dalam.
"oi, lama banget sih" ucap mika sambil berjalan menuju kedua sejoli itu.
"loh ada mba mika juga disini" ucap Dwi .
"ia mba, saya yang mengurus pernikahan kalian" ucap mika.
"mba, bisa panggil nama saya aja gak, usia saya masih di bawah mba mika" terang Dwi yang memohon.
"ya gak bisa dong, kan mba Dwi calon istri si bos" ucap mika sambil menatap senyum Didi.
" tapi saya agak risih kalau di panggil mba begitu mba" ucap Dwi kembali.
"kalau dah nikah saya panggil nya ibu loh mba" ucap mika menggoda.
"haduh.. jangan dong. saya belum tua mba masa di panggil ibu" terang Dwi dengan polos.
seketika Didi tertawa kecil melihat kepolosan Dwi.
sambil menangkup kedua pipi Dwi. Didi menatap wajah polos Dwi.
"kamu kalau udah nikah sama saya, harus terima semua nya sayang" ucap Didi yang kembali melontarkan kata saya di depan umum.
mika menggelengkan kepalanya melihat sahabat serta bos nya itu yang bermesraan di depan nya.
"uhuk..uhuk .." batuk mika seakan menyadarkan Didi dan Dwi .
"saya masih disini pak" ucap mika sambil menyenggol siku Didi.
"ngiri aja Lo" ucap Didi sambil melepas tangan nya dan langsung merangkul pinggang Dwi.
"ya udah... nih ada beberapa gaun yang udah gue pilih" ucap mika yang menunjukkan beberapa gaun pengantin kepada Didi dan Dwi.
"cobain gih mana yang kamu suka" ucap Didi kepada Dwi.
Dwi pun masuk ke ruang ganti dengan di bantu oleh pegawai butik itu.
setelah 10 menit di ruang ganti. tirai besar di ruang ganti di buka oleh pegawai butik. melihat tirai terbuka, Didi melihat kecantikan Dwi yang terpancar indah dengan gaun putih dengan model Sabrina tanpa lengan itu. simpel namun tampak elegan dengan rambut Dwi yang di sanggul dengan sederhana. Didi pun tak lepas memandang calon istrinya yang begitu sangat cantik.
"mas, apa gak kebuka banget ya baju nya" ucap Dwi yang seakan kurang percaya diri dengan gaun yang di gunakan nya.
"kamu cantik bangat sayang, jadi pengen cepat-cepat ijab kabul" ucap Didi sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"tapi aku gak PD mas, kebuka banget" ucap Dwi sambil menutupi belahan d**a nya yang sedikit terlihat.
" itu tangan nya kenapa begitu" tanya Didi yang bingung melihat tangan Dwi yang gak beranjak dari tadi.
sambil berjalan mendekati Dwi dan mengarahkan tangan Dwi untuk turun, tampak belahan d**a Dwi terlihat lalu Didi menelan Saliva. berusaha mengalihkan pandangan nya, didi membalikkan badannya dengan salah tingkah.
"oh iya baju saya gimana ?" tanya Dwi yang berusaha menahan rasa keinginannya.
"ini pak" ucap salah satu pegawai butik itu.
Didi pun segera mengganti baju nya dengan jas berwarna navi yang akan di gunakan saat resepsi pernikahan nya.
tak membutuhkan waktu lama. Didi keluar dari ruang ganti dan berdiri di sebelah Dwi.
"uwahhh.... kalian serasi banget, mau gue fotokan gak?" ucap mika.
"ide bagus, kadang otak Lo berguna juga ka" ucap Didi yang mengejek sahabatnya.
mika pun memfoto Didi dan Dwi dengan kamera yang ada di handphone nya.
"coba sekarang gayanya kalian saling menatap"ucap mika yang mencoba mengarahkan gaya ala-ala fotografer profesional.
" nah ... terus kening Lo di tempelin ke kening nya Dwi deh" ucap mika.
tanpa membantah Dwi dan didi nurut sama yang di ucapkan mika.
cekrek...
tidak melepaskan pandangannya dan tangan Didi kembali menangkup wajah Dwi. jantung Dwi sudah menggebu-gebu kayak ngajak demo, Dwi menggigit bibir bawah nya seakan menyetujui tindakan Didi berikutnya. tanpa menunggu lama Didi mendaratkan bibirnya di bibir tipis Dwi. dengan mata yang membulat karena terkejut dengan sikap Didi mendadak begini, Dwi pun memejam matanya dan membuka bibirnya yang seakan menginginkan lebih dalam lagi.
di beri kode oleh Dwi, Didi pun mengerti dengan keinginan Dwi, tak peduli siapa yang melihat Didi pun melumat lembut bibir Dwi yang sangat menggoda nya dan membiarkan lidah nya masuk dan mengabsen satu persatu gigi Dwi di da. sana. lalu saling menukar Saliva nya dan Dwi yang menikmati kegiatan Didi segera mengalungkan tangan nya ke leher belakang Didi. Didi pun menurunkan tangan nya dan melingkarkan tangan nya ke pinggang Dwi.
"Lailah... gak liat tempat nih manusia, main nyosor aja" ucap mika sambil meninggalkan Didi dan Dwi disana.
begitu juga dengan karyawan butih itu sambil senyum mereka juga meninggalkan kedua manusia yang di mabuk cintak itu.
menghentikan perlahat lumatannya Didi mengelus wajah cantik Dwi.
"makasih sayang" ucap Didi dan mengecup kening Dwi dengan hangat.
Dwi hanya bisa tersenyum dengan rona warna pipi yang memerah dan menunduk malu.
setelah usai fitting baju, Didi dan Dwi kembali ke kantor. karena memang jadwal Didi jam 3 sore ini adalah mitting bersama bagian keuangan.