sesampainya di loby kantor, Didi dan Dwi segera turun dan memberikan kunci kepada salah satu petugas keamanan untuk memarkirkan mobilnya. sambil berjalan memasuki gedung berlantai tinggi itu dengan sigap Didi kembali meraih tangan calon istrinya agak tidak jauh-jauh dari nya. sontak melihat aksi Didi tersebut membuat semua mata tertuju pada mereka berdua. Dwi yang berusaha melepas tangan Didi tak mampu melepaskan nya karena tenaga Didi yang kuat memegang tangan nya.
"mas, malu di liatin semua orang" bisik Dwi.
"kalian kenapa pada liat, semua kerjaan emangnya udah selesai?" ucap Didi yang mendongak kepala sambil menatap para pegawainya.
seketika semua pegawainya menuju ke tugas asalnya.
pintu lift terbuka, Didi dan Dwi pun masuk ke lift tersebut. cuma mereka berdua di dalam lift. tanpa ada percakapan diantara mereka, sehingga didi membayangkan ciuman manisnya tadi. melihat arah bibir tipis milik calon istri nya itu Didi semakin ingin melumat nya kembali. namun lift itu akhirnya sampai di lantai 8 dimana ruangan Dwi berada. ketika hendak keluar dari lift, Didi kembali menarik tangan Dwi dan membawa tubuhnya jatuh ke pelukan Didi. hanya pandangan mereka yang beradu, namun kali ini Didi hanya mencium bibir indah itu dengan kecupan sekilas dan mencium kening Dwi sekilas.
sambil melepaskan pelukan nya Dwi pun beranjak segera keluar.
"aku duluan ya mas" sambil berjala keluar lift.
***
sesampainya di lantai 10 Didi pun langsung masuk ke dalam ruangan nya. ia di kejutkan dengan sosok pria yang lebih muda dari nya yang sedang duduk di sofa ruangan nya.
" Hay Abang ku sayang, sudah lama kotak tidak ketemu" ucap Bagas.
Bagas adalah adik sepupu dari Didi. namun hubungan mereka dari dulu memang tidak sebaik yang orang-orang pikir. bahkan mereka Bagas ini adalah rival Didi dari dulu. Bagas memiliki bisnis nya sendiri namun perusahaan nya belum sebesar perusahaan Didi. Bagas juga sering berbuat curang kepada Didi untuk merebut clien milik Didi.
"mau apa Lo kesini?" ucap Didi menyelidik.
dengan senyum liciknya Bagas pun mencampak kan map ke atas meja kerja Didi. menatap Bagas yang melempar map di atas meja nya, Didi hanya berdecak seakan mengejek Bagas.
"Lo butuh modal?" ucap Didi yang mengejek.
Bagas hanya tersenyum, "silahkan di baca dulu saudara ku" ucap Bagas.
Didi pun meraih map itu dan membuka nya, mata nya membulat tak percaya saat membaca nama Naufal Adhikarya menanda tangani kerja sama dengan perusahaan bagas. padahal kemarin ia baru saja mengajukan kerja sama dan sudah berhasil juga mengajak Naufal CEO PT. adhikarya itu untuk tanda tangan kontrak dengan PT. Setiady company.
Bagas langsung mengambil kembali kontrak kerja sama itu sambil tersenyum seakan merayakan kemenangan.
"kalau begitu saya permisi dulu sahabatku, oh iya tadi pak Naufal titip salam kepadamu" ucap Bagas sambil meninggalkan ruangan nya.
merasa tidak terima dengan perlakuan Bagas kali ini. Didi langsung menelpon mika. "mika, keruangan saya sekarang" ucap Didi di telphone.
dalam hitungan detik mika masuk ke ruangan bos nya "kenapa di? ada masalah?" tanya mika yang bingung melihat raut amarah pada diri bos nya.
"progres kerja sama dengan PT. Adhikarya bagaimana?" tanya Didi.
"sudah gue kirim semua kontrak nya sama mereka, dan mereka juga udah transfer pembayaran untuk DP nya juga kemarin sore" ucap mika.
"lalu kenapa mereka juga bekerja sama dengan perusahaan bagas?" tanya Didi dengan rasa kesal.
"hah... kok bisa" ucap mika yang bingung.
"kita harus memperkuat isi kontrak kerja sama kita, kalau tidak Bagas bisa menggeser kita ka" ucap Didi.
"gue mau kita pending metting dengan departement keuangan hari ini. kita metting dengan departement Legal 10 menit lagi" ucap didi.
"oke. baik gue siapin ruang rapatnya"
ucap mika dan menuju keluar.
***
" guys... kalian siap-siap kita metting 5 menit lagi dengan CEO" ucap Siska di depan pintu ruangan nya.
" hah... kenapa mendadak sekali buk" ucap Widya
"kayaknya emang ada hal urgent, udah kalian semua siap-siap saja" ucap Siska.
"wi, kamu juga ikut ya" ucap Siska
"baik Bu" kata Dwi.
semua staf departement Legal sudah berkumpul di ruang metting.
didi dan mika pun memasuki ruangan.
Dwi melihat sikap didi yang berbeda dari yang tadi. mungkin emang harus profesional karena di kantor.
mika pun menjelaskan maksud metting dadakan nya kali ini. dan Didi fokus menatap layar besar yang menampilkan isi kontrak kerjasama nya dengan PT. adhikarya.
"saya ingin kontrak ini lebih di perkuat" ucap Didi .
"tapi pak, bagaimana dengan kontrak yang kemarin pak?" tanya Siska.
"yang kemarin biarkan saja. namun saat ini saya mau buat penawaran baru ke mereka kembali" ucap Didi
"menurut kalian apa yang harus kita ubah untuk memperkuat" tanya Didi.
Dwi juga fokus membaca isi kontrak itu, namun dwi merasa kontrak itu ada yang kurang. selama ia mempelajari ilmu hukum, kontrak kerja sama itu memang harus kuat dan mengikat. tapi ia melihat isi dari kontrak ini hanya kuat tanpa mengikat.
"ada ide?" tanya Didi.
siska yang memandang wajah Dwi penuh keraguan.
"Dwi, apa ada yang salah?" tanya siska.
"hmmm .. kalau menurut saya buk, kontrak ini tidak mengikat buk. kalau pak Didi mengatakan ingin merubah kontrak ini agar lebih kuat, saya saya rasa ini sudaha kuat namun tidak mengikat" terang Dwi.
"benar Bu pak kata Dwi, kita tidak mengikat dalam perjanjian ini sehingga perusahaan lain bisa masuk d
juga untuk bekerja sama dengan mereka" ucap Widya.
Siska tersenyum bangga melihat Dwi. ia tidak salah memilih menerima Dwi sebagai staf. karena memang Dwi sangat pintar.
Didi tersenyum melihat calon istrinya itu, "gak salah gue milih buat nikahin Lo wi" gumam Didi dalam hati.
"baik lah, kalau gitu saya mau Dwi bertanggung jawab untuk kontrak Kali ini" ucap Didi.
"baik pak, saya setuju pak" ucap Siska.
mendengan hal itu Dwi pun membulatkan mata nya.
"tapi saya baru bekerja disini, saya masih harus belajar pak" terang Dwi kepada Didi.
" atasan kamu udah setuju, jadi saha tunggu kontrak baru nya besok pagi ya" ucap Didi.
"hah besok pagi pak?" tanya Dwi kembali.
tanpa ada jawaban lagi dari Didi.
"hmmm. baik lah pak besok pagi saya SE ke bapak" ucap Dwi.
"nih orang yah, udah nyium gue dadakan tadi, Sekaran seenaknya aja nyuruh gue kerja lumbir" gumam Dwi dam hati
****
waktu menunjukkan jam 17.30
satu persatu semua pegawai mulai meninggalkan ruangan.
tingg Dwi yang masih berkutat dengan komputer nya.
" wi, saya duluan ya" ucap Siska
"oh iya buk" kata Dwi.
Siska menuju lift. setelah lift terbuka tampak Didi yang akan hendak turun juga.
tanpa sengaja Didi melihat dari lift lampu masih ada yang menyala di lantai 8.
setelah Siska masuk Didi pun bertanya.
"masih ada yang lembur" tanya Didi.
"ia pak, Dwi masih harus lembur buat kontrak nya" terang Siska.
Didi merasa tidak enak hati mendengar Dwi masih harus lembur.
sampai di bawah Didi mengurungkan niatnya untuk pulang. ia duduk di kursi sofa di lantai 1 dan mengambil ponsel pintar nya. lalu memilih aplikasi ojol untuk delivery makanan. kali ini Didi pesan Jung food yang menurutnya simople dan kenyang, gak lupa kentang goreng buat cemilan nya juga. Didi memesan 3 porsi.
gak lama kemudian dari ojol sudah datang mengantar pesanan nya.
dan ia kembali naik ke ruangan nya.
tiba di rungan nya, Didi meraih posel pintar nya, lalu menekan konta atas nama Dwi. tersambung dan di angkat
"wi, kamu ke rungan saya sekarang" ucap Didi tanpa menunggu jawaban Dwi, Didi segera mematikan telphone nya.
dalam hitungan menit Dwi mengetuk pintuk ruangan CEO nya itu.
"masuk" kata Didi dari dalam ruangan.
" ya pak, bapak manggil saya" ucap Dwi
"duduk " pinta Didi.
Dwi pun duduk di sofa itu, begitu juga dengan Didi yang memilih duduk di sebelah Dwi.
sambil meraih pelastik di meja itu.
"kamu Belum makan kan, kita makan dulu ya" ucap Didi.
"tidak usah pak, saya bisa makan nanti pak, saya masih harus selesai kan kerjaan saya pak" terang Dwi.
"sayang, kamu Belum makan, kalau kamu sakit entar aku gak jadi nikah sama kamu lagi" ucap Didi yang seakan menggodanya.
"oh iya kalau kita berdua begini jangan panggil saya pak , saya bukan bapak kamu" ucap Didi yang kali ini berhasil membuat Dwi tersenyum simpul.
"ywda kita makan dulu ya. nanti kamu bisa lanjut kerjaan kamu disini saja. biar saya temenin kamu lembur" ucap Didi.
" makasih ya mas" ucap Dwi.