“Bisa jelasin nggak kenapa lokermu kaya pengungsian gini?!” cecar Dewa yang tidak tahan melihat tumpukan pakaian pribadi Bella. “Ini juga segala koper kenapa makin lama jadi banyak!”
Bella diam tak berkutik, matanya berusaha kuat tidak beradu tatap dengan Dewa.
“Eeee…” hanya gumam kecil yang mampu bibir Bella keluarkan.
“Penjelasan?!” suara Dewa semakin meninggi.
Gadis itu kebingungan menyusun alasan karena tak mungkin terang-terangan mengatakan akan pindahan kos. Sahabatnya itu bisa makin marah, karena rencana itu tidak Bella ceritakan dan dia tidak minta tolong ke Dewa atau istrinya, Putri.
“K-kamu kan pernah bilang untuk memperhatikan penampilan. Jadi kupikir biar praktis, aku bawa sekalian bajunya ke kantor.”
“Ya nggak trus sebanyak ini juga, Bella!” Nada bicara Dewa langsung meninggi dan membuat Bella menggigit bibirnya. “Kamu harus kasih contoh yang baik. Ini mau sampai kapan, coba?!” hardik Dewa tanpa jeda.
“Maaf,” ucap Bella dengan wajah memelas. “Seminggu aja. Aku butuh waktu mindahin barangnya. Pleasee…”
Tak ada jawaban dari Dewa, ia langsung kembali ke tempat mejanya dengan kasar. Dewa tahu dia keterlaluan berteriak seperti itu, tapi Bella juga sesekali harus ditegur.
Bella mematung di depan loker, merenungi tindakan salahnya. Sebuah pesan datang dari Bagas yang mengajak ketemuan sore ini langsung membuyarkan ratapan Bella.
****
“Sibuk banget ya,” sapa Bagas yang secara reflek melihat ke arah jam di tangan kirinya saat Bella datang.
“Lumayan,” jawab Bella singkat sembari merapikan posisi duduknya.
Matanya memandang lurus ke arah dua orang kembar yang duduk di depannya, Bagas dan Barra. Tiga es kopi s**u sudah tersaji di meja, tapi mereka tak ada yang berani minum duluan.
Bella sudah berniat untuk bertarung, ia tak mau menurunkan ketegangan. Semua demi kejelasan barang-barangnya di kantor yang sudah membuat Dewa marah.
“Jadi, apa yang mau dibicarakan, sih? Aku harus segera berkemas dari kos, jadi mau pulang cepat.” Bella mengawali obrolan yang dari tadi tidak segera dimulai juga.
“Berkemas?” tanya Barra dengan wajah bingung. Lalu melemparkan tatapan dari Bella ke Bagas yang punya wajah mirip dengannya.
“Iya. Kan sesuai perjanjian, ini sudah waktunya aku pulang. Kalian, lho, yang bilang cuma 3 bulan aku ngekos.” jawab Bella yang kemudian mengecap es kopi di depannya.
“Lho, kamu belum cerita?” tanya Barra ke Bagas yang duduk kaku di sebelahnya.
“Ini baru mau bilang,” sahut Bagas tenang.
Bagas selalu lebih tenang jika dibanding Barra atau pun Bella. Mungkin itu alasan dia cocok di jalur pekerjaan jadi pengacara.
“Kita rasa kamu belum bisa balik ke rumah,” ujar Bagas.
Satu kalimat saja langsung membuat Bella membeku. Tatapan santainya langsung berubah tajam. Gadis itu berusaha menahan ledakan dalam dadanya dengan beberapa kali menarik napas.
“Gimana? Kalian janji 3 bulan dan aku sudah mengatur semuanya, lalu kalian batalin seenak jidat?!” cecar Bella cepat. Tangannya mencengkeram pinggiran meja demi tetap tenang.
“Kami punya kondisi urgent. Jadi sekarang ini yang terbaik kamu jangan balik dulu ke rumah,” terang Bagas merayu Bella. Tapi upaya itu langsung di sesali begitu melihat raut muka adiknya yang tak kunjung lembut.
Tidak menepati janji adalah hal yang paling dibenci Bella. Bagas tahu itu, makanya ia ragu memberi tahu lebih awal. Keraguan itu mengikis waktu yang sudah mereka janjikan.
“Mau sampai kapan? Tiga bulan lagi? Setahun? Gue harus memahami kondisi apa lagi ini? Sementara kalian seenaknya mengusir gue dari rumah itu. Apa perlu aku bilang ke ayah dan ibu untuk menyediakan rumah baru biar nggak rebutan tempat?” Bella berusaha menata nada suara serendah mungkin agar amarahnya terarah.
“Kamu nggak ngusir, Bell,” timpal Barra. Lirikan Bella langsung membungkam sang kakak.
“Sebutkan berapa lama lagi?” sergah Bella dengan suara berbisik.
“Ya, itu belum tahu,” jawab Barra yang diliputi rasa bersalah.
“Kondisi apa lagi sih ini?!” tanya Bella seraya mencondongkan tubuh. “Apa? Kalian masukin cewek dan ceweknya nggak mau keluar. Lalu kalian milih ngusir adik kalian?”
“Bella!” tegur Barra.
“Salahku di mana, Kak? Aku lihat kok kakak masukin cewek ke rumah saat aku ngekos itu. Hebat banget ya, aku kalah sama cewek temen kantor kakak,” balas Bella kepada Barra.
Mulut Barra rasanya kaku mendengar penjelasan Bella. Ia tak menyangka Bella bisa tahu hal yang dirahasiakan. Padahal ia sudah yakin untuk tidak mengucapkan di kepala agar tidak didengar adiknya.
“Terus, Kak Bagas pakai alasan apa melarangku kali ini?” Kini Bella ganti menyudutkan kakak kembar tertuanya.
“Aku tidak pernah bilang melarang, kami cuma me-min-ta,” jawab Bagas cepat.
“Nggak usah mengelak, kakak sama aja! Kakak melarangku kembali ke rumah. Buktinya kunci gerbang dan rumah diganti. Tentu itu ulah Kak Bagas, kan?” cecar Bella.
Giliran Bagas yang tertegun karena Bella tahu ia diam-diam mengganti semua kunci rumah.
“K-kamu kok bisa tahu, dek?” tanya Bagas hati-hati.
“Ya karena aku nggak bisa masuk,” jawab Bella dengan kesal.
“Kamu datang ke rumah? Jangan dulu, dek,” sahut Bagas dengan wajah khawatirnya.
“Ya iyalah aku datang ke rumah, masa ke tetangga,” tungkas Bella kesal.
“Dek, jangan salah paham dulu…” Barra berusaha menengahi.
“Don’t get me wrong, Kak.” Potong Bella. “Aku tidak peduli kakak mau dekat sama siapa. Apa pun kisah cinta kakak, aku nggak akan mau ikut campur atau menghalangi. Lakukan aja, bebas!”
“Bella, kali ini bukan masalah cewek,” balas Barra dengan berbagai penekanan agar ucapannya jelas dan melambat.
“Terus? Kondisi apa yang harus gue maklumi dari keegoisan kalian ini?!” gerutu Bella. Ia lalu menopang kepala dengan kedua tangan di meja itu. Setiap tarikan napas terasa perih.
Bagas atau Barra merasa tersudut, tapi tak ada yang berani bicara. Mereka bisa merasakan luapan emosi Bella, marah dan sedih sekaligus.
“Aku sudah berusaha memaklumi semua,” suara Bella lirih penuh tekanan tapi sedikit bergetar. “Aku selalu berpikir positif soal kalian. Tapi kali ini nggak bisa kak. Aku … aku … aku merasa kalian buang. Ini tuh kaya dikhianati sama saudara sendiri, udah nggak cuma dibohongi aja, tapi kalian usir. Nggak usah kalian perhalus.”
Air mata Bella yang susah payah ia tahan tertumpah beberapa tetes di meja. Gadis itu tak berani menengadahkan kepalanya.
“Tolong ngertiin kondisi kami, Dek,” bela Barra dengan suara lirih.
“Oke, sekarang kasih tahu aku kon-di-si itu biar aku paham,” tangan lentik Bella perlahan mengusap air mata dari wajahnya.
Bagas sedari tadi diam, ia mencoba memilah kata di kepalanya agar tidak membuat saudaranya lebih tersinggung lagi.
“Pekerjaanku membuatku tidak aman, Dek,” kata Bagas mencoba mengeluarkan penjelasan dengan nada rendah demi menegaskan dia sebagai kakak Bella walau terpaut cuma 8 menit.
“Trus?” sahut Bella sinis.
“Lawan klienku sedang melakukan penekanan bahkan ke ranah pribadi. Kalau kamu ada di rumah itu, akan sangat berbahaya untuk keselamatanmu,” terang Bagas yang mencoba menjelaskan situasinya.
“Lalu, situasi berbahaya itu tidak berlaku untuk yang kalian dekati?” suara Bella terdengar tenang tapi terasa sangat tajam.
“Situasinya baru-baru ini banget memburuk, dek,” jawab Bagas cepat. “Mereka datang dengan kekerasan di rumah. Sekarang nggak ada orang lain selain kami yang menghuni di sana, karena setidak aman itu.”
“Menarik. Harusnya ini bisa langsung disampaikan ke ayah, kan?” ucap Bella sambil menyandarkan punggung ke kursi.
“Jangan. Jangan libatkan ayah dulu, please dek. Aku nggak mau dia ikut campur soal kerjaanku. Makannya kami mohon pengertianmu,” pinta Bagas.
“Bicara kalian seolah aku tuh nggak pernah pengertian ke kalian ya. Itu sakit banget lho, kak,” tutur Bella lirih diiringi air matanya yang jatuh begitu saja. “Aku, merasa kalian singkirkan terang-terangan.”
“Maafkan kakak, membuat kamu harus di situasi ini. Tapi sungguh situasinya bahaya, kami nggak mau kamu terluka.” bujuk Barra.
Kedua tangan menutup erat wajah Bella. Perlahan ia mengatur napasnya.
“Terserahlah,” ujar Bella putus asa. “Kalau kalian nggak mau aku di sana, aku akan turuti itu. Kalau kalian tidak mau ayah tahu, aku akan turuti itu. Lakukan yang mau kalian lakukan. Dan jangan hubungi aku lagi.”
Bella menyambar tas yang teronggok di kursi lalu berdiri. “Tahu nggak kak, aku benci fakta aku masih sayang kalian,” tutur Bella mengakhiri obrolan dan berlalu begitu saja. Meninggalkan Bagas dan Barra dalam rasa bersalah.
Bella memilih pulang dengan berjalan kaki walau sedang gerimis. Ia berharap titik hujan bisa meluluhkan rasa sakit di d**a.