“Hai ganteng,” sapa Dian penuh senyum. Tangannya lembut membelai bahu Gavin.
Gavin yang tadi sedang santai bercengkrama seketika membeku. Apalagi wanita yang membawa gelas minuman alkohol itu langsung merangsek duduk di sebelahnya.
“Siapa ya?” tanya Gavin. Pria itu tidak menyembunyikan air muka kaget serta gelagat tidak nyaman kepada Dian.
Harga diri Dian sedikit tersundul karena merasa tidak dihargai oleh pria yang bukan seleranya itu. Padahal, dia sudah khusus berdandan semenarik mungkin dan memilih dengan hati-hati baju yang dia pakai demi bertemu Gavin.
“Dian. Kamu selalu lupa dengan aku, deh. Kenapa? Aku kurang berkesan buat kamu selama ini, ya?” ucap Dian dengan gaya centil yang selalu berhasil menggoda pria manapun.
Suasana pertemuan penting untuk Gavin dan Ryan tadinya berlangsung cair dan akrab, langsung berubah kaku. Kehadiran Dian tanpa diundang benar-benar merusak suasana. Bahkan pandangan orang langsung tertuju pada wanita yang mengenakan pakaian mini itu.
“Itu siapa?” bisik Leon, mitra kerja Steve yang hari ini dikenalkan kepada Gavin dan Ryan.
“Fans fanatik-nya Gavin,” jawab Steve cepat. “Sorry, bikin nggak nyaman.” tambah pria itu yang merasa berat dengan situasi ini.
“Oh, okay. Tapi kayaknya Gavin yang nggak nyaman,” balas Leon yang khawatir melihat raut wajah Gavin.
“Tapi kita siap-siap cabut saja biar aman gimana?” celetuk Ryan.
“Setuju sih,” sahut Leon.
“Siapapun Anda, sepertinya kami tidak mengundang Anda datang dan bergabung di sini. Boleh sebaiknya Anda pergi,” kata Gavin berusaha meminta wanita itu untuk pergi.
“Kenapa?” goda Dian manja. “Apa yang salah denganku ada di sini? Hmm? Kenapa kamu selalu menolak bertemu denganku?” Dian lalu mendekatkan tubuh dan wajahnya ke arah Gavin.
Tapi, gerakan tiba-tiba Dian langsung memetik reflek Gavin. Wajah wanita itu langsung sepenuhnya tertutup tangan kiri Gavin dan tanpa aba-aba didorong menjauh.
Wanita itu punya kebanggaan terhadap paras cantiknya. Tak ada yang boleh macam-macam dengan riasannya, kecuali Falco. Sontak saja perlakukan Gavin tak menghargai riasan paripurnanya membuat Dian tersinggung.
“Gak sopan banget! Kamu pikir ini sikap yang baik dan sopan?” bentak Dian. Wanita itu langsung melepaskan cengkraman tangan Gavin dari wajahnya.
“Anda yang lebih dulu tidak sopan dengan tiba-tiba dayang ke sini tanpa di undang. Silahkan pergi,” ucap Gavin agak kesal. Pria itu masih menahan diri tidak mengamuk di depan Leon.
“Eh, jangan sombong deh! Aku datang kesini baik-baik lho,” sergah Dian. “Aku gak akan pergi!”
“Elo pergi aja dari sini, Vin. Nggak enak kalo diperpanjang,” Ryan berbisik kepada Gavin.
Ryan memberi kode mata kepada Steve yang langsung disetujui. Gavin membaca situasi dan sepertinya memang tidak baik jika ia lebih lama di sini. Karena ini menyangkut kenyamanan rekan bisnis barunya, Leon.
“Oke, silahkan berada di sini sepuas Anda,” Gavin segera berdiri dan berjalan pergi meninggalkan Dian dan teman-temannya.
Dian yang sudah kesal hendak berdiri mengejar Gavin, tetapi tubuhnya tertahan tangan Ryan. Sementara Steve dan Leon menyusul pergi, kini tinggal Dian dengan Ryan yang beradu ketegangan.
“Cukup. Anda bilang tidak mau pergi. Jadi tetap di sini dan nikmati sajian di sini. Gratis!” tegur Ryan seraya menekan bahu Dian demi menahan pergerakan wanita ini.
“Kamu pergi saja dulu, nanti kita hubungi lagi untuk pertemuan lain waktu. Sepertinya wanita itu benar-benar gila,” ucap Steve yang menyusul mengantarkan Gavin ke depan.
“Maaf kalau bikin kurang nyaman, saya cabut dulu ya,” kata Gavin.
“Buruan, kayaknya dia bisa ngejar. Kami baik-baik saja bro,” kata Leon yang menoleh ke arah Ryan. Pria itu tampak kesusahan menahan wanita berbaju mini tadi untuk tidak bergerak.
Dian tidak tinggal diam, ia keluarkan kemampuan meloloskan diri yang sudah sering dia latih saat bersama Falco. Dan ternyata sangat berguna saat seperti ini. Sedikit tambahan cengkraman balik dengan kuku tajamnya berhasil melemahkan cengkraman pria Ryan. Tak buang waktu ia berdiri dan mengejar Gavin dengan hak tingginya.
“Sial!” umpat Dian saat sadar langkah kakinya terlambat.
Untung ekor matanya masih menangkap mobil mana yang dipakai Gavin pergi dari cafe ini. Wanita itu sudah kesetanan, ia tancap gas menerobos gerimis dan halangan tukang parkir yang mendekati mobil kuningnya.
Fokusnya tertuju mengejar mobil Gavin yang sudah keluar dari area cafe. Dian ingat benar kata Falco untuk ganggu maksimal bahkan sampai cedera. Ia akan mengabulkan itu dan pria itu pantas mendapatkannya.
“Cowok b******k! Beraninya nyentuh muka gue!” umpat Dian lagi sembari menekan gas.
Di dalam mobil SUV itu Gavin sadar benar saat ada mobil kuning dengan kecepatan tinggi mengejar. Kecepatan mobil kecil itu tak bisa diremehkan. Secepat itu sudah berada di sampingnya dan menempel di sisi kanan dengan kasar.
Mau tak mau Gavin membanting mobil ke kiri sembari menginjak rem. Gavin baru sadar dirinya masuk ke bahu jalan, bahkan sekilas tadi ia melihat sesosok manusia sedang berada di sana kini lenyap.
Mobil Gavin mengalami kerusakan karena menabrak pot permanen. Ditambah dengan ditabrak mobil kuning dari sisi kanan. Tapi lebih dari itu, Gavin paling khawatir dengan ingatannya, jelas sekali tadi ada orang.
Orang-orang di jalanan yang menyaksikan aksi ugal-ugalan dari mobil kuning itu segera berlari mendekat sembari berterik. Ikut memeriahkan pula beberapa pengendara motor yang menepi. Perhatian mereka tertuju pada arah depan mobil Gavin.
“Hei ada korban ketabrak! Keluar! Ada korban!” teriak salah satu pengendara yang menepi.
Tangan Dian gemetar, ia mendengar teriakan orang-orang itu. Dirinya yang tadi emosi kepada Gavin kini dihantui rasa takut diamuk massa. Tanpa pikir panjang, ia langsung memundurkan mobil dan membanting setir ke kanan untuk segera melarikan diri.
Di belakang mobil Ryan mendekat dan hampir tertabrak city car kuning karena manuver mendadak tadi. Sedikit panik, Ryan turun dan mendekati kendaraan Gavin yang tersangkut di trotoar.
Gavin juga bergegas keluar dari kendaraan. Tubuhnya masih terguncang karena tabrakan; mobil kuning yang melarikan diri; ditambah teriakan para saksi mata yang hampir keserempet mobil kuning membuat pikirannya kacau.
“Mana Pak korbannya?” tanya Gavin dengan rasa khawatir. Tangannya berusaha menutupi kepala dari tetesan air hujan.
“Itu pak itu!” kata saksi lain yang menunjuk ke depan mobil Gavin.
Gavin mengikuti petunjuk saksi di jalan dan mendapati sosok wanita yang meringkuk kesakitan di atas trotoar. Walau kecepatan mobilnya tadi tidak kencang tapi tetap membuat korban itu tergeletak di tanah.
“Sepertinya bocor itu, Pak. Mana mobil tadi malah melarikan diri,” sambung saksi yang juga tidak berani mendekat.
Jantung Gavin terasa lepas dari tempatnya, matanya pun terbelalak ketika melihat sosok yang terkapar di trotoar itu. Si korban berusaha bergerak duduk, tapi ia terlalu lemah untuk bergerak.
Gavin berjongkok karena kakinya terasa saking lemasnya melihat Bella jadi korban. Apalagi saat melihat gadis itu bersimbah darah.
“Ada korban?” suara Ryan yang muncul di belakang Gavin langsung menyadarkan kekalutan pria itu.
“Gue pinjem mobil lo dulu, ya. Gue antar dia ke Rumah Sakit, tolong bukain pintu belakang,” ucap Gavin dengan wajah khawatir yang membuat Ryan tak bisa protes.
“Oke, gue beresin yang di sini,” sahut Ryan yang sigap berlari lalu membuka pintu mobilnya.
Segera Gavin angkat tubuh Bella untuk masuk ke kursi penumpang belakang. “Rebahan saja, akan kuantar ke Rumah Sakit,” kata Gavin setelah meletakkan Bella yang terus memegangi kepalanya.